Kenapa Aku Kesulitan Ngerjain Skripsi?

9/17/2020 , 0 Comments

Sampai detik ini, aku belum berhasil ngerjain skripsi dengan lancar. Padahal, awalnya aku menargetkan buat bisa kelar ngerjain skripsi Juli 2020, lalu bulan Agustusnya wisuda. Walhasil, pertanyaan "kenapa aku kesulitan ngerjain skripsi?" terus terngiang-ngiang di kepala.


Tentu, pandemi berpengaruh. Tapi nggak bisa selamanya menyalahkan pandemi. Toh, banyak teman-teman di luar sana juga berhasil ngerjain skripsi sampai selesai meski dalam keadaan pandemi. Karenanya aku menyadari bahwa pandemi sebatas jadi faktor yang menambah buruk urusan perskripsian, tapi bukan di situ inti masalahnya.

Setelah bertanya-tanya ke diriku sendiri, akhirnya aku bisa menemukan jawaban. Apa yang terjadi sampai aku kesulitan ngerjain skripsi.

Skripsi Nggak Ada Deadline

Skripsi beda dengan tugas kuliah biasa. Kemungkinan dimarahi dosen sangat minim (kecuali beberapa dosen yang terkenal ketat), nggak ada ancaman dilarang masuk kelas, nggak ada asistensi wajib, dan yang pasti nggak ada deadline. Yang menentukan deadline ya si mahasiswa sendiri.

Deadline memang nggak mesti dibutuhkan, tapi bagi banyak orang, deadline sebenarnya memotivasi. Tapi, sekali lagi skripsi beda dengan tugas kuliah biasa. Ketiadaan deadline ini menjadikan orang-orang yang menyepelekan dan terjebak dalam zona nyaman (sangat mungkin aku termasuk di antara keduanya) nggak punya motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi. Apalagi dosen pembimbingku adalah tipe dosen yang membebaskan mahasiswa bimbingannya menentukan roadmap skripsinya.

Menguji Kemampuan Individu

Dahulu, semasa kuliah teori banyak tugas yang diberikan merupakan tugas kelompok. Kuliah Kerja Lapangan pun menggunakan format kelompok. Bodohnya, aku nggak pernah mengambil tanggungjawab besar dalam tugas-tugas kuliah itu. Kalaupun kebetulan ditugaskan menjadi ketua kelompok, aku nggak pernah melakukan dengan segenap hati dan pikiran, pokoknya sebatas tugas selesai dan nilai cukup baik. Nggak pernah mencari kesempurnaan nilai dan kepuasan batin.

Setelah merasakan dunia perskripsian, baru deh aku sadar. Bahwa ambis dalam kadar tertentu itu ternyata dibutuhkan, malah baik buat kita. Karena hal itu melatih diri kita secara individu. Saat pengerjaan skripsi, meskipun kerap kali dibantu teman, eksekusinya tetap bersifat individual. Di situlah aku merasa kesulitan.

Menguji Konsistensi

Skripsi bukan seperti tugas yang bisa dibabat dengan 3 jam fokus mengetik. Skripsi juga bukan laporan praktikum yang bisa digarap dengan begadang semalaman. Dengan kata lain, skripsi adalah barang yang beda jauh dengan pengalaman penugasan selama kuliah.

Ngerjain skripsi membutuhkan konsistensi. Merangkai satu demi satu proses dari awal sampai akhir. Ketika masuk bagian olah data lebih rumit lagi, mahasiswa harus mengurai kerumitan satu per satu, seringkali nggak bisa selesai dikerjakan dalam hitungan hari. Belum cukup sampai di situ, setiap tahap perskripsian mengharuskan adanya revisi.

Di sinilah konsistensiku soal skripsi terbukti jauh dari kata baik. Aku sejak kuliah teori terbiasa nyambi-nyambi urusan kuliah dan dunia luar kuliah, karenanya waktuku untuk kuliah nggak tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Parahnya, saat menggarap skripsi, nggak bisa disamakan dengan kuliah. Skripsi menuntut waktu luang yang banyak sehingga konsistensi pengerjaan bisa terjaga, sepertinya hal itu bisa terjadi kalau aku meluangkan waktu satu-dua pekan penuh. Khusus untuk menggarap skripsi. Tanpa diganggu urusan-urusan non-akademik.

Nah, ini yang belum pernah berhasil aku lakukan.



Betul, aku belum bisa mengerjakan skripsi dengan baik. Tapi sekurang-kurangnya pertanyaan seperti aku ungkap di awal sudah bisa dijawab. Dengan demikian, aku percaya sudah mencapai satu langkah yang baik meskipun kecil banget.

Bagi yang sudah lulus, terlebih dengan tantangan kala pandemi, respect dariku buat kalian. Selamat menempuh babak baru kehidupan. Bagi yang masih berjuang semoga selalu lancar dan semangat, nggak peduli seberapapun kesulitan yang kamu hadapi. Buat yang belum bertemu dengan skripsi, semoga cerita singkat ini bisa jadi pelajaran, ya!

Dan buat diriku sendiri, setelah pertanyaan ini terjawab, harus segera melangkah biar skripsi bisa selesai. Semoga terjawabnya pertanyaan ini jadi bekal buat langkah selanjutnya.

0 komentar: