Menghindar dari IG, Twitter, dan Mungkin Juga Netflix

Aku sudah merasakan seminar/ujian proposal, belum merasakan ujian skripsi, tapi cukup dalam mengamati teman-teman yang sudah selesai ujian skripsi. Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku ini, proses per-skripsian yang paling berat bukanlah di ujian. Proses yang paling berat adalah dalam pengerjaan.

Ujian pastinya tetap menyeramkan, tapi proses pengerjaan adalah silent killer. Pengerjaan skripsi menurutku underrated, terkesan biasa-biasa aja padahal sangat menyulitkan. Karena saat pengerjaan, kita harus mengumpulkan semangat sembari mengurai benang kusut satu per satu. Suatu hal yang nggak kita pelajari selama kuliah, seperti aku jelaskan dalam tulisan sebelumnya. Masalah di pengerjaan skripsi jugalah yang sering bikin orang patah semangat, tau-tau usia perkuliahannya sudah sampai belasan semester saja.

Nabhan Mudrik Alyaum MQK 2015
Foto yang ngga ada nyambung-nyambungnya sama seisi tulisan, hahahaha

Kenapa Aku Kesulitan Ngerjain Skripsi?

Sampai detik ini, aku belum berhasil ngerjain skripsi dengan lancar. Padahal, awalnya aku menargetkan buat bisa kelar ngerjain skripsi Juli 2020, lalu bulan Agustusnya wisuda. Walhasil, pertanyaan "kenapa aku kesulitan ngerjain skripsi?" terus terngiang-ngiang di kepala.

Terjebak dalam Pandemi

Mengawal Nahwan pulang ke Lampung

Sebelum balik ke Jogja, Bapak bilang, "Aban, kalau kamu ada libur seminggu gitu nggak apa-apa lho pulang ke Lampung."

Lalu aku mengiyakan Bapak. Saat itu baik aku maupun Bapak belum membayangkan bakal jadi apa keadaan 3 pekan kemudian.

Gosip yang Nggak Kenal Tempat

Bagas bersama anak-anak pulau

Gosip kalau dipahami secara polos merupakan pembicaraan buruk tentang orang lain. Gosip berdasarkan klasifikasi ini buruk, bahkan dalam agama tergolong dosa. Tapi, kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, gosip adalah sesuatu yang sangat menguntungkan manusia.

Gosip secara luas adalah bentuk persebaran informasi. Seperti disebutkan oleh Pak Harari dalam buku Sapiens (2014), gosip ini cara komunikasi khas-nya manusia. Hewan-hewan meskipun punya bahasa mereka sendiri, tapi nggak bisa bergosip.

Mereka nggak bisa seperti manusia yang membahas tentang Dian Sastro Wardoyo yang makin tua makin menawan dan bikin ngefans. Juga nggak bisa memperbincangkan Choi Siwon, orang Korea Selatan yang entah gimana caranya makin jago ngetwit dengan bahasa Indonesia.

Untuk memperjelas gambaran dariku tentang gosip, aku punya dua cerita

Pengalamanku

Sebelum cerita bagian ini dimulai, aku sama sekali nggak mempermasalahkan apa yang terjadi. Juga bukan dengan tujuan pamer. Sekadar mengenang aja pokoknya hehehe..

Jadi, dulu waktu aku Aliyah sekolahku, Mu'allimin Jogja itu khusus laki-laki saja. Ada sekolah yang khusus perempuan, sama-sama berasrama, bahkan dianggap saudara kembarnya Mu'allimin. Bagi yang belum tahu, namanya Mu'allimaat.

Nah seperti lazimnya anak SMA/sederajat, pasti banyak lah kisah asmara dan gosip di antara kami. Walaupun siswa di kedua sekolah ini nggak boleh pacaran, bahkan ketemuan aja bisa jadi persoalan, tapi tetap banyak yang saling kenal, kontakan secara intens, bahkan pacaran. Seperti lazimnya cerita anak muda, kalo ada hubungan semacam ini pasti ada gosip yang mengiringi.

Salah satu yang jadi bahasan dalam pergosipan adalah aku. Setidaknya namaku pernah beredar di perbincangan tiga angkatan Mu'allimaat secara umum. Pertama angkatan atasku setahun, aku banyak diperbincangkan karena mbakku, mbak Nadiya, dulu sekolah di sana. Aku selalu jadi bahan gosip, minimal dilaporkan ke mbakku ketika aku lewat di sekitar Mu'allimaat (kawasannya bernama "Suronatan").

Entah bagaimana caranya, pokoknya semisal sore hari aku lewat, malamnya mbakku dapat kabar dari temannya. Kemudian keesokan harinya atau beberapa hari kemudian gantian mbak Nadiya yang bilang ke aku kalau dapat laporan bahwa Naban habis lewat daerah Suronatan. Setelahnya, aku nggak tahu lagi kok bisa terjadi. Hal ini terjadi berulang kali. Belakangan aku baru sadar kalau anak Mu'allimin lewat Suronatan adalah salah satu sumber gosip yang potensial banget.

Dua angkatan sisanya adalah angkatanku dan angkatan bawahku. Kalau yang ini terjadi karena aktivitasku--untuk nggak menyebut dengan "ulahku". Aku banyak diperbincangkan sebagai Nabhan yang ceweknya banyak. (Hahahaha aku mengetik ini sambil senyum-senyum menahan tawa)

Gosip ini benar-benar bikin aku nggak habis pikir. Selalu bertanya-tanya, kok bisa ya? Dari mana mereka berkesimpulan kayagitu? Pasti ada omongan atau kelakuanku yang salah, tapi apa ya? Aku malah bingung sendiri. Boro-boro ceweknya banyak, satu aja nggak genap. Seandainya semua tahu denan mengonfirmasi ke aku cerita yang sebenarnya, mungkin malah kasihan ke aku. Nggak jadi menggosip. Walaupun tetap misuhi aku mungkin hehehe..

Lanjut lagi, nama dan cerita tentangku bisa dengan mudahnya tersebar, sedangkan aku sampai sekarang nggak tahu secara persis bagaimana cerita-cerita itu bisa berhembus orang per orang sampai nggak terhitung lagi siapa saja yang tahu. Bahkan sampai aku lulus, aku bisa mengklaim secara umum anak dari dua angkatan tersebut kalaupun nggak mengenal aku, setidaknya pernah mendengar namaku disebut. Klaim yang sok-sokan tapi sejauh ini begitu kesimpulanku.

Usut punya usut, pada puncaknya, pembicaraan tentang Naban pernah beredar luas. Di mana ada tiga lantai asrama yang cukup besar, salah satu lantainya--iya, di semua kamar--dipenuhi pembicaraan yang menyebut nama "Nabhan". Dari mana aku tahu? Dari salah satu teman di Mu'allimaat yang nggak lama kemudian cerita ke aku.

Info dari temanku ini bisa jadi benar, bisa jadi enggak. Kalaupun nggak benar, ya bisa dihitung sebagai gosip yang aku bahas ini yakaan. Namanya gosip ya begitu, kita sangat mungkin bisa percaya. Tapi bisa jadi benar, mungkin juga salah.

Tadinya aku nggak pernah peduli tentang gosip terkait aku. Tapi kemudian, setahun belakangan baru terasa efeknya. Aku sendiri yang digosipin nggak peduli, tapi orang lain yang mendengar bisa kepikiran banget. Apalagi salah satu yang mendengar itu adalah perempuan-yang-sedang-dekat denganku. Kan jadi..... Oke cukup, lanjut, segmen ini sudah terlalu panjang hehehe..

Gosip di Lokasi KKN

Tadi kan konteksnya kota, dengan ruang yang sempit. Apalagi di asrama dan anak-anaknya mengenal medsos. Memang wajar informasi bisa berpindah dengan cepat. Tapi di lokasi KKN-ku jauh banget dari peradaban, nggak ada sinyal, listrik dari PLN nggak ada dan genset sangat terbatas (klik di sini untuk berkenalan dengan lokasi KKN-ku). Sederhananya terisolasi banget deh. Semestinya bakal jauh beda dengan di kota. Tapi ternyata ya gosip-gosip di pulau gampang tersebar juga.

Suatu saat, di pulau sebelah ada warga yang meninggal. Karena keterbatasan informasi, hanya kerabat dekat yang saat itu melayat. Tetapi ternyata informasi tersebar luas di Poleonro. Dari ujung pulau ke ujung pulau, semua penduduk tau. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda, anak SMP, anak kecil semua tahu.

Kecepatan persebaran informasi ini berarti juga buat kami waktu melaksanakan program. Entah dengan pembicaraan dan gosip apa di antara mereka banyak program kami seperti nonton bareng, lomba-lomba tujuhbelasan, sampai pelatihan memasak plus lombanya jadi rame. Dan ramenya melampaui ekspektasi tuh lo, karena memang seluruh warga pulau tahu informasinya.

Satu lagi yang teringat, suatu saat Ibu Orpah kepala sekolah satu-satunya SD di pulau mengadakan syukuran. Karena cucunya sudah sembuh setelah sepekan sakit dan rewel terus. Bentuk syukurannya adalah makan-makan di Karangan, semacam pulau karang di selatan pulau utama. Ibu Orpah saat itu mengajak kami, anak-anak KKN.

Kami kira, saat itu hanya kami dan keluarga yang diajak. Tapi pagi hari sebelum syukuran digelar kami mencium gelagat ketidakberesan. Anak-anak silih berganti menyebut kalau mau ada syukuran di Karangan. Kami heran dooong.

Benar saja, siang hari yang terjadi saat syukuran digelar adalah warga berbondong-bondong ke Karangan. Mayoritas orang dewasa setengah pulau ikut semua! Kalau anak-anak malah dari ujung ke ujung pulau nggak mau ketinggalan. Ini syukuran balita sembuh setelah sakit doang loh. Bisa jadi ruame banget karena persebaran informasi di sana bukan main cepatnya.

Terbukti kan kalau gosip adalah aktivitas universal manusia. Bahkan sampai ke tempat-tempat yang paling terpencil dan jauh dari teknologi serta peradaban kota.



Kalau diperdalam lagi, gosip adalah cara persebaran informasi. Nah informasinya itu bisa nyata ataupun imajinatif. Bisa benar bisa enggak. Tapi manusia bisa percaya. Misal nih kita ada kertas biasa, dulu nggak ada harganya, tapi digambar sedemikian rupa. Jadi uang. Orang yang percaya uang menyebarkan lewat gosip. Lalu bimsalabim! Orang jadi percaya bahwa kertas-kertas yang semula nggak ada nilainya tersebut punya nilai dan bisa jadi alat tukar.

Sama halnya dengan gosip tadi. Kabarnya bisa jadi benar, bisa juga salah. Tapi manusia bisa percaya. Dan menggerakkan tindakan manusia berdasarkan informasi dari gosip. Kalau mau memahami kerennya gosip lebih jauh lagi, baca buku yang kusebut di awal aja deh! ;)

Menunggu Generasi Berganti, Baru Bisa Membaik


Ceritanya, dua pekan lalu aku harus pulang ke Lampung. Nahwan, si anak bungsu yang masih kelas 2 MTs di Mu'allimin Jogja harus sekolah dari rumah karena pandemi corona. Nggak boleh tinggal di asrama dan benar-benar wajib pulang.

Aku pun dapat tugas mengantar. Memang benar-benar nemenin Nahwan aja, nggak ada niat pulang kampung dan liburan. Akhirnya aku stay sepekan di rumah, sambil memantau keadaan di Jogja. Lumayan lah, bisa tau bapak-ibu lagi membangun rumah di pinggir jalan, ibu udah mulai percaya diri menyetir mobil ke mana-mana, bapak yang baru sembuh, seisi rumah yang kena dampak stay at home karena corona, sampai ada flyover yang baru jadi.

Selain itu, aku juga dapat obrolan lumayan berbobot dari ibu. Sebenarnya celetukan aja sih, tapi lumayan teringat di kepala. Ibu bilang ke aku kira-kira begini, "kayaknya budaya hal di kehidupan orang Indonesia baru bisa membaik di generasimu besok deh." Ada beberapa "budaya" yang dimaksud Ibu dalam celetukan itu

Gender

Paling dekat saat celeteukan Ibu saat itu adalah tentang gender. Ibu membahas bias gender dan perlakuan patriarkis yang khas kita banget. Contohnya aja membatasi anak perempuan buat keluar malam, juga peran-peran lain di kehidupan yang masih laki-laki banget.

Obrolan ini datang nggak lama setelah Ibu sambat kalo ada teman di organisasi, bapak-bapak, bisa dibilang cukup sepuh, melakukan poligami. Ketika dicecar orang-orang beliau bilang bahwa ini takdir. Padahal kan, yang namanya poligami mesti merugikan perempuan banget, juga nggak bisa gitu aja dibilang "takdir".

Selain tentang poligami, keadilan/kesetaraan gender memang saat ini baru masa transisi. Malah kalau generasinya Ibu dulu bisa dibilang masih terbelakang soal keadilan/kesetaraan gender. Contohnya nih, Ibu dan adik-adiknya yang sebagian banyak perempuan itu minimal bertitel sarjana. Dulu, ada perempuan bisa sarjana itu udah wah banget. Satu kampung ada sarjana saja sudah hebat. Dalam satu kecamatan pun belum banyak perempuan yang berpendidikan tinggi.

Nah keadaan saat ini jauh lebih baik. Walaupun masih banyak kekurangan di mana-mana, tapi seiring berjalannya waktu ada harapan untuk budaya-budaya nggak baik terkait gender bisa selesai di generasi kita besok.

Teknologi

Ini nggak kalah asik. Waktu aku pulang sejenak dua pekan lalu, baik Ibu maupun Bapak sedang mencoba cara baru mengajar, dengan belajar dari rumah online.

Pas banget kemarin itu bapak lagi lumayan repot belajar bikin form kuis daring, juga belajar Google Classroom. Kata bapak karena mahasiswanya pusing kalo diminta memakai fasilitas e-Learning yang disediakan kampus. Bapak belajar dari nol banget karena nggak pernah memakai sama sekali sebelumnya. Tuh bagi kalian yang merasa repot kuliah daring, dosen kalian juga berat kok perjuangannya, jadi sama-sama memaklumi lah yaa :))

Urusan teknologi ini juga bikin aku mengingat-ingat masa lalu. Ketika Ibu harus belasan kali, bahkan puluhan kali diajari untuk sekadar membuka file Microsoft Word, menyimpan, dan mencari. Pokoknya yang dasar banget.

Sempat membangunkan malam-malam, ngomel-ngomel ke aku karena ngajarinnya nggak benar dan nggak sabar. Setelah berkali-kali belajr-lupa lagi-belajar lagi-lupa lagi baru deh Ibu bisa.  Itu pun pada saat itu Ibu berhasil belajar karena menggarap tesis. Coba kalau enggak, nggak tahu deh sampai kapan Ibu kesulitan untuk sekadar mengakses Microsoft Word.

Generasi kita besok yang lebih menguasai teknologi diharapkan bisa memanfaatkan lebih jauh. Nggak cuma jadi user--yang generasi Ibuku aja kesusahan banget--melainkan juga bisa jadi kreator teknologi di masa mendatang.

Literasi

Nah yang satu ini berakar dari budaya baca yang minim, tapi juga nggak terbatas dalam bahasan baca-tulis. Budaya literasi yang minim bahkan ada hubungannya sama pandemi. Ibu cerita kalau dulu dapat cerita dari para sesepuh tentang pagebluk, yang sekarang juga lagi ramai dibahas.

Orang-orang dulu, itu pernah digegerkan dengan kejadian yang bikin orang mati tiba-tiba. Istilah saat itu isuk loro, sore mati (pagi sakit, sore mati). Nggak jarang penyakit-penyakit itu dikaitkan dengan hal mistis, sampe jadi kepercayaan yang tersebar lewat jalur getok tular (dari mulut ke mulut). Padahal ya, sebenenarnya mati karena penyakit. Bisa dikaitkan dengan wabah pes, kolera, ataupun flu spanyol yang memang pernah melanda Indonesia. Orang-orang dulu saja yang belum tahu sehingga mengaitkan dengan hal-hal mistis.

Nah, kalau sekarang, yang masih banyak banget tersisa adalah budaya getok tular. Kalau ada informasi gampaang banget tersebar, terkhusus hoax dari grup keluarga besar, kompleks, sampai pengajian/organisasi. Apalagi yang provokatif dan mencengangkan!!!

Literasi untuk menangkal hoax ini sekarang mulai dipahami sih. Ibuku misalnya, sering banget tiba-tiba nge-forward pesan yang dicurigai sebagai hoax untuk menanyakan ke aku tentang kebenarannya. Walaupun lumayan bikin repot, apa yang dilakukan Ibuku ini mending banget. Banyak ibu-bapak-om-tante di luar sana yang nggak bisa dibilangin kalau broadcast-broadcast itu hoax. Malah generasi kita yang memberikan info valid bisa disalah-salahin di grup keluarga.

Ini yang diharapkan seiring berjalannya waktu bisa mendingan. Jalannya lewat meningkatkan budaya baca dan menjurus ke cek fakta. Lagi-lagi generasi kita yang lebih banyak akses ke buku, juga bacaan-bacaan bermutu dan minim propaganda, jadi harapan mengakhiri mudahnya informasi menyesatkan tersebar + meresahkan masyarakat.


Tiga hal di atas jadi harapan Ibu--yang sadar bahwa generasinya minim pemahaman tentang tiga budaya itu--untuk bisa selesai di generasi kita besok. Aku pun mengamini, kita punya harapan. Semoga kita bisa belajar banyak untuk membawa perubahan baik, sekurangnya di tiga budaya yang jadi kegelisahan di atas.

Buat generasiku, generasi kita, yok bisa yok :)

Nabhan Kapan Nikah?