Kita Bisa Apa untuk Keadilan Gender?



Beberapa bulan terakhir ada kabar tentang Agni (nama samaran), mahasiswa UGM yang menjadi penyintas kekerasan seksual. Nah dari situ aku punya pandangan tersendiri buat pelecehan seksual dan keadilan gender. Walaupun aku sendiri bukan pegiat keadilan gender yang bisa memahami secara mendalam, tapi paling enggak aku selalu mengikuti dan aku pikir ini saat yang tepat untuk menyampaikan pendapatku.


Memang Dua Sisi, Tapi...

Menurutku, kasus pelecehan seksual nggak bisa dipungkiri ditentukan oleh keadaan dan/atau perbuatan dari kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Bahwa ketika sudah tercipta kesepahaman untuk saling menjaga dari laki-laki dan perempuan, pasti pelecehan seksual bisa terminimalisasi. Tapi itu hanya penilaianku secara umum. Untuk sekarang perlu sikap yang berbeda.

Harus diakui bahwa Indonesia saat ini adalah negara dengan nilai-nilai patriarki yang sangat kental. Laki-laki dianggap dominan dan semestinya mendominasi, dalam hal positif, netral, maupun negatif. Terserak pendapat di sekitar kita bahwa laki-laki dianggap lebih pas sebagai pemimpin. Laki-laki gajinya lebih tinggi. Yang kerja harusnya laki-laki saja. Yang lebih berani itu laki-laki, kalau nggak berani jangan ngaku sebagai laki-laki. Laki-laki harus lebih punya inisiatif. Sampai kalau kita sebut kata "penjahat", lebih terbayang cenderung ke laki-laki atau perempuan? Aku yakin sebagian besar dari kita menjawab laki-laki.


Karena dominasi laki-laki, seringkali sudut pandang yang dipakai, ya sudut pandang laki-laki. Sehingga ketika ada kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan, selalu perempuan yang disudutkan, karena anggapan yang umum terjadi adalah : wajarlah kalau laki-laki 'nakal'. Dari situ aku beranggapan bahwa selama budaya patriarki masih sangat kental, victim blaming juga masih lestari, kita perlu terus memperjuangkan bahwa ya si laki-laki yang bersalah.

Apalagi kalau sampai keadaan mental penyintas jadi terganggu. Itu kan sudah jadi bukti sahih bahwa penyintas perlu dibela, dilindungi, dipahami keadaannya.


Kesadaran untuk Urusan Gender

Bagaimanapun proses dan hasilnya, setelah kasus Agni kemarin sukses membuat aku berpikir lebih dalam dan lebih jauh untuk keadaan gender di negara kita tercinta. Bahwa urusan gender nggak terbatas di urusan pelecehan seksual. Kita perlu lebih peduli karena keadilan gender masih mahal dan jarang banget tersedia di Indonesia. Sesederhana hubungan dekat laki-laki dan perempuan, hubungan suami-istri, sampai dalam organisasi kita, masih perlu banyak sentuhan keadilan gender. Karena sekarang secara umum yang terjadi ya, laki-laki lebih diutamakan.

Padahal, menurutku perbedaan laki-laki dan perempuan itu ya di urusan fisik saja. Mungkin tersambung ke urusan hormonal dan genetik juga, tapi output yang bisa diberikan dalam kehidupan sehari-hari nggak jauh beda kok. Bahkan dalam banyak hal aku akui perempuan secara umum bisa lebih baik dari laki-laki. Perempuan bisa memimpin, bisa melakukan hal-hal yang identik dengan laki-laki, dengan kualitas yang sama. Pun nggak hanya laki-laki yang bisa jadi jawaban dalam segala urusan di kehidupan, perempuan juga sama krusialnya.

Pendapatku ini aku berikan tanpa mengabaikan aturan-aturan agama, lho, ya.


Untuk Kita, Laki-laki dan Perempuan

Sekarang, tinggal bagaimana laki-laki sebagai "pemegang otoritas" dalam lingkungan kita lebih memberi ruang buat perempuan. Memahami perempuan lebih dalam lagi. Bukan sekadar memahami bagaimana caranya bikin perempuan baper dan tertarik sama kita, tapi ayolah beri ruang untuk perempuan bisa berekspresi dan mencapai potensi tertinggi mereka.

Pahami saat-saat dimana perempuan perlu pendekatan dan proses belajar yang berbeda. Beri ruang untuk memimpin, ajak ngobrol dan pahami dari perspektif laki-laki dan perempuan, beri kesempatan untuk berpendapat dan merealisasikan pendapatnya. Hindari juga kebiasaan-kebiasaan yang melazimkan pelecehan terhadap perempuan. Jangan pernah gunakan kekerasan, baik itu kata-kata, tekanan mental, apalagi sampai fisik.

Sebaliknya, buat perempuan juga begitu. Jangan lagi menganggap bahwa perempuan inferior. Apalagi dengan dalih "perempuan kodratnya memang begitu". No, kodrat perempuan cuma dalam urusan reproduksi dan bentuk fisik, untuk peran dan dan keadaan selain itu, konstruksi sosial dalam lingkungan kita yang menentukan, bukan kodrat. Yang lebih penting, saat dunia mulai mendukung perempuan untuk lebih berdaya, kalian para perempuanlah eksekutornya. Perubahan nggak bisa terjadi kalau perempuan nggak mau memperbaiki keadaannya sendiri.

Kalau sudah sampai di situ, lanjutkan, coba untuk selain menuntut hak yang setara, juga siap saling bantu dengan menanggung kewajiban yang setara. Semua perlu kita lakukan, dalam usaha memanusiakan manusia. Dan laki-laki maupun perempuan adalah sama-sama manusia.



---
Tulisan ini mulai dibuat setelah pengumuman akhir dari kasus Agni dan diselesaikan dua hari setelah Hari Perempuan Internasional 2019.

Langkah 3 : Naban yang Nggak Bisa Sendirian

Harus diakui, Naban (terutama di awal periode PD IPM Jogja 17-19) adalah pribadi yang egois. Sok-sokan.

Hanya karena punya kelebihan sedikit (banget) kemampuan, konsistensi, dan pengalaman kemudian nggak jarang jadi merasa hebat dan menuntut banyak.



Ya, seperti yang aku tulis beberapa waktu lalu. Aku belajar banyak. Makin ke sini, makin sadar bahwa aku ada di posisi ketum karena beruntung aja keadaan mengizinkan. Perkara kebaikan dan pencapaian yang dilakukan PD IPM Jogja, ya itu karya bersama teman-teman. Malah aku dengan peranku sesungguhnya nyaris nggak punya peran langsung. Kalaupun ada peran langsung itu hanya sedikit, dan pengganti aja.

Nyawa PD IPM Jogja ya dari bidang-bidang, tanpa terkecuali. Ada seratus tiga puluh lebih program di periode ini dengan segala rintangannya, belum lagi gerakan dan aktivitas non-program. Mayoritas ya dilakukan oleh teman-teman bidang, bukan ketum, bukan Naban.

No, dengan tulisan ini bukan berarti aku beranggapan bahwa Naban yang sekarang lebih mendingan keegoisannya, cuma sekarang aku jadi lebih sadar aja.

Beberapa poin yang aku sebut di atas tadi benar terjadi. Salah satunya di Rapat Pleno 1 (Agustus 2017), PD IPM periode ini menjalankan evaluasi resmi pertamanya. Banyak masukan, kritikan, sampai protes disampaikan, terutama ke aku dengan segala tindak-tandukku. Mulai dari yang harus lebih terbuka dan transparan, ekspresi yang perlu lebih dikondisikan, sampai sikap yang jangan sampai terlalu menyeret-nyeret teman-teman PD IPM.

Evaluasi yang cukup menyita tenaga sebenarnya, selain perlu mendengarkan dengan seksama juga perlu menerapkannya segera sebagai pelajaran. Apalagi dengan aku yang dari dulu jarang serius menindaklanjuti sikap orang-orang di sekitarku. Tapi yang aku senang, teman-teman dengan semangatnya meminta evaluasi malam itu dilanjutkan sampai lewat tengah malam. Malah baru selesai setelah pukul 2.00 dinihari. Energi positif yang selalu dilakukan di dua rapat pleno selanjutnya.



Dari Rapat Pleno 1 dan banyak peristiwa lain, aku terus belajar. Merangkak sedikit demi sedikit untuk lebih paham lagi dan lagi. Kekuatan dari teman-teman lah yang kemudian terus mewarnai dan bikin PD IPM Jogja makin membaik, makin kuat dari waktu ke waktu.


Bersambung ke langkah-langkah selanjutnya

Langkah 2 : Apa yang Kamu Dapat Selama Jadi Ketum?

Mohon maafkan foto utama yang sangat pencitraan ini hehe. Foto lain mulai dari pertemuan sampai beberapa agenda dan foto yang nggak banget ada di bawah ya :)

 Apa yang kamu dapat selama jadi ketum?

Pertanyaan di atas disampaikan baru-baru ini oleh Syahnindita Erhan (Anin panggilannya, Anggota Bidang ASBO). Menarik sekaligus menantang untuk dijawab.

Karena banyak banget yang sudah aku dapatkan selama menjadi ketum. Saking banyaknya, sampai nggak sanggup kalau harus mengingat satu per satu. Tapi, paling enggak aku sebutkan beberapa yang paling membekas. Siapa tahu bisa sama-sama jadi pelajaran


Kenal Banyak Teman dari Berbagai Daerah
PD IPM sangat membantu dalam mengenal lebih banyak orang dari mana-mana. Mulai dari seluruh Kota Jogja, ragam kabupaten di DIY, sampai ragam provinsi dan kota di Indonesia.

Selama menjadi ketum inilah mendapat ragam cerita setelah bertemu banyak orang. Mulai dari perbedaan logat, kebiasaan, sampai perbedaan tantangan di setiap daerah. Ada lho, yang sudah jadi ketum di tingkat wilayah (provinsi) tapi masih kelas 12 SMA, ada juga yang ketika mau menyebar surat harus seharian penuh. Cerita-cerita semacam itu bikin aku mulai tahu, dan pelan-pelan melalui PD IPM ataupun jalan lain, aku mulai mengunjungi teman-teman seikatan itu satu persatu.

Foto bersama teman-teman dari Kalimantan Barat

Foto bersama teman-teman dari Medan







Foto bersama teman-teman dari Lampung dan Batam, Kepulauan Riau

Dapat Pengalaman yang Nggak Terbayang Sebelumnya
Membawa uang tunai 150juta dalam tas misalnya. Atau bekerjasama dengan organisasi/ komunitas tingkat nasional dan internasional. Atau ngobrol banyak hal dengan tokoh-tokoh yang biasanya cuma kita lihat di TV/ internet.

Nggak pernah ada dalam bayangan aku membawa uang sebanyak itu, ternyata berat bos, bikin tas penuh hehe.

Berkat pengalaman-pengalaman di PD IPM inilah aku tau rasanya. Juga seorang Naban yang hanya tinggal di Lampung dengan keadaan seadanya, jauh dari gaya hidup perkotaan apalagi lintas kota nggak pernah kebayang untuk bisa semacam ini. Dulu aku ingat seumur-umur hanya sekali bisa melihat iring-iringan presiden, itupun nggak sengaja. Juga hanya sekali dan senang banget ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah hadir ke kompleks sekolahku.


Menghargai Uang dan Waktu
Uang adalah satu hal yang kadang kita anggap sepele. Apalagi kalau hidup kita sudah tercukupi. Tapi ketika harus menjaga agenda organisasi tetap hidup dengan sumber keuangan yang antah-berantah, pasti jadi pikiran tuh.

Yang lebih penting lagi adalah waktu. Aku sangat banyak diajari tentang waktu. Mulai dari melakukan sesuai waktunya, mencoba menerapkan prinsip tepat waktu, sampai memilih momen yang tepat. Juga ternyata untuk menjaga tepat waktu itu susahnya minta ampun. Khusus untuk lingkup Indonesia, sepertinya tradisi tepat waktu belum bisa untuk terlalu dipaksakan.

Belajar menghargai uang maupun waktu membuat 


Peduli dengan Pelajar
Lelah dengan pertanyaan, "kenapa sudah mahasiswa tapi kok masih di IPM?"

Sukanya lho menanyakan pertanyaan semacam itu. Sampai pada lupa bahwa tanggungjawab adik-adik kita di SMP/SMA itu nggak bisa dibatasi hanya pada guru dan pemerintah. Kita yang mahasiswa, generasi yang satu klik di atas para pelajar juga punya tanggungjawab, bukan hanya nyinyir tentang generasi micin dan pelajar zaman now saja tuhlo. Kalo nggak kita, siapa lagi?

Jambore Perkaderan 2017
Di sela Student Camp 2018



Belajar Memahami Orang
Ini yang paling penting!

Aku nggak bisa membayangkan banyaknya perubahan dan pelajaran yang aku dapatkan tentang seseorang. Bahwa ternyata perlu pendekatan personal. Bahwa ternyata banyak hal yang kita sepelekan itu bisa jadi sangat berarti buat orang lain. Dan hal ini terjadi banget di aku.

Aku merangkak dari yang sangat ndak peduli urusan personal dan memahami orang, sampai sekarang mulai bisa mengerti walaupun sedikit-sedikit. Bahkan, kalau ditanya tentang bagaimana mengatasi persoalan, atau badai-badai kecil dalam organisasi, ya pendekatan personal ini jawabannya. Seolah jadi bagian dari obat segala penyakit gitu deh.

Dan jujur, ini yang begitu berguna dari segala pengalaman dalam organisasi.


Jadi Pembicara yang Baik
Penutupan Student Camp 2018

PD IPM benar-benar memberi wadah untuk ini. Dari awal dulu aku ingat pertama kali mengisi materi ketika masih kelas 11 MA. Garing materinya. Susah dipahami. Ditambah lagi memang bawaanku yang kaku. Dan parahnya, saat itu aku mengisi materi dengan audiens kelas 10 dan 11 dari salah satu SMA Muhammadiyah di Yogyakarta. Salah satu akibatnya adalah dibilang nyeremin sama Mumtaza, salah satu peserta dahulu yang sekarang jadi bagian dari PD IPM Jogja (Anggota Bidang ASBO) --bahkan dia masih ingat sampai sekarang ketika aku sudah nggak ingat-ingat banget.

Tapi betapapun buruknya, disitulah aku mulai belajar bisa ngomong di depan umum. Merangkak pelan-pelan untuk belajar makin baik dan makin baik lagi. Kalau sekarang sudah mendingan ketika berbicara di depan, ya itu karena IPM. Kalau sekarang sudah bisa melontarkan humor walaupun sedikit, ya itu dari IPM. Kalau kemarin sudah berhasil terjun-berdialektika selama sidang komisi di Muktamar XXI IPM ya itu dimulai sejak kelas jadi pemateri IPM.



Pendek kata, langkah 2 ini mengantarkan ke perenungan yang dalam. Bahwa banyak yang patut disyukuri selama ber-IPM, juga banyak yang harus terus diperjuangkan dan dipelajari lagi.

Bersambung ke langkah selanjutnya


Bersama Mas Khoirul Huda dan Mas Azaki (Ketum-Sekjend PP IPM 2014-2016) di Student Camp

Pose gelapku pasca Upgrading 3



Muka ngantuk + sarung. Cocok! hehe


Menerima kenang-kenangan dari PD IPM Medan

Menerima kenang-kenangan dari PW IPM Kalimantan Barat. Abang ini namanya Dayat, sampai sekarang berteman baik. Ya karena IPM.

Foto bersama di kantor kecil kami, dengan teman-teman dari Kalbar

Langkah 1 : Ketika Semua Dimulai

Foto pasca-pelantikan, 2 April 2017 di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta


Awal dari semuanya adalah 5 Maret 2017, Musyda IPM Kota Yogyakarta menghasilkan susunan tim formatur. Dengan Nabhan sebagai Ketua Umum dan Laila sebagai Sekretaris Umum.

Kemudian 2 April 2017 adalah saat ketika semua dimulai. SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Struktur PD IPM Kota Yogyakarta 2017-2019 dilantik.


Nggak pernah terbayang dalam benak seorang Nabhan untuk bisa memimpin. Tapi, apa yang terjadi-terjadilah.


__________________
Usai pelantikan kami tak langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing. Rapat kerja pimpinan (Rakerpim) sudah menanti. Siang hingga malam. Sebenarnya, aku nggak enakan pada saat itu, karena rentetan agenda pagi-malam bakal sangat melelahkan. Bahkan, aku yang jarang drop saat itu juga sempat pusing-pusing, alhamdulillahnya satu tablet paracetamol cukup bisa mengobati. Walaupun nggak enakan pada awalnya, tapi justru ada banyak hal lain bisa dipetik.

Di titik ini aku bersyukur banget bisa berkarya bersama mereka, seluruh PD IPM Kota Yogyakarta 2017-2019 tanpa terkecuali. Bagaimana tidak, Rakerpim kali ini berbeda dengan beberapa Rakerpim sebelumnya yang ndak cukup hanya sehari. Yang ini, semua bidang sudah punya draft program kerja, pembahasan cukup setengah hari. Walaupun sangat padat tapi secara umum semua mengikuti dengan baik.

Nggak cukup sampai di situ, Upgrading jadi kelanjutan awal-awal periode ini.
15 April 2017 saat itu. Wisma Mentari, Kaliurang jadi saksi kolega sekaligus keluarga baru saling mengenal, tumbuh bersama, dan mulai menyusun amunisi. Baru tahu juga, kalau teman-teman PD ternyata punya kepribadian yang keren sekaligus unik. Meme-nya tuh, lho, bagus-bagus, berkesan, menghibur banget. Ternyata, banyak dari teman-teman karibku ini punya selera humor yang baik. Selebihnya, semua punya hal spesial dan kualitasnya masing-masing.

Ada motivasi khusus dari Kak Azhar juga di Upgrading, untuk menegaskan alasan dan pengalaman-pengalaman baik selama di IPM. Pertanyaan "apa pengalaman terbaikmu di IPM?" bisa menjadi motivasi tersendiri untuk melanjutkan perjuangam. Selain itu, ada juga motivasi dari beliau untuk saling menjaga. "Kalau 75% personil PD bisa bertahan sampai akhir, itu sudah jadi prestasi tersendiri," kata Kak Azhar di salah satu ujarannya.

__________________
Satu yang perlu diperhatikan, dalam rentang 5 Maret - 2 April itu cukup lama dan bukan berarti tanpa agenda, ya. Pendampingan dan agenda kolaborasi datang silih berganti. Dan, nyambi-nyambi yang semacam ini menjadi rutinitas kami, dari awal hingga detik ini. Kelak aku coba ceritakan dalam satu tulisan tersendiri.


Bersambung dalam langkah-langkah selanjutnya....



Foto-foto Upgrading
Foto upgrading pertama (1) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (2) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19
Foto upgrading pertama (3) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (4) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (5) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (6) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19


Sebagian Kecil dari Koleksi Meme PD IPM Jogja
Meme Irsyad | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Hidan | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi dan Irsyad | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Arhan & Hammam | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi & Aufar (1) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi dan Aufar (2) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme TA & Fadhli| Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme-ku sendiri (lupa siapa yang bikin, hehe..) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme pasukan menuju pendakian Gn. Prau | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Anggitya | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Tio | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Jayastu | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Bagaimana Rasanya Jadi Orang yang "Dari Sana-nya" Nggak Peka?



Kepada kalian yang sering merasakan akibat dari keenggakpekaan,

aku mohon,
ajari orang-orang yang belum bisa bersikap peka itu, biar mereka bisa lebih peka.

Aku tau seringkali kalian sakit hati karena beragam bentuk keenggakpekaan. Tapi percayalah, membantu orang di sekeliling kalian untuk menjadi lebih peka adalah sangat mulia.


--------------
Aku, seorang Naban yang besar dan mendewasa tanpa tahu banyak tentang peka mau mencoba bercerita.

Kepekaan ini sesuatu yang dulu aku anggap nggak penting. Aku cuek-cuek aja, nggak terlalu memperhatikan kekuatan kata-kata.

Tapi setelah semakin mendewasa, berjumpa dengan banyak orang, tinggal di sekitar orang Jogja dengan segala kelembutan perasaan dan tutur kata, juga mengisi beberapa posisi penting, aku pun mulai sadar. Bahwa kepekaan itu penting. Untuk menegaskan pentingnya kepekaan, seringkali terjadi baik-buruknya orang, terkhusus baik-buruknya pengisi jabatan dinilai dari kepekaannya baik perkataan maupun perbuatan.

Dan,
Aku - sangat - merasakan - itu.

"Aku mah apa, butiran debu tak berguna," kata salah seorang teman sekitar setahun lalu. Setelah menerima kata-kata yang menyakitkan diucap olehku.

"Dan aku baru tau kalo naban itu sosok orang yang otoriter," kata salah seorang teman lagi. Yang ini belum lama. Terjadi setelah dia mendapatkan cerita tentang sebagian dari perbuatan-ucapan-dan ekspresiku belum lama ini.

Dua contoh ungkapan di atas itu akibat dari kata atau laku-ku yang dianggap orang kurang baik. Dan makin ke sini, aku pun mengamini anggapan tersebut, kerap kali aku menyakiti lewat kata dan perbuatan. Tapi percayalah, semuanya nggak diniatkan. Seperti contoh di atas hadir berkat kegagalanku mengkonversi bayangan rencana dan isi kepala menjadi kata-kata yang ciamik dan pas di hati orang-orang.

Aku mau bikin orang senang, bahagia
Yang dengan ucapanku justru malah tenang, baik
Tapi apa daya, untuk sekarang yang semacam itu masih jauh panggang dari api.


Karenanya,
kepada kalian yang merasa sering menjadi korban keenggakpekaan, aku mau ngasih tau sebuah rahasia.

Bahwa, orang yang nggak peka itu kira-kira terbagi menjadi dua jenis. Satu, memang nggak paham kalau dirinya nggak peka, karenanya nggak mau atau nggak berhasil menyesuaikan dengan lingkungannya. Dua, orangnya memang nggak berdaya lepas dari ketidakpekaannya, kemudian jadi takut karena kata dan laku yang dipilihnya sering salah, takut "salah lagi, salah lagi".

Nggak jarang mereka --atau kami-- tertekan.

Kalau aku, mungkin nggak sampai tertekan, tapi setidaknya aku jadi sangat berusaha mengantisipasi begitu tahu bahwa aku dan keenggakpekaan sangatlah akrab. Tulisan ini pun aku rangkai sembari berharap-harap cemas. Jangan-jangan, bakal ada kata yang nggak pas dan menyakiti perasaan orang di tulisan ini. Semoga saja enggak, ya.

Dan semoga, kalian yang merasa menjadi korban dari keenggakpekaan paling tidak bisa paham bahwa keenggakpekaan nggak ujug-ujug hadir begitu aja. Tapi ada sebabnya, dan ada perbedaan standar dan kebiasaan sehingga bisa muncul anggapan peka dan nggak peka. Yang penting paham dulu, perkara bisa kompromi atau enggak, bisa maklum atau enggak, itu urusan selanjutnya dan perlu jadi pembelajaran bersama.



Untuk mengakhiri, dengan ditulisnya post ini aku juga mau mohon maaf kepada segenap yang membaca.

Mohon maafnya sekaligus dua. Pertama, mohon maaf karena seringkali sikap dan perkataanku nggak peka. Kedua, mohon maaf karena nggak menutup kemungkinan bakal mengulangi lagi keenggakpekaanku. Karena sampai sekarang, urusan peka ini masih nggak bisa sepenuhnya aku sadari dan aku masih terus belajar --walaupun, ya, sering kena remidi.


Diselesaikan di kereta,
dalam perjalanan menuju Jakarta
28 September 2018

Untuk Kalian, Para Mahasiswa Baru



Selamat untuk kamu, kalian, yang telah mendapatkan predikat "mahasiswa". Dimanapun kampus tempat kalian menimba ilmu, kalian adalah orang-orang yang sangat terpilih.

Kalian adalah warga Indonesia yang spesial secara keilmuan, nggak lebih dari 5% penduduk Indonesia yang mendapat pengalaman menjadi mahasiswa.

Kemudian,
Apa yang ada di benak kalian ketika mau menjadi mahasiswa?
Pengen kerja?
Prodi yang keren?
Jadi panitia event besar?

Oke, apapun itu ada hal-hal yang perlu kalian resapi dulu sebelum menentukan motivasi seperti yang aku tanyakan di atas. Bahkan sebenarnya, perlu jadi orientasi sebelum kita memutuskan mau menjadi mahasiswa.



-------------------
Pertama-tama kita perlu memahami bahwasanya ada satu keniscayaan ketika kita menjadi mahasiswa

Yaitu, mau tak mau, siap tak siap, menjadi mahasiswa adalah menjadi akademisi. Terjun di satu bidang keilmuan dan fokus di dalamnya, berlaku untuk semua orang berlabel mahasiswa, terkhusus para calon sarjana

Menjadi mahasiswa adalah menjadi insan yang lebih bertanggungjawab dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Juga menjadi lebih adil bahkan sejak dalam pikiran. Kita dilatih dan diposisikan sebagai generasi yang memiliki dasar yang kuat dalam tiap ucapan dan tindakan.

Karenanya, membaca, diskusi, berkawan dengan jurnal, bersahabat dengan laporan dan makalah adalah inti aktivitas mahasiswa. Sebagai pembuktian, bakti pada masyarakat sesuai ranah keilmuan diperlukan. Kalian adalah 5% penduduk sebagai arus utama, para pembawa perubahan dan kemajuan.

Sampai disitu esensi mahasiswa. Sisanya, sangat bergantung pada diri kalian.



--------------
Selamat datang di dunia pendidikan tinggi. Yang jauh lebih majemuk dibanding sekolah kalian dulu.

Kita bisa menjumpai ragam budaya, ragam usia, agama, pendapat, sikap, pendirian, kebiasaan. Jangan heran kalau kalian menemui perbedaan yang sebelumnya tak pernag kalian jumpai, atau bahkan tak pernah kalian bayangkan.

Disinilah sikap toleransi kalian --yang bukan hanya tentang agama-- diuji. Kita perlu mencoba lebih jauh untuk menerima banyak hal.

Mungkin agak sulit, karena dahulu kita terbiasa untuk menyamakan. Membuat banyak hal di lingkungan sekolah kita menjadi seragam.

Tapi, begitulah lingkungan yang berusaha memanusiakan manusia. Coba untuk pahami, terima perbedaan --selama tidak menyakiti.


-------------
Selamat datang pula di dunia pencerdasan dan pembebasan

Jangan khawatir untuk melakukan banyak hal yang nggak sesuai dengan keinginan teman-teman dan kakak tingkat di kampus.

Ketika menjadi mahasiswa, kamu punya ruang individu yang luas. Kalian bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mengekang selama tidak mempengaruhi kelulusan kalian esok.

Akan sangat baik kalau kalian memanfaatkan waktu yang ada (kuliah lazimnya hanya ±24 sks, beda dengan sekolah yang ±35 sks) untuk melatih diri, mengasah kemampuan, dan memperluas jaringan.

Tinggal persoalamnya adalah label dan pandangan miring yang pasti dialamatkan kepada kita. Kalau aku sih, cuek saja. Toh, kita hidup untuk masa depan kita, bukan masa depan orang lain.



-----------
Selamat datang di dunia yang sangat jauh dari aturan yang mengekang. Aturan yang ada hanya etika berpakaian, jatah absen 25%, dan etika berkomunikasi. Selain itu, mungkin hanya urusan birokrasi.

Urusan dengan dosen pun mirip-mirip.
Tugas dosen ya sekedar memfasilitasi, bukan seperti guru yang memang harus menggurui. Tugas kita sebatas hadir, menghormati secukupnya, dan seputar tugas.

Kalau ada aturan selain itu, yakinlah bahwa semuanya hanya dibuat-buat. Kembali seperti bahasan di atas, terserah pada kalian mau bagaimana menyikapinya. Kadang kita perlu lebih berani, untuk kemudian membuktikan bahwa semua baik-baik saja.


------------------
Sisanya, kalian sudah besar, selamat menentukan masa depan
Selamat menjadi mahasiswa


"If you graduated from famous university, please respect the people graduated from the poor schools.
Those people like us graduated from from a poor university, please respect yourself. We have chosen"
 -Jack Ma



22 September 2018,
Nabhan Mudrik Alyaum
Mahasiswa Geografi UGM '16
Ketum PD IPM Kota Yogyakarta
Anggota Senat Mahasiswa (MPM KM UGM)