Terjebak dalam Pandemi

Mengawal Nahwan pulang ke Lampung

Sebelum balik ke Jogja, Bapak bilang, "Aban, kalau kamu ada libur seminggu gitu nggak apa-apa lho pulang ke Lampung."

Lalu aku mengiyakan Bapak. Saat itu baik aku maupun Bapak belum membayangkan bakal jadi apa keadaan 3 pekan kemudian.

Gosip yang Nggak Kenal Tempat

Bagas bersama anak-anak pulau

Gosip kalau dipahami secara polos merupakan pembicaraan buruk tentang orang lain. Gosip berdasarkan klasifikasi ini buruk, bahkan dalam agama tergolong dosa. Tapi, kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, gosip adalah sesuatu yang sangat menguntungkan manusia.

Gosip secara luas adalah bentuk persebaran informasi. Seperti disebutkan oleh Pak Harari dalam buku Sapiens (2014), gosip ini cara komunikasi khas-nya manusia. Hewan-hewan meskipun punya bahasa mereka sendiri, tapi nggak bisa bergosip.

Mereka nggak bisa seperti manusia yang membahas tentang Dian Sastro Wardoyo yang makin tua makin menawan dan bikin ngefans. Juga nggak bisa memperbincangkan Choi Siwon, orang Korea Selatan yang entah gimana caranya makin jago ngetwit dengan bahasa Indonesia.

Untuk memperjelas gambaran dariku tentang gosip, aku punya dua cerita

Pengalamanku

Sebelum cerita bagian ini dimulai, aku sama sekali nggak mempermasalahkan apa yang terjadi. Juga bukan dengan tujuan pamer. Sekadar mengenang aja pokoknya hehehe..

Jadi, dulu waktu aku Aliyah sekolahku, Mu'allimin Jogja itu khusus laki-laki saja. Ada sekolah yang khusus perempuan, sama-sama berasrama, bahkan dianggap saudara kembarnya Mu'allimin. Bagi yang belum tahu, namanya Mu'allimaat.

Nah seperti lazimnya anak SMA/sederajat, pasti banyak lah kisah asmara dan gosip di antara kami. Walaupun siswa di kedua sekolah ini nggak boleh pacaran, bahkan ketemuan aja bisa jadi persoalan, tapi tetap banyak yang saling kenal, kontakan secara intens, bahkan pacaran. Seperti lazimnya cerita anak muda, kalo ada hubungan semacam ini pasti ada gosip yang mengiringi.

Salah satu yang jadi bahasan dalam pergosipan adalah aku. Setidaknya namaku pernah beredar di perbincangan tiga angkatan Mu'allimaat secara umum. Pertama angkatan atasku setahun, aku banyak diperbincangkan karena mbakku, mbak Nadiya, dulu sekolah di sana. Aku selalu jadi bahan gosip, minimal dilaporkan ke mbakku ketika aku lewat di sekitar Mu'allimaat (kawasannya bernama "Suronatan").

Entah bagaimana caranya, pokoknya semisal sore hari aku lewat, malamnya mbakku dapat kabar dari temannya. Kemudian keesokan harinya atau beberapa hari kemudian gantian mbak Nadiya yang bilang ke aku kalau dapat laporan bahwa Naban habis lewat daerah Suronatan. Setelahnya, aku nggak tahu lagi kok bisa terjadi. Hal ini terjadi berulang kali. Belakangan aku baru sadar kalau anak Mu'allimin lewat Suronatan adalah salah satu sumber gosip yang potensial banget.

Dua angkatan sisanya adalah angkatanku dan angkatan bawahku. Kalau yang ini terjadi karena aktivitasku--untuk nggak menyebut dengan "ulahku". Aku banyak diperbincangkan sebagai Nabhan yang ceweknya banyak. (Hahahaha aku mengetik ini sambil senyum-senyum menahan tawa)

Gosip ini benar-benar bikin aku nggak habis pikir. Selalu bertanya-tanya, kok bisa ya? Dari mana mereka berkesimpulan kayagitu? Pasti ada omongan atau kelakuanku yang salah, tapi apa ya? Aku malah bingung sendiri. Boro-boro ceweknya banyak, satu aja nggak genap. Seandainya semua tahu denan mengonfirmasi ke aku cerita yang sebenarnya, mungkin malah kasihan ke aku. Nggak jadi menggosip. Walaupun tetap misuhi aku mungkin hehehe..

Lanjut lagi, nama dan cerita tentangku bisa dengan mudahnya tersebar, sedangkan aku sampai sekarang nggak tahu secara persis bagaimana cerita-cerita itu bisa berhembus orang per orang sampai nggak terhitung lagi siapa saja yang tahu. Bahkan sampai aku lulus, aku bisa mengklaim secara umum anak dari dua angkatan tersebut kalaupun nggak mengenal aku, setidaknya pernah mendengar namaku disebut. Klaim yang sok-sokan tapi sejauh ini begitu kesimpulanku.

Usut punya usut, pada puncaknya, pembicaraan tentang Naban pernah beredar luas. Di mana ada tiga lantai asrama yang cukup besar, salah satu lantainya--iya, di semua kamar--dipenuhi pembicaraan yang menyebut nama "Nabhan". Dari mana aku tahu? Dari salah satu teman di Mu'allimaat yang nggak lama kemudian cerita ke aku.

Info dari temanku ini bisa jadi benar, bisa jadi enggak. Kalaupun nggak benar, ya bisa dihitung sebagai gosip yang aku bahas ini yakaan. Namanya gosip ya begitu, kita sangat mungkin bisa percaya. Tapi bisa jadi benar, mungkin juga salah.

Tadinya aku nggak pernah peduli tentang gosip terkait aku. Tapi kemudian, setahun belakangan baru terasa efeknya. Aku sendiri yang digosipin nggak peduli, tapi orang lain yang mendengar bisa kepikiran banget. Apalagi salah satu yang mendengar itu adalah perempuan-yang-sedang-dekat denganku. Kan jadi..... Oke cukup, lanjut, segmen ini sudah terlalu panjang hehehe..

Gosip di Lokasi KKN

Tadi kan konteksnya kota, dengan ruang yang sempit. Apalagi di asrama dan anak-anaknya mengenal medsos. Memang wajar informasi bisa berpindah dengan cepat. Tapi di lokasi KKN-ku jauh banget dari peradaban, nggak ada sinyal, listrik dari PLN nggak ada dan genset sangat terbatas (klik di sini untuk berkenalan dengan lokasi KKN-ku). Sederhananya terisolasi banget deh. Semestinya bakal jauh beda dengan di kota. Tapi ternyata ya gosip-gosip di pulau gampang tersebar juga.

Suatu saat, di pulau sebelah ada warga yang meninggal. Karena keterbatasan informasi, hanya kerabat dekat yang saat itu melayat. Tetapi ternyata informasi tersebar luas di Poleonro. Dari ujung pulau ke ujung pulau, semua penduduk tau. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda, anak SMP, anak kecil semua tahu.

Kecepatan persebaran informasi ini berarti juga buat kami waktu melaksanakan program. Entah dengan pembicaraan dan gosip apa di antara mereka banyak program kami seperti nonton bareng, lomba-lomba tujuhbelasan, sampai pelatihan memasak plus lombanya jadi rame. Dan ramenya melampaui ekspektasi tuh lo, karena memang seluruh warga pulau tahu informasinya.

Satu lagi yang teringat, suatu saat Ibu Orpah kepala sekolah satu-satunya SD di pulau mengadakan syukuran. Karena cucunya sudah sembuh setelah sepekan sakit dan rewel terus. Bentuk syukurannya adalah makan-makan di Karangan, semacam pulau karang di selatan pulau utama. Ibu Orpah saat itu mengajak kami, anak-anak KKN.

Kami kira, saat itu hanya kami dan keluarga yang diajak. Tapi pagi hari sebelum syukuran digelar kami mencium gelagat ketidakberesan. Anak-anak silih berganti menyebut kalau mau ada syukuran di Karangan. Kami heran dooong.

Benar saja, siang hari yang terjadi saat syukuran digelar adalah warga berbondong-bondong ke Karangan. Mayoritas orang dewasa setengah pulau ikut semua! Kalau anak-anak malah dari ujung ke ujung pulau nggak mau ketinggalan. Ini syukuran balita sembuh setelah sakit doang loh. Bisa jadi ruame banget karena persebaran informasi di sana bukan main cepatnya.

Terbukti kan kalau gosip adalah aktivitas universal manusia. Bahkan sampai ke tempat-tempat yang paling terpencil dan jauh dari teknologi serta peradaban kota.



Kalau diperdalam lagi, gosip adalah cara persebaran informasi. Nah informasinya itu bisa nyata ataupun imajinatif. Bisa benar bisa enggak. Tapi manusia bisa percaya. Misal nih kita ada kertas biasa, dulu nggak ada harganya, tapi digambar sedemikian rupa. Jadi uang. Orang yang percaya uang menyebarkan lewat gosip. Lalu bimsalabim! Orang jadi percaya bahwa kertas-kertas yang semula nggak ada nilainya tersebut punya nilai dan bisa jadi alat tukar.

Sama halnya dengan gosip tadi. Kabarnya bisa jadi benar, bisa juga salah. Tapi manusia bisa percaya. Dan menggerakkan tindakan manusia berdasarkan informasi dari gosip. Kalau mau memahami kerennya gosip lebih jauh lagi, baca buku yang kusebut di awal aja deh! ;)

Menunggu Generasi Berganti, Baru Bisa Membaik


Ceritanya, dua pekan lalu aku harus pulang ke Lampung. Nahwan, si anak bungsu yang masih kelas 2 MTs di Mu'allimin Jogja harus sekolah dari rumah karena pandemi corona. Nggak boleh tinggal di asrama dan benar-benar wajib pulang.

Aku pun dapat tugas mengantar. Memang benar-benar nemenin Nahwan aja, nggak ada niat pulang kampung dan liburan. Akhirnya aku stay sepekan di rumah, sambil memantau keadaan di Jogja. Lumayan lah, bisa tau bapak-ibu lagi membangun rumah di pinggir jalan, ibu udah mulai percaya diri menyetir mobil ke mana-mana, bapak yang baru sembuh, seisi rumah yang kena dampak stay at home karena corona, sampai ada flyover yang baru jadi.

Selain itu, aku juga dapat obrolan lumayan berbobot dari ibu. Sebenarnya celetukan aja sih, tapi lumayan teringat di kepala. Ibu bilang ke aku kira-kira begini, "kayaknya budaya hal di kehidupan orang Indonesia baru bisa membaik di generasimu besok deh." Ada beberapa "budaya" yang dimaksud Ibu dalam celetukan itu

Gender

Paling dekat saat celeteukan Ibu saat itu adalah tentang gender. Ibu membahas bias gender dan perlakuan patriarkis yang khas kita banget. Contohnya aja membatasi anak perempuan buat keluar malam, juga peran-peran lain di kehidupan yang masih laki-laki banget.

Obrolan ini datang nggak lama setelah Ibu sambat kalo ada teman di organisasi, bapak-bapak, bisa dibilang cukup sepuh, melakukan poligami. Ketika dicecar orang-orang beliau bilang bahwa ini takdir. Padahal kan, yang namanya poligami mesti merugikan perempuan banget, juga nggak bisa gitu aja dibilang "takdir".

Selain tentang poligami, keadilan/kesetaraan gender memang saat ini baru masa transisi. Malah kalau generasinya Ibu dulu bisa dibilang masih terbelakang soal keadilan/kesetaraan gender. Contohnya nih, Ibu dan adik-adiknya yang sebagian banyak perempuan itu minimal bertitel sarjana. Dulu, ada perempuan bisa sarjana itu udah wah banget. Satu kampung ada sarjana saja sudah hebat. Dalam satu kecamatan pun belum banyak perempuan yang berpendidikan tinggi.

Nah keadaan saat ini jauh lebih baik. Walaupun masih banyak kekurangan di mana-mana, tapi seiring berjalannya waktu ada harapan untuk budaya-budaya nggak baik terkait gender bisa selesai di generasi kita besok.

Teknologi

Ini nggak kalah asik. Waktu aku pulang sejenak dua pekan lalu, baik Ibu maupun Bapak sedang mencoba cara baru mengajar, dengan belajar dari rumah online.

Pas banget kemarin itu bapak lagi lumayan repot belajar bikin form kuis daring, juga belajar Google Classroom. Kata bapak karena mahasiswanya pusing kalo diminta memakai fasilitas e-Learning yang disediakan kampus. Bapak belajar dari nol banget karena nggak pernah memakai sama sekali sebelumnya. Tuh bagi kalian yang merasa repot kuliah daring, dosen kalian juga berat kok perjuangannya, jadi sama-sama memaklumi lah yaa :))

Urusan teknologi ini juga bikin aku mengingat-ingat masa lalu. Ketika Ibu harus belasan kali, bahkan puluhan kali diajari untuk sekadar membuka file Microsoft Word, menyimpan, dan mencari. Pokoknya yang dasar banget.

Sempat membangunkan malam-malam, ngomel-ngomel ke aku karena ngajarinnya nggak benar dan nggak sabar. Setelah berkali-kali belajr-lupa lagi-belajar lagi-lupa lagi baru deh Ibu bisa.  Itu pun pada saat itu Ibu berhasil belajar karena menggarap tesis. Coba kalau enggak, nggak tahu deh sampai kapan Ibu kesulitan untuk sekadar mengakses Microsoft Word.

Generasi kita besok yang lebih menguasai teknologi diharapkan bisa memanfaatkan lebih jauh. Nggak cuma jadi user--yang generasi Ibuku aja kesusahan banget--melainkan juga bisa jadi kreator teknologi di masa mendatang.

Literasi

Nah yang satu ini berakar dari budaya baca yang minim, tapi juga nggak terbatas dalam bahasan baca-tulis. Budaya literasi yang minim bahkan ada hubungannya sama pandemi. Ibu cerita kalau dulu dapat cerita dari para sesepuh tentang pagebluk, yang sekarang juga lagi ramai dibahas.

Orang-orang dulu, itu pernah digegerkan dengan kejadian yang bikin orang mati tiba-tiba. Istilah saat itu isuk loro, sore mati (pagi sakit, sore mati). Nggak jarang penyakit-penyakit itu dikaitkan dengan hal mistis, sampe jadi kepercayaan yang tersebar lewat jalur getok tular (dari mulut ke mulut). Padahal ya, sebenenarnya mati karena penyakit. Bisa dikaitkan dengan wabah pes, kolera, ataupun flu spanyol yang memang pernah melanda Indonesia. Orang-orang dulu saja yang belum tahu sehingga mengaitkan dengan hal-hal mistis.

Nah, kalau sekarang, yang masih banyak banget tersisa adalah budaya getok tular. Kalau ada informasi gampaang banget tersebar, terkhusus hoax dari grup keluarga besar, kompleks, sampai pengajian/organisasi. Apalagi yang provokatif dan mencengangkan!!!

Literasi untuk menangkal hoax ini sekarang mulai dipahami sih. Ibuku misalnya, sering banget tiba-tiba nge-forward pesan yang dicurigai sebagai hoax untuk menanyakan ke aku tentang kebenarannya. Walaupun lumayan bikin repot, apa yang dilakukan Ibuku ini mending banget. Banyak ibu-bapak-om-tante di luar sana yang nggak bisa dibilangin kalau broadcast-broadcast itu hoax. Malah generasi kita yang memberikan info valid bisa disalah-salahin di grup keluarga.

Ini yang diharapkan seiring berjalannya waktu bisa mendingan. Jalannya lewat meningkatkan budaya baca dan menjurus ke cek fakta. Lagi-lagi generasi kita yang lebih banyak akses ke buku, juga bacaan-bacaan bermutu dan minim propaganda, jadi harapan mengakhiri mudahnya informasi menyesatkan tersebar + meresahkan masyarakat.


Tiga hal di atas jadi harapan Ibu--yang sadar bahwa generasinya minim pemahaman tentang tiga budaya itu--untuk bisa selesai di generasi kita besok. Aku pun mengamini, kita punya harapan. Semoga kita bisa belajar banyak untuk membawa perubahan baik, sekurangnya di tiga budaya yang jadi kegelisahan di atas.

Buat generasiku, generasi kita, yok bisa yok :)

Nabhan Kapan Nikah?

Dan Di Sinilah Aku Sekarang

63 hari lalu, aku meninggalkan Jogja. Menuju Surabaya, kemudian transit di Lombok, menempuh durasi total perjalanan selama 4 hari sebelum sampai di lokasi KKN.

Perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok

Sebenarnya, aku merasa sudah cukup banyak membahas tentang KKN. Kalau tertarik, para pembaca tulisan ini bisa menuju akun Instagramku, menengok highlight story dan menikmati beberapa cerita. Selain itu, versi lengkap dari cerita-cerita tersebut segera aku olah menjadi buku. Selebihnya, di tulisan ini aku ingin bercerita kesan pribadi dari perubahan yang aku rasakan. Sejak sebelum, saat pelaksanaan, dan setelahnya hingga sekarang.


Agenda Tanpa Putus

Sebelum KKN, aku adalah Naban dengan seabrek tanggungan. Belasan urusan dari berbagai sumber berbeda. Kuliah, organisasi kampus, organisasi di luar kampus, sampai tanggungan di tempat tinggalku, Gedung PCM Wirobrajan.

Semua urusan ini kemudian menghasilkan 30-50 pesan dalam ruang obrolan WA per hari. Pagi hari ada 20 obrolan masuk, sampai sore ada terus, malam hari tambah ramai. Baru sepi setelah jam 11 malam. Dan nggak cukup sampai di situ.

Aktivitas harianku di dunia nyata juga selalu penuh. Senin-Jumat hanya diisi sedikit kuliah sebenarnya, namun disertai kegiatan-kegiatan macam rapat, pertemuan, janji, urusan keuangan, ragam perencanaan sampai perjalanan ke luar kota. Ada-ada saja, deh, pokoknya. Menghasilkan agenda yang seakan tanpa putus. Pagi hingga malam, 7 hari dalam sepekan.

Tentunya juga ada urusan pribadi. Pertemanan, keluarga, juga perasaan dan hati. Untuk yang tersebut terakhir, sudah dibangun perlahan sebelum KKN, aku rawat, aku jaga, aku selami baik-baik hingga membentuk kesepahaman yang nggak kalah baik. Kemudian semua harus kutinggalkan. Tentu sembari berharap semoga semua baik-baik saja.


Hidup yang Benar-benar Berbeda

Setelahnya, masa KKN datang. Dalam perjalanan berangkat, aku harus mengabaikan puluhan pesan WA. Menyelesaikan segala urusan sesegera mungkin. Membereskan janji dan persoalan keuangan. Kemudian urusan-urusan yang ada kulimpahkan kepada teman-teman dalam organisasi. Karena lokasi KKN-ku, Desa Poleonro di jantung kepulauan tengah sana tidak ada jaringan seluler.

Ketika di Jogja, bisa dibilang aku selalu aktif, non-stop setiap hari. Berurusan dengan hal-hal dalam lingkup luas, sangat luas hingga sampai skala nasional. Kemudian di lokasi KKN menjadi terfokus dalam urusan-urusan dalam lingkup kecil. Mulai dari briefing tim, merencanakan program, pinjam sepeda motor tetangga, komunikasi dengan Pak Dusun, janjian dengan perangkat desa, membantu pihak-pihak terkait program. Semuanya dilakukan dalam lingkup Pulau Sailus Kecil yang nggak lebih luas dari Kecamatan Kotagede di Kota Yogyakarta.

Pertama kali sampai di Sailus. Sehari sebelum sampai Poleonro


Pokoknya, aku dengan segala sepak-terjang dan keaktifanku hanya berarti di Jogja, atau minimal saat ada jaringan seluler. Di Poleonro sana, aku bukan siapa-siapa. Teman-teman dan warga setempat tentu memandang Naban bukan seperti Naban dalam keseharian di Jogja. Naban ya tentang apa yang terkait dengan program, kerja sama, komunikasi, dan aktivitas selama KKN.

Di sana juga sama sekali nggak ada sinyal. Nggak ada ceritanya obrolan WA, menyukai foto Instagram, berbalas mention di Twitter, atau mengunduh aplikasi di Play Store. Benar-benar hilang kontak. Bukan sekadar nggak ikut acara-acara di Jogja/Jakarta tetapi juga sama sekali nggak tahu apa-apa tentang itu semua. Memang, sesekali bisa ke Sailus untuk mengakses internet, tapi itu cuma sedikit berarti. Terang saja, kesempatan mengakses internet hanya 12 jam dari 1.152 jam waktuku selama kehilangan sinyal.

Urusan pribadi sama parahnya. Keluarga nggak tahu kabarku, aku juga nggak tahu seberapa jauh perkembangan adik-adikku di Jogja. Teman-teman yang biasa berinteraksi juga sama sekali hilang komunikasi.

Bagaimana dengan hati?
Dengan segala keadaan yang mengiringi keberangkatan, dalam urusan ini aku cuma bisa berharap. Menitip salam lewat angin yang berhembus meninggalkan pulau. Berbisik pada surya saat senja. Bertanya-tanya pada purnama. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, tanpa tahu apa yang akan terjadi.


Dan Di Sinilah Aku

Setelah puluhan hari berlalu, aku kembali, dengan kulit makin menghitam. Kenangan selama KKN yang sudah tertinggal jauh di belakang. Baru kemudian sinyal seluler mulai muncul di dekat Calabai, bagian dari Pulau Sumbawa, NTB. Lebih dari 100 obrolan WA yang masuk pada saat itu, dengan total pesan mencapai jumlah 6.000-an. Kemudian komunikasi perlahan-lahan pulih, Aku balas satu per satu, setahap demi setahap. Nggak lupa memastikan nomor hpku masih dalam masa aktif. Perjalanan dilanjutkan, ke Lombok melalui Sumbawa, menyambung ke Surabaya, hingga sampai ke Jogja. Dan kembali ke kehidupan nyata.

Senja di Poleonro

Iya, aku kembali. Tetapi keadaan nggak sesederhana itu. Banyak yang berubah. Jadi berasa nggak sama lagi dengan waktu sebelum berangkat KKN, tuh lho. Nggak sekejap mata bisa kembali seperti semula. Karena memang banyak perjumpaan aku lewati. Banyak pesan di grup maupun obrolan pribadi yang aku lewatkan. Aku juga absen dari rapat dan agenda-agenda besar. Hanya berkutat di Sailus-Poleonro selama 48 hari kehilangan akses internet.

Kuliah juga sama saja. Setelah KKN aku bertemu dengan jadwal kuliah yang sama sekali berbeda. Semester lalu begitu sepi dengan hanya 4 hari kuliah, sementara semester ini jadwal berubah drastis. Kuliahku memakai sistem blok. Masuk full Senin-Jumat dengan Sabtu seringkali diisi dengan survey lapangan. Begitu terus hingga Maret tahun depan.


***

Dan di sinilah aku sekarang. Menghabiskan pagi hingga sore di dalam kelas, larut dalam pengerjaan tugas. Membangun kembali kehidupan nyata, memulihkan kembali relasi yang meredup saat aku menghilang.

Juga memberi waktu bagi hati, untuk berkompromi dengan semesta. Sembari bertanya-tanya, apa yang akan terjadi?

Semoga, semua baik-baik saja. Semoga.

Lebaran yang Aneh


Masih dengan baju baru, sih. Tapi banyak yang berubah dan jadinya berasa aneh. Kaya nggak lebaran gitu. THR juga makin anjlok, tapi ya ini udah beberapa tahun gitu kok. Jadilah tulisan ini bukan sekadar tentang THR.


Aku ingat betul beberapa tahun belakangan ketika lebaran selalu jadi momen makan sepuasnya. Mulai dari sarapan di rumah dengan porsi yang banyak, dilanjut ditawari makan di rumah tetangga. Apalagi kalau ada yang nawari pempek, wah sikat deh sikaat. Kemudian ditambah dengan silaturahim ke rumah teman-teman ibu dan bapak. Udah nggak tau lagi deh gimana kenyangnya.

Belum lagi siangnya ke kampungnya bapak. H+1 ke kampungnya ibu. Keduanya penuh dengan makanan-makanan enak yang nggak pernah aku tinggalkan. Tapi lebaran kali ini beda.

Makanan-makanan enak tetap ada. Tapi nggak ada lagi aku yang makan sepuasnya. Yes, kalem betul pokoknya di lebaran kali ini, sarapannya sedikit, apalagi ketika silaturahim. Secukupnya banget. Paling-paling makan kacang mete di salah satu rumah tujuan silaturahim yang tetap banyak, hehehe

Ya gimana ya, badan makin gemuk dan terus mendekati gendut. Bukan masalah penampilan sih, tapi persoalan sehat yang harus diseriusin. Tambah sadar diri lagi begitu kabar sakit diabetes, darah tinggi, jantung, asam urat, sampai stroke makin akrab di telinga. Jadilah makan sedikit-sedikit, nggak ada lagi ceritanya lebaran sampai melampaui kenyang

Selain makanan, lebaran kali ini juga aku nggak tau kenapa gitu jadi kurang menikmati. Sampe tulisan ini dibuat, which is H+5 Idulfitri, aku masih sangat sedikit mengirimkan ucapan-ucapan selamat lebaran. Mungkin banyaknya di grup dan membalas ucapan dari orang lain, tapi ucapan yang pure aku bikin mungkin ke orang-orang tertentu saja. Bisa dihitung dengan jari.

Itupun kebanyakan tanpa pantun dan kalimat indah. Tanpa "air tak selalu jernih" juga tanpa "ketika mulut tak mampu berucap, ketika tangan tak mampu berjabat erat". Mungkin gabungan dari jenuh, malas buka hp dan WA, juga makin mikir buat apa kiriman-kiriman begituan kalo sebatas formalitas yakan. Jadi, memang buat yang benar-benar berinteraksi saja.

Oiya, makin sedikit anak-anak yang main mercon di sekitar rumahku. Bagus juga karena kebiasaan bakar duit menghilang. Tapi yaa, tetap aja jadi kurang rame gitu. Kurang lengkap tanpa omelan ibu yang komplain ketika suara mercon sangat memekakkan telinga hehehehe...


Satu lagi yang berubah, yang ini karena usia. Mulai dari anak-anak bapak-ibu yang sekarang sudah makin besar. Nahwan, anak paling kecil pun sekarang sudah mau kelas 8 SMP. Dia yang biasanya paling manja dan main doang kerjaannya, sekarang mau-nggak mau ikut bantuin kerjaan rumah. Dan ikut diomelin ibu juga kalo pas lagi males-malesan hahahaha (ini bagian yang paling aku senang :v).

Aku? Lebaran ini jadi supir full-time. Selama mudik jauh lebih banyak porsiku yang menyetir mobil ketimbang bapak. Mulai berbagi peran juga, biasanya bergantung bapak-ibu sekarang bisa punya keputusan sendiri, baru kemarin anak-anak berlima main bareng tanpa bapak dan ibu.

Selain itu, bapak dan ibu juga mulai dituakan di lingkungan rumah. Dulu biasanya bertandang ke tetangga yang lebih dituakan, sekarang mulai banyak dikunjungi. Tahun depan sepertinya bakal total berganti, ibu dan bapak di rumah dan anak-anak saja yang keliling bersilaturahim dengan tetangga.

Secara pribadi, aku juga menilai lebaran ini ngga sebahagia biasanya, deh. Ada perasaan campur-aduk di sini. Lebaran-nya, sih, tetap jadi momen bahagia banget. Tapi kemudian beberapa hari sebelum lebaran ada tetangga meninggal. Ada salah satu pakdhe yang sakit jantung dan jadi nggak sebugar biasanya. Juga kebayang, aku memang bisa berkumpul dengan keluarga, tapi bagaimana dengan orang lain yang nggak bisa berkumpul bersama keluarga di momen sebahagia ini?


-----
Lebaran ini terasa beda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya. Aneh jadinya. Atau mungkin, sekadar jadi standar baru buat lebaran-lebaran tahun selanjutnya. Masa transisi dari suasana lebaran yang bakal berubah lebih jauh lagi.