Lebaran yang Aneh


Masih dengan baju baru, sih. Tapi banyak yang berubah dan jadinya berasa aneh. Kaya nggak lebaran gitu. THR juga makin anjlok, tapi ya ini udah beberapa tahun gitu kok. Jadilah tulisan ini bukan sekadar tentang THR.


Aku ingat betul beberapa tahun belakangan ketika lebaran selalu jadi momen makan sepuasnya. Mulai dari sarapan di rumah dengan porsi yang banyak, dilanjut ditawari makan di rumah tetangga. Apalagi kalau ada yang nawari pempek, wah sikat deh sikaat. Kemudian ditambah dengan silaturahim ke rumah teman-teman ibu dan bapak. Udah nggak tau lagi deh gimana kenyangnya.

Belum lagi siangnya ke kampungnya bapak. H+1 ke kampungnya ibu. Keduanya penuh dengan makanan-makanan enak yang nggak pernah aku tinggalkan. Tapi lebaran kali ini beda.

Makanan-makanan enak tetap ada. Tapi nggak ada lagi aku yang makan sepuasnya. Yes, kalem betul pokoknya di lebaran kali ini, sarapannya sedikit, apalagi ketika silaturahim. Secukupnya banget. Paling-paling makan kacang mete di salah satu rumah tujuan silaturahim yang tetap banyak, hehehe

Ya gimana ya, badan makin gemuk dan terus mendekati gendut. Bukan masalah penampilan sih, tapi persoalan sehat yang harus diseriusin. Tambah sadar diri lagi begitu kabar sakit diabetes, darah tinggi, jantung, asam urat, sampai stroke makin akrab di telinga. Jadilah makan sedikit-sedikit, nggak ada lagi ceritanya lebaran sampai melampaui kenyang

Selain makanan, lebaran kali ini juga aku nggak tau kenapa gitu jadi kurang menikmati. Sampe tulisan ini dibuat, which is H+5 Idulfitri, aku masih sangat sedikit mengirimkan ucapan-ucapan selamat lebaran. Mungkin banyaknya di grup dan membalas ucapan dari orang lain, tapi ucapan yang pure aku bikin mungkin ke orang-orang tertentu saja. Bisa dihitung dengan jari.

Itupun kebanyakan tanpa pantun dan kalimat indah. Tanpa "air tak selalu jernih" juga tanpa "ketika mulut tak mampu berucap, ketika tangan tak mampu berjabat erat". Mungkin gabungan dari jenuh, malas buka hp dan WA, juga makin mikir buat apa kiriman-kiriman begituan kalo sebatas formalitas yakan. Jadi, memang buat yang benar-benar berinteraksi saja.

Oiya, makin sedikit anak-anak yang main mercon di sekitar rumahku. Bagus juga karena kebiasaan bakar duit menghilang. Tapi yaa, tetap aja jadi kurang rame gitu. Kurang lengkap tanpa omelan ibu yang komplain ketika suara mercon sangat memekakkan telinga hehehehe...


Satu lagi yang berubah, yang ini karena usia. Mulai dari anak-anak bapak-ibu yang sekarang sudah makin besar. Nahwan, anak paling kecil pun sekarang sudah mau kelas 8 SMP. Dia yang biasanya paling manja dan main doang kerjaannya, sekarang mau-nggak mau ikut bantuin kerjaan rumah. Dan ikut diomelin ibu juga kalo pas lagi males-malesan hahahaha (ini bagian yang paling aku senang :v).

Aku? Lebaran ini jadi supir full-time. Selama mudik jauh lebih banyak porsiku yang menyetir mobil ketimbang bapak. Mulai berbagi peran juga, biasanya bergantung bapak-ibu sekarang bisa punya keputusan sendiri, baru kemarin anak-anak berlima main bareng tanpa bapak dan ibu.

Selain itu, bapak dan ibu juga mulai dituakan di lingkungan rumah. Dulu biasanya bertandang ke tetangga yang lebih dituakan, sekarang mulai banyak dikunjungi. Tahun depan sepertinya bakal total berganti, ibu dan bapak di rumah dan anak-anak saja yang keliling bersilaturahim dengan tetangga.

Secara pribadi, aku juga menilai lebaran ini ngga sebahagia biasanya, deh. Ada perasaan campur-aduk di sini. Lebaran-nya, sih, tetap jadi momen bahagia banget. Tapi kemudian beberapa hari sebelum lebaran ada tetangga meninggal. Ada salah satu pakdhe yang sakit jantung dan jadi nggak sebugar biasanya. Juga kebayang, aku memang bisa berkumpul dengan keluarga, tapi bagaimana dengan orang lain yang nggak bisa berkumpul bersama keluarga di momen sebahagia ini?


-----
Lebaran ini terasa beda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya. Aneh jadinya. Atau mungkin, sekadar jadi standar baru buat lebaran-lebaran tahun selanjutnya. Masa transisi dari suasana lebaran yang bakal berubah lebih jauh lagi.

Ada yang Salah dengan Ramadan Kita



Kita sudah paham semua, bahwa Ramadan ditujukan untuk meningkatkan ketakwaan. Kita diarahkan untuk lebih rajin beribadah, terutama puasa Ramadan. Juga membiasakan amalan sunnah dan amal saleh. Semisal tarawih, membaca kitab suci Alquran, sedekah, sampai ragam amal sosial.

Nah, terkait Ramadan, beberapa tahun terakhir ini aku selalu memperhatikan. Di bulan Ramadan, ada budaya yang terus tumbuh di Indonesia. Ragam budaya ini kalau dipikir-pikir nggak semestinya ada di bulan Ramadan.

Contohnya, di awal sampai tengah Ramadan kita disibukkan dengan buka bersama. Nggak ada yang salah, sih, dengan buber. Tapi kan ya jadi masalah ketika kita buber (yang hukumnya mubah) terus malah lupa sama ibadah yang lebih utama, seperti salat tarawih atau malah salat maghrib dan isya’. Duh. Padahal kita bisa ketemu sampai 10 buber di setiap Ramadan, kan? Atau malah lebih? Hehehe

Berlanjut ke akhir akhir Ramadan, yang ramai adalah mall, pasar, dan pusat perbelanjaan. Karena kita terbiasa menganggap Idulfitri sebagai hari raya paling bergengsi di dalam Islam. Kita terbiasa untuk lebaran dengan pakaian terbaik, kalau baru lebih afdhal. Juga perlu masak besar yang paling enak. Kalau bisa Idulfitri ini jadi momen kita merasakan makanan paling enak dalam setahun. Padahal nggak gitu juga lho.

Esensi dari Idulfitri ya justru di Ramadan itu. Kalau kita nggak menjalankan Ramadan dengan baik, ya bisa dibilang percuma Idulfitri-nya. Idulfitri kan sunnah, sedangkan puasa Ramadan itu wajib. Idulfitri menurutku sekadar simbol, bahwa kita sudah beribadah, berbuat kebaikan, sehingga melepaskan diri dari dosa selama Ramadan.

Tapi, ya, pada akhirnya nggak ada salahnya belanja ke mall dan menyiapkan yang terbaik untuk Idulfitri. Yang jadi masalah itu kalau kemudian menjadikan nilai-nilai Ramadan kita terganggu. Masjid makin sepi, lupa tarawih, pokoknya kualitas ketakwaan bukannya naik tapi malah turun.

Yang paling parah nih, inti dari bulan Ramadan itu kan puasa wajib 30 hari. Melatih kita untuk memahami pentingnya merasa lapar, pentingnya berempati untuk orang-orang yang kelaparan, juga pentingnya bertindak sederhana. Bukan malah puasa di siang hari tapi di malam hari sampai fajar melampiaskan keinginan makan tanpa terkendali. Sedihnya lagi, ini, nih yang banyak terjadi di sekitar kita.

Nggak heran, banyak dari kita yang saat Ramadan puasa sebulan penuh. Tapi setelah lebaran malah gendutan. Nah, lo.

**
Yap, mungkin ada yang salah dengan Ramadan kita. Tapi jangan kuatir, seperti halnya Ramadan yang bisa jadi pelajaran untuk bulan-bulan lainnya, kita juga bisa menjadikan bulan-bulan setelah Ramadan jadi pelajaran. Untuk menghadapi Ramadan tahun depan.

Yuk, sama-sama belajar dari Ramadan kita :)



---
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Milenialis.id pada 5 Juni 2019. Telah diolah dengan beberapa penyuntingan.

Satu Bulan, Tiga Kali Kena Reschedule Pesawat

Maret-April ini cukup spesial. Dalam rentang waktu ini aku dapat rentetan kesempatan naik pesawat. Eh, maksudnya.... naik pesawat, sih, biasa-biasa aja. Jadi spesial karena kesempatan ini adalah kesempatan pertama setelah setahun nggak naik pesawat. Setelah diingat-ingat lagi, terakhir aku naik pesawat sekitar setahun lalu ketika mau menuju Kalimantan Selatan untuk pertama kalinya.

Nah, di kesempatan kali ini jadi panjang cerita. Karena dalam sebulan mengalami tiga kali reschedule. Bikin mumet, tapi akhirnya bisa dilalui dengan gronjal-gronjal hehehe... Berikut ceritanya


Pertama

Ini sepaket dengan perjalanan ke Palembang bersama rombongan PW IPM DIY untuk ikut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Palembang. Perjalanan berangkatnya lancar, nggak ada halangan berarti. Sampai di Palembang juga feels good, menginap di Wisma Atlet yang mungkin dulu atlet keren Asia dari berbagai cabor nginap di sana. Pertama kalinya ke Palembang pula.

Tapi ceritanya panjang di luar itu semua. Setelah Rakernas aku nggak ikut rombongan balik ke DIY, tapi mampir ke Lampung dulu. Iyalah, sempat ke Palembang juga harus disempatkan mampir Lampung, takut durhaka aku. Ke Lampung naik kereta, rencana dilanjut ke Jogja dari Lampung naik pesawat tanggal 1 April sore. Sriwijaya Air direct flight. Nanggung karena tanggal 2-nya ada jadwal UAS, walaupun di tanggal 3 sebenarnya libur nasional.

Ternyata, dapat kabar di tanggal 31 Maret bahwa penerbangan direshedule ke 2 April, dong. Seumur-umur baru kali ini ngerasain penerbangan diubah jadwalnya, dengan momen yang sempit waktunya. Panik seketika, deh. FYI, penerbangan Jogja-Lampung nggak sesederhana yang dibayangkan. Kalau Jakarta-Jogja atau Lampung-Jakarta gitu masih mending, lah ini Lampung-Jogja.

Tol Trans Sumatra, dekat Bakauheni

Stunning view, executive seaport di kejauhan.


Setelah pertimbangan yang memusingkan, akhirnya diputuskan aku ambil flight tanggal 1 malam dari Jakarta. Dengan jalan menuju Jakarta yang rumit. Ambil oleh-oleh dulu, diantar bapak pake mobil ke Pelabuhan Bakauheni, terus naik kapal Bakauheni-Merak, lanjut jalan ke Damri Bandara dari Merak ke Bandara Soekarno-Hatta, baru lanjut pesawat Air Asia malam itu Jakarta-Jogja.

Kurang-lebih perjalanan menghabiskan waktu 13 jam. Cukup mulus, sih untuk golongan pertama kali merasakan reschedule. Tapi efeknya tuh, lho, badan ngedrop besoknya. Seminggu lebih kemudian baru pulih seperti sedia kala.


Kedua

Ada kesempatan kedua buat balik Lampung di bulan April ini. Pas di momen coblosan untuk Pemilu 17 April. Tapi nggak cuma itu, sih. Kebetulan pas di pekan itu liburnya banyak banget. Rabu dan Jumat libur nasional, alhasil aku cuma masuk Senin dan mengorbankan hari kuliah Selasa dan Kamis saja. Jadi lebih harus banget pulang karena ada titah dari bapak; ngajari bapak Microsoft Office Excel.

Taksaka, dulu cuma dengar namanya.

Jam 5 pagi sudah di Bandara Soetta.

Aku berangkat rencananya dengan maskapai Sriwijaya Air (lagi). Direct. Kemaren becandaan bapak jadwalku direschedule karena harganya murah di saat tiket lagi mahal-mahalnya. Nah untuk edisi kali ini harganya normal, tergolong mahal. Aku husnudzon banget dan lebih tenang, deh.

Tapi ya nyatanya direschedule lagi-_-
Akhirnya terpaksa mengundur waktu kepulangan karena nggak ada tiket yang lebih baik di hari itu juga. Berangkat naik kereta malem YK-Gambir, sampai Jakarta dini hari. Lanjut Damri bandara dan sampai di bandara pas jam 5. Bisa istirahat dulu, salat subuh dilanjut nunggu pesawat. Flight dengan Sriwijaya Air (tanpa reschedule lagi) jam 8 dan jam 9 sampai di Lampung.

Satu koridor di salah satu gate Bandara Soetta.

Sampai di Lampung untuk coblosan, liburan, dan nemenin bapak belajar Excel.

Iya, emang naik kereta eksekutif dan nggaya banget buat sekelas aku. Tapi ya gimana, daripada ngedrop mending mengorbankan 200ribu deh hehe. Walaupun hitungannya mahal, tapi masih lebih hemat daripada (seandainya) tiket pesawat nggak direschedule. Lumayan, kan.


Ketiga

Akutu sudah lelah dengan reschedule. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kedua flight yang reschedule adalah Sriwijaya Air direct flight, Jogja-Lampung atau sebaliknya. Kayanya emang lagi low-season gitu deh, ditambah harga yang nggak ramah bikin penumpang tambah sedikit. Jadi, kali ini aku coba buat nggak direct flight. Alasan aja, padahal mah emang budget terbatas hehe.

Pesan tiket transit-flight Lion Air tanggal 20 sore, Lampung-Jakarta-Jogja. Harga tinggi, maskapai bukan Sriwijaya Air. Aman deh, aman. Sudah tenang bisa dapat ending liburan yang cukup oke, bakti ke bapak dapet, bisa coblosan, dan nyambi liburan. Kurang apa lagi coba?

Kurang beruntung, deh, kayanya-_-
Tanggal 19 siang dikabari bahwa pesawat direschedule. Digeser jadi pagi banget jam 6.30. Sebel lagi, deh. Tapi yaudahlahya, nggak bisa diapa-apain juga. Setelah nelpon CS, dapat solusi untuk juga memajukan flight Jakarta-Jogja, dapat. Jadi Lion Air Lampung-Jakarta jam 6.30 dilanjut Batik Air Jakarta-Jogja jam 12.30.

Perjalanan dibuka dengan hujan
Dilanjutkan sunrise yang keren pol.
 
Karena perubahan jadwal kali ini, beberapa rencana harus batal. Persiapan juga jadi buru-buru, untungnya ada mesin cuci dan kipas angin + hanger. Cucian kering dalam hitungan jam tanpa panas matahari, deh hehehe...

Menunggu prameks di Maguwo.

Sisanya, perjalanan lebih lancar daripada dua kesempatan sebelumnya. Merasakan maskapai Batik Air untuk pertama kali juga, lumayan sepadan laah ganti dari perubahan jadwalnya.


Closing

Pada akhirnya, segala kerumitan ini bukan dalam rangka penghakiman buat maskapai. Namanya pesawat terbang ya jadwalnya emang nggak sepasti bis apalagi kereta api. Banyak variabel yang menentukan penerbangan pesawat bisa terlaksana dengan tepat sesuai rencana atau enggak.

Selain itu, pengalaman seunik ini sangat melatih kesigapan. Bahkan, dari sini aku malah dapat pengalaman menjajal beragam moda transportasi. Damri bandara, kereta eksekutif YK-Gambir, skytrain, prameks Maguwo-YK, sampai naik kapal laut sebagai penumpang pejalan kaki, bahkan juga nyobain tol baru.

Jadilah, kerumitan ini membuat April 2019 nggak sekedar rumit, tapi juga berkesan. Sangat berkesan.

7 Hari Mengunjungi Malika (2-habis)


Hutan di pedalaman Banyuwangi
 
Paruh kedua perjalanan berlajut. Agak mumet sebenarnya di perjalanan ini, karena dengan objectives yang banyak, kami masih harus mengurus akomodasi sendiri dan dengan anggaran yang nggak banyak-banyak banget. Pemesanan demi pemesanan, perubahan penginapan, sampai perubahan rencana akrab banget dengan kami selama perjalanan ini. Tapi, overall lancar sampai akhir.

Mari menyimak bagian kedua...

Kediri

Menginap di Kediri semalam, setelah dari Trenggalek. Sempat makan di sate Pak Siboen, ditraktir full sama Pak Bas dan Pak Rofi. Kalau nggak ditraktir lumayan tuh, satu orang bisa habis 50-60 ribu. Sesuatu yang sangat nggak efisien mengingat kami satu tim berusaha berhemat.

Nah, memang cuma sebentar seperti di Ponorogo. Tapi juga berkesan dalam perjalanannya yang lewat Pare, Kabupaten Kediri. Yap betul, Kampung Inggris itu, lho. Teringat Pare 8 tahun lalu, ketika aku ke sana. Dulu sempat ada program 20 hari untuk anak-anak sekelas ketika aku MTs di Mu'allimin.

Memori kerjaan sehari-hari yang ngegame online melulu,
sepedaan sampai Stadion Canda Bhirawa (apalagi pas banget kemarin lewat jalan samping stadion),
sampai ketika sepedaku sempat ditabrak motor,
dan ada teman yang jatuh dari atap asrama. Yes, walaupun singkat-sekejap lewat Pare, semua memori teringat kembali gitu..


Nganjuk

Dalam perjalanan ini sebenarnya feelingku tentang petani setempat lebih banyak negatif, seperti yang sudah aku sebut di paruh pertama. Aku pesimis dengan keadaan dan kesejahteraan petani. Nah, di Nganjuk ini aku justru surprised, bertemu dengan keadaan yang berbeda. Gimana enggak, di titik surveyku, petani-petaninya punya lahan minimal 2 hektar, ada yang 4 hektar, bahkan ada juga yang 6 hektar. Yes, sampai dengan 60.000 meter persegi bos.

Keadaannya juga sejahtera (ya iyalah, 20.000-60.000 meter persegi), bertolak belakang dengan keadaan di Trenggalek yang cukup susah atau bahkan sangat susah. Di titik tempatku survey ini nggak ada ceritanya petani rugi, walaupun harga padi naik turun dan harga kedelai hitam cenderung turun, karena mereka punya lahan yang luas ya tetap saja untung besar.


Malang

Di Malang sebenarnya pengen main ke mana-mana, tapi akhirnya waktu di Malang banyak dihabiskan buat transit saja. Sebelum perjalanan panjang ke Banyuwangi.

Ketika di Malang sempat merencakan ketemu beberapa teman, tapi sayangnya harus dibatalkan karena waktu yang mepet banget. Mohon maaf pembatalan ini ya teman-teman, terutama Unun yang aku php sakpole, duh.

Tapi di Malang sempat main sedikit, sih. Ketemu mbak Ayunda di rumahnya, aku baru tahu ternyata mbak Ayunda yang tinggal bareng kakeknya ini menjalankan peran sebagai ibu kos. Kos putra pula. Menang banyak kan dia, hahaha...

Juga dilanjut dengan mampir ke UMM. Ketemu mbak Maharina yang dulu sangat lincah banget geraknya. Sekarang harus pelan-pelan karena sedang mengandung calon keponakan kedua anak-anak Lembaga Media PP IPM :))

Menit-menit sebelum kebodohan yang hqq terjadi

Kebodohanq yang hqq juga terjadi di Malang, nih.
Jadi ceritanya, setelah sampai di Malang malam hari kemudian mikir bahwa pakaianku terbatas. Cara yang baik adalah ngelaundry, tapi kemudian malah pusing nyari tempat laundry. Diputuskanlah mau nyuci di rumahnya mbak Ayunda. Cus berangkat nge-Gojek mepet tengah malam. Sampe di rumahnya mbak Ayunda, baru sadar bahwa baju kotornya ketinggalan dooooooong.

Ember siap, detergen siap, mesin cuci siap, lah yang mau dicuci malah nggak ada -_-

Oh iya, es teler dempo-nya Malang mantap betul! Terkenang sampe sekarang hehe..

Sempat berhenti di titik semacam aliran lahar. Dari Malang pas masuk Lumajang. Menuju Banyuwangi

Banyuwangi

Terima kasih untuk Cak Sobri yang sempat menyempatkan buat menemui ketika rombongan mampir di Jember. Walaupun kami mampir cuma bentar banget di Jember.

Terima kasih untuk perjalanan ini, aku berhasil sampai ke titik terjauhku di Jawa. Dan di tempat yang belum pernah terbayangkan. Pertama, aku sampai ke Genteng, tempatnya keren banget dan lumayan dingin. Ketika bangun pagi terus melihat ke utara, woaah, kerenn banget pemandangannya. Gunung Raung dan gunung-gunung lain di barisannya benar-benar menghipnotis pandangan.

Woaaaaaaaaaah......


Selanjutnya, ke Kecamatan Glenmore buat transit dan short briefing sebelum berangkat ke lokasi survey. Yes, namanya Glenmore, nggak ada Jawa-jawanya. Nama Glenmore konon berasal dari keluarga Skotlandia yang pernah tinggal di sana. Glenmore dan Genteng jadi kecamatan terjauhku di Pulau Jawa sampai titik ini, karena sebelumnya aku pernah ke Kalibaru, sedikit di sebelah baratnya Glenmore dan Genteng.

Kemudian masuk ke bagian yang nggak terbayangkan sebelumnya. Titik penelitianku ternyata 40 km dari Glenmore. Merasuk ke bagian tenggara Banyuwangi. Lebih tepatnya : kecamatan paling timur di Pulau Jawa!
Sampai di samping dan halaman rumah pun ada pohon buah naga

Letaknya persis di sebelah Taman Nasional Alas Purwo --kamu bisa lihat "ekor"nya Jawa di bagian timur, itulah Alas Purwo. Berada di tempat ini, kerasa banget panasnya, selain itu bahasa Osing-nya juga beda dengan bahasa Jawa pada umumnya. Yang nggak kalah menarik, daerah ini ternyata jadi penghasil buah naga, produksinya banyak banget. Kalau ada yang tahu kasus buah naga dibuang-buang ke sungai dan viral di medsos, ya di sekitar lokasi penelitianku inilah tempat kejadiannya. Harga yang anjlok banget jadi penyebabnya. Cuma 1.500 per kg, bayangkan.

Kemudian setelahnya perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pulomerah, refreshing sebentar, ditemani senja yang membantu melepas segala ketegangan. Selanjutnya, kembali ke Glenmore sebelum melakoni perjalanan panjang, balik ke Jogja lagi.

Senja di Pantai Pulomerah


-----
Ada obrolan dengan Pak Wiwid (yang nggak sempat terdokumentasi), alumnus UGM yang jadi pemilik perusahaan sekaligus lakon pemberdayaan petani kedelai hitam di area Banyuwangi. Menarik, membuat fragmen-fragmen yang terpisah selama penelitian bisa menyatu dan jadi pengetahuan baru. Bahwa petani perlu lebih dihargai. Bahwa pemberdayaan petani sudah dan perlu terus dilakukan. Bahwa perjuangan masih jauh dari kata usai.

Kedelai hitam adalah komoditas yang cendeung diterima petani, prosesnya mudah dan hasilnya baik. Juga bebas dari praktik pertengkulakan yang sangat merugikan petani. Semoga skema seperti dalam budidaya kedelai hitam bisa ditiru komoditas pertanian lain.

7 Hari Mengunjungi Malika (1)

Empat pekan lalu, aku tergabung ke sebuah penelitian. Penelitiannya tentang Malika, kedelai hitam yang dirawat pak tani seperti anaknya sendiri. Eh kalimat barusan ini serius, loh, ternyata. Malika adalah varietas kedelai hitam hasil pemuliaan yang dilakukan UGM, jadi programnya PT Unilever. Nah penelitian ini menyentuh peran koperasi/penyalur dan bagaimana keberadaan Malika berpengaruh terhadap petani dan pertanian kedelai hitam.

Ini, Malika
 
Sebelum dimulai, aku menyampaikan terima kasih untuk Pak Abdur Rofi dan Pak Sabastian Saragih dari Circle. Juga Danung, Ira, Elsa, Mbak Rizka, dan Mbak Ayu sebagai partner keren selama sepekan.

Di tengah padatnya jadwal yang nggak sudah-sudah, akhirnya tulisan ini selesai dan aku putuskan memecah jadi dua tulisan. Tapi aku publish hampir bersamaan, sekadar untuk menjaga biar tulisan ini nggak kepanjangan. Cukup sampai sini deh, ya, intronya. Selamat membaca :)


Bantul dan Kulon Progo

Hari pertama dimulai dari Bantul, dilanjutkan ke Kulon Progo. Ragu, sangat ragu ketika memulai wawancara pertama. Benar saja, aku nggak terlalu nyaman di wawancara pertama ini. Banyak salahnya juga, persiapan dan pertanyaan yang aku ajukan ketika briefing ternyata nggak sepenuhnya sama dengan keadaan di lapangan.

Di Kulon Progo bersama Pak Muhajir

Nah, di sinilah aku pertama kali melihat kedelai hitam "Malika". Ternyata beda dengan yang ada di bayanganku. Aku kira bundar-bundar agak besar gitu, tapi ternyata enggak. Ya sama persis dengan kedelai biasa, cuma warnanya hitam.

Hari kedua pindah ke Kulon Progo. Bertemu dengan Pak Muhajir. Status beliau adalah pengepul, semangatnya untuk pengembangan pertanian kedelai hitam begitu kuat. Berkali-kali menyampaikan ke aku untuk menyampaikan kalau bisa ada bantuan bagi petani-petani kedelai hitam. Pak Muhajir juga lah yang mengantar aku untuk wawancara dari rumah ke rumah gitu.


Ponorogo

Menginap di Hotel Amaris, benar-benar cuma semalam karena sehari sebelumnya mendadak harus langsung menuju Trenggalek setelah Selasa sore dari Kulonprogo. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Ponorogo, tinggal di sana nggak sampai sepekan sebelum banjir Ponorogo beberapa waktu lalu.

Walaupun cuma sebentar, ada kesan yang aku ingat lumayan kuat. Nggak tau kenapa di Ponorogo ini (daerah yang aku lewati pastinya) berasa jarang banget ada Alfamart/Indomaret. Oh iya, satu lagi yang teringat, Ketika di Ponorogo menuju Trenggalek itu lewat di kawasan Pondok Modern Gontor 1 gitu. Dulu ketika di Mu'allimin, kami cukup sering mendengar nama Gontor 1 --salah satunya karena sama-sama pondok, sih. Pernah juga baca novelnya Ahmad Fuadi yang menggambarkan pengalamannya saat di Gontor. Tapi baru kali ini sempat lewat. Dan baru, deh, bisa membayangkan


Trenggalek

Kabupatennya Emil Dardak, nih. Itu lho, wakil gubernur Jawa Timur, yang sejak muda pencapaian pribadinya luar biasa. Sama dengan Ponorogo, ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Trenggalek. Di sini, nih, mulai ketemu dengan logat Jawa Timuran yang khas. Jadi tantangan tambahan pokoknya.

Beberapa gazebo idenya ibu-ibu Saraswati. Mau dijadiin destinasi wisata, katanya

Di Trenggalek, aku kebagian survey di wilayah Desa Kampak. Yang menarik di sini adalah, dari beberapa rumah yang aku survey ada yang kepala keluarganya bekerja merantau, ke Kalimantan dan ke Papua. Selain itu juga dapat istilah baru yang jujur membingungkan. Misal ada istilah ukuran tanah 1 ru, 1 ler. Dan sedihnya, aku tanya konversinya ke ukuran meter pada nggak tahu pula, haduuh. Untung tertolong ibu-ibu Saraswati (semacam kelompok pemberdayaan masyarakat dari CSR Unilever). Terjawab sudah, bahwa ukuran 1 ru = sekitar 4m2 dan 1 ler = 125 ru.

di Trenggalek disuguhi makan siang, dong. Agak dipaksa untuk harus makan. Padahal nggak ada kewajiban bagi mereka buat menyedikan konsumsi. Kagum dengan jamuan mereka, deh :)

-----
Perjalanan paruh pertama ini bikin ironi sebenarnya. Beberapa (ini artinya banyak) dari petani yang aku temui sangat nggak berkecukupan dan rendah pendidikannya. Itulah sebab kesejahteraan di keluarga petani adalah barang langka. Padahal, kan, kita bisa hidup karena hasil kerja keras petani. Tapi, nggak cuma hal buruk yang ada; keramahan dan penghormatannya ke tamu tuhlo. Berkesan banget.


Bersambung... klik di --> tulisan kedua

Kita Bisa Apa untuk Keadilan Gender?



Beberapa bulan terakhir ada kabar tentang Agni (nama samaran), mahasiswa UGM yang menjadi penyintas kekerasan seksual. Nah dari situ aku punya pandangan tersendiri buat pelecehan seksual dan keadilan gender. Walaupun aku sendiri bukan pegiat keadilan gender yang bisa memahami secara mendalam, tapi paling enggak aku selalu mengikuti dan aku pikir ini saat yang tepat untuk menyampaikan pendapatku.


Memang Dua Sisi, Tapi...

Menurutku, kasus pelecehan seksual nggak bisa dipungkiri ditentukan oleh keadaan dan/atau perbuatan dari kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Bahwa ketika sudah tercipta kesepahaman untuk saling menjaga dari laki-laki dan perempuan, pasti pelecehan seksual bisa terminimalisasi. Tapi itu hanya penilaianku secara umum. Untuk sekarang perlu sikap yang berbeda.

Harus diakui bahwa Indonesia saat ini adalah negara dengan nilai-nilai patriarki yang sangat kental. Laki-laki dianggap dominan dan semestinya mendominasi, dalam hal positif, netral, maupun negatif. Terserak pendapat di sekitar kita bahwa laki-laki dianggap lebih pas sebagai pemimpin. Laki-laki gajinya lebih tinggi. Yang kerja harusnya laki-laki saja. Yang lebih berani itu laki-laki, kalau nggak berani jangan ngaku sebagai laki-laki. Laki-laki harus lebih punya inisiatif. Sampai kalau kita sebut kata "penjahat", lebih terbayang cenderung ke laki-laki atau perempuan? Aku yakin sebagian besar dari kita menjawab laki-laki.


Karena dominasi laki-laki, seringkali sudut pandang yang dipakai, ya sudut pandang laki-laki. Sehingga ketika ada kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan, selalu perempuan yang disudutkan, karena anggapan yang umum terjadi adalah : wajarlah kalau laki-laki 'nakal'. Dari situ aku beranggapan bahwa selama budaya patriarki masih sangat kental, victim blaming juga masih lestari, kita perlu terus memperjuangkan bahwa ya si laki-laki yang bersalah.

Apalagi kalau sampai keadaan mental penyintas jadi terganggu. Itu kan sudah jadi bukti sahih bahwa penyintas perlu dibela, dilindungi, dipahami keadaannya.


Kesadaran untuk Urusan Gender

Bagaimanapun proses dan hasilnya, setelah kasus Agni kemarin sukses membuat aku berpikir lebih dalam dan lebih jauh untuk keadaan gender di negara kita tercinta. Bahwa urusan gender nggak terbatas di urusan pelecehan seksual. Kita perlu lebih peduli karena keadilan gender masih mahal dan jarang banget tersedia di Indonesia. Sesederhana hubungan dekat laki-laki dan perempuan, hubungan suami-istri, sampai dalam organisasi kita, masih perlu banyak sentuhan keadilan gender. Karena sekarang secara umum yang terjadi ya, laki-laki lebih diutamakan.

Padahal, menurutku perbedaan laki-laki dan perempuan itu ya di urusan fisik saja. Mungkin tersambung ke urusan hormonal dan genetik juga, tapi output yang bisa diberikan dalam kehidupan sehari-hari nggak jauh beda kok. Bahkan dalam banyak hal aku akui perempuan secara umum bisa lebih baik dari laki-laki. Perempuan bisa memimpin, bisa melakukan hal-hal yang identik dengan laki-laki, dengan kualitas yang sama. Pun nggak hanya laki-laki yang bisa jadi jawaban dalam segala urusan di kehidupan, perempuan juga sama krusialnya.

Pendapatku ini aku berikan tanpa mengabaikan aturan-aturan agama, lho, ya.


Untuk Kita, Laki-laki dan Perempuan

Sekarang, tinggal bagaimana laki-laki sebagai "pemegang otoritas" dalam lingkungan kita lebih memberi ruang buat perempuan. Memahami perempuan lebih dalam lagi. Bukan sekadar memahami bagaimana caranya bikin perempuan baper dan tertarik sama kita, tapi ayolah beri ruang untuk perempuan bisa berekspresi dan mencapai potensi tertinggi mereka.

Pahami saat-saat dimana perempuan perlu pendekatan dan proses belajar yang berbeda. Beri ruang untuk memimpin, ajak ngobrol dan pahami dari perspektif laki-laki dan perempuan, beri kesempatan untuk berpendapat dan merealisasikan pendapatnya. Hindari juga kebiasaan-kebiasaan yang melazimkan pelecehan terhadap perempuan. Jangan pernah gunakan kekerasan, baik itu kata-kata, tekanan mental, apalagi sampai fisik.

Sebaliknya, buat perempuan juga begitu. Jangan lagi menganggap bahwa perempuan inferior. Apalagi dengan dalih "perempuan kodratnya memang begitu". No, kodrat perempuan cuma dalam urusan reproduksi dan bentuk fisik, untuk peran dan dan keadaan selain itu, konstruksi sosial dalam lingkungan kita yang menentukan, bukan kodrat. Yang lebih penting, saat dunia mulai mendukung perempuan untuk lebih berdaya, kalian para perempuanlah eksekutornya. Perubahan nggak bisa terjadi kalau perempuan nggak mau memperbaiki keadaannya sendiri.

Kalau sudah sampai di situ, lanjutkan, coba untuk selain menuntut hak yang setara, juga siap saling bantu dengan menanggung kewajiban yang setara. Semua perlu kita lakukan, dalam usaha memanusiakan manusia. Dan laki-laki maupun perempuan adalah sama-sama manusia.



---
Tulisan ini mulai dibuat setelah pengumuman akhir dari kasus Agni dan diselesaikan dua hari setelah Hari Perempuan Internasional 2019.