7 Hari Mengunjungi Malika (2-habis)


Hutan di pedalaman Banyuwangi
 
Paruh kedua perjalanan berlajut. Agak mumet sebenarnya di perjalanan ini, karena dengan objectives yang banyak, kami masih harus mengurus akomodasi sendiri dan dengan anggaran yang nggak banyak-banyak banget. Pemesanan demi pemesanan, perubahan penginapan, sampai perubahan rencana akrab banget dengan kami selama perjalanan ini. Tapi, overall lancar sampai akhir.

Mari menyimak bagian kedua...

Kediri

Menginap di Kediri semalam, setelah dari Trenggalek. Sempat makan di sate Pak Siboen, ditraktir full sama Pak Bas dan Pak Rofi. Kalau nggak ditraktir lumayan tuh, satu orang bisa habis 50-60 ribu. Sesuatu yang sangat nggak efisien mengingat kami satu tim berusaha berhemat.

Nah, memang cuma sebentar seperti di Ponorogo. Tapi juga berkesan dalam perjalanannya yang lewat Pare, Kabupaten Kediri. Yap betul, Kampung Inggris itu, lho. Teringat Pare 8 tahun lalu, ketika aku ke sana. Dulu sempat ada program 20 hari untuk anak-anak sekelas ketika aku MTs di Mu'allimin.

Memori kerjaan sehari-hari yang ngegame online melulu,
sepedaan sampai Stadion Canda Bhirawa (apalagi pas banget kemarin lewat jalan samping stadion),
sampai ketika sepedaku sempat ditabrak motor,
dan ada teman yang jatuh dari atap asrama. Yes, walaupun singkat-sekejap lewat Pare, semua memori teringat kembali gitu..


Nganjuk

Dalam perjalanan ini sebenarnya feelingku tentang petani setempat lebih banyak negatif, seperti yang sudah aku sebut di paruh pertama. Aku pesimis dengan keadaan dan kesejahteraan petani. Nah, di Nganjuk ini aku justru surprised, bertemu dengan keadaan yang berbeda. Gimana enggak, di titik surveyku, petani-petaninya punya lahan minimal 2 hektar, ada yang 4 hektar, bahkan ada juga yang 6 hektar. Yes, sampai dengan 60.000 meter persegi bos.

Keadaannya juga sejahtera (ya iyalah, 20.000-60.000 meter persegi), bertolak belakang dengan keadaan di Trenggalek yang cukup susah atau bahkan sangat susah. Di titik tempatku survey ini nggak ada ceritanya petani rugi, walaupun harga padi naik turun dan harga kedelai hitam cenderung turun, karena mereka punya lahan yang luas ya tetap saja untung besar.


Malang

Di Malang sebenarnya pengen main ke mana-mana, tapi akhirnya waktu di Malang banyak dihabiskan buat transit saja. Sebelum perjalanan panjang ke Banyuwangi.

Ketika di Malang sempat merencakan ketemu beberapa teman, tapi sayangnya harus dibatalkan karena waktu yang mepet banget. Mohon maaf pembatalan ini ya teman-teman, terutama Unun yang aku php sakpole, duh.

Tapi di Malang sempat main sedikit, sih. Ketemu mbak Ayunda di rumahnya, aku baru tahu ternyata mbak Ayunda yang tinggal bareng kakeknya ini menjalankan peran sebagai ibu kos. Kos putra pula. Menang banyak kan dia, hahaha...

Juga dilanjut dengan mampir ke UMM. Ketemu mbak Maharina yang dulu sangat lincah banget geraknya. Sekarang harus pelan-pelan karena sedang mengandung calon keponakan kedua anak-anak Lembaga Media PP IPM :))

Menit-menit sebelum kebodohan yang hqq terjadi

Kebodohanq yang hqq juga terjadi di Malang, nih.
Jadi ceritanya, setelah sampai di Malang malam hari kemudian mikir bahwa pakaianku terbatas. Cara yang baik adalah ngelaundry, tapi kemudian malah pusing nyari tempat laundry. Diputuskanlah mau nyuci di rumahnya mbak Ayunda. Cus berangkat nge-Gojek mepet tengah malam. Sampe di rumahnya mbak Ayunda, baru sadar bahwa baju kotornya ketinggalan dooooooong.

Ember siap, detergen siap, mesin cuci siap, lah yang mau dicuci malah nggak ada -_-

Oh iya, es teler dempo-nya Malang mantap betul! Terkenang sampe sekarang hehe..

Sempat berhenti di titik semacam aliran lahar. Dari Malang pas masuk Lumajang. Menuju Banyuwangi

Banyuwangi

Terima kasih untuk Cak Sobri yang sempat menyempatkan buat menemui ketika rombongan mampir di Jember. Walaupun kami mampir cuma bentar banget di Jember.

Terima kasih untuk perjalanan ini, aku berhasil sampai ke titik terjauhku di Jawa. Dan di tempat yang belum pernah terbayangkan. Pertama, aku sampai ke Genteng, tempatnya keren banget dan lumayan dingin. Ketika bangun pagi terus melihat ke utara, woaah, kerenn banget pemandangannya. Gunung Raung dan gunung-gunung lain di barisannya benar-benar menghipnotis pandangan.

Woaaaaaaaaaah......


Selanjutnya, ke Kecamatan Glenmore buat transit dan short briefing sebelum berangkat ke lokasi survey. Yes, namanya Glenmore, nggak ada Jawa-jawanya. Nama Glenmore konon berasal dari keluarga Skotlandia yang pernah tinggal di sana. Glenmore dan Genteng jadi kecamatan terjauhku di Pulau Jawa sampai titik ini, karena sebelumnya aku pernah ke Kalibaru, sedikit di sebelah baratnya Glenmore dan Genteng.

Kemudian masuk ke bagian yang nggak terbayangkan sebelumnya. Titik penelitianku ternyata 40 km dari Glenmore. Merasuk ke bagian tenggara Banyuwangi. Lebih tepatnya : kecamatan paling timur di Pulau Jawa!
Sampai di samping dan halaman rumah pun ada pohon buah naga

Letaknya persis di sebelah Taman Nasional Alas Purwo --kamu bisa lihat "ekor"nya Jawa di bagian timur, itulah Alas Purwo. Berada di tempat ini, kerasa banget panasnya, selain itu bahasa Osing-nya juga beda dengan bahasa Jawa pada umumnya. Yang nggak kalah menarik, daerah ini ternyata jadi penghasil buah naga, produksinya banyak banget. Kalau ada yang tahu kasus buah naga dibuang-buang ke sungai dan viral di medsos, ya di sekitar lokasi penelitianku inilah tempat kejadiannya. Harga yang anjlok banget jadi penyebabnya. Cuma 1.500 per kg, bayangkan.

Kemudian setelahnya perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pulomerah, refreshing sebentar, ditemani senja yang membantu melepas segala ketegangan. Selanjutnya, kembali ke Glenmore sebelum melakoni perjalanan panjang, balik ke Jogja lagi.

Senja di Pantai Pulomerah


-----
Ada obrolan dengan Pak Wiwid (yang nggak sempat terdokumentasi), alumnus UGM yang jadi pemilik perusahaan sekaligus lakon pemberdayaan petani kedelai hitam di area Banyuwangi. Menarik, membuat fragmen-fragmen yang terpisah selama penelitian bisa menyatu dan jadi pengetahuan baru. Bahwa petani perlu lebih dihargai. Bahwa pemberdayaan petani sudah dan perlu terus dilakukan. Bahwa perjuangan masih jauh dari kata usai.

Kedelai hitam adalah komoditas yang cendeung diterima petani, prosesnya mudah dan hasilnya baik. Juga bebas dari praktik pertengkulakan yang sangat merugikan petani. Semoga skema seperti dalam budidaya kedelai hitam bisa ditiru komoditas pertanian lain.

7 Hari Mengunjungi Malika (1)

Empat pekan lalu, aku tergabung ke sebuah penelitian. Penelitiannya tentang Malika, kedelai hitam yang dirawat pak tani seperti anaknya sendiri. Eh kalimat barusan ini serius, loh, ternyata. Malika adalah varietas kedelai hitam hasil pemuliaan yang dilakukan UGM, jadi programnya PT Unilever. Nah penelitian ini menyentuh peran koperasi/penyalur dan bagaimana keberadaan Malika berpengaruh terhadap petani dan pertanian kedelai hitam.

Ini, Malika
 
Sebelum dimulai, aku menyampaikan terima kasih untuk Pak Abdur Rofi dan Pak Sabastian Saragih dari Circle. Juga Danung, Ira, Elsa, Mbak Rizka, dan Mbak Ayu sebagai partner keren selama sepekan.

Di tengah padatnya jadwal yang nggak sudah-sudah, akhirnya tulisan ini selesai dan aku putuskan memecah jadi dua tulisan. Tapi aku publish hampir bersamaan, sekadar untuk menjaga biar tulisan ini nggak kepanjangan. Cukup sampai sini deh, ya, intronya. Selamat membaca :)


Bantul dan Kulon Progo

Hari pertama dimulai dari Bantul, dilanjutkan ke Kulon Progo. Ragu, sangat ragu ketika memulai wawancara pertama. Benar saja, aku nggak terlalu nyaman di wawancara pertama ini. Banyak salahnya juga, persiapan dan pertanyaan yang aku ajukan ketika briefing ternyata nggak sepenuhnya sama dengan keadaan di lapangan.

Di Kulon Progo bersama Pak Muhajir

Nah, di sinilah aku pertama kali melihat kedelai hitam "Malika". Ternyata beda dengan yang ada di bayanganku. Aku kira bundar-bundar agak besar gitu, tapi ternyata enggak. Ya sama persis dengan kedelai biasa, cuma warnanya hitam.

Hari kedua pindah ke Kulon Progo. Bertemu dengan Pak Muhajir. Status beliau adalah pengepul, semangatnya untuk pengembangan pertanian kedelai hitam begitu kuat. Berkali-kali menyampaikan ke aku untuk menyampaikan kalau bisa ada bantuan bagi petani-petani kedelai hitam. Pak Muhajir juga lah yang mengantar aku untuk wawancara dari rumah ke rumah gitu.


Ponorogo

Menginap di Hotel Amaris, benar-benar cuma semalam karena sehari sebelumnya mendadak harus langsung menuju Trenggalek setelah Selasa sore dari Kulonprogo. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Ponorogo, tinggal di sana nggak sampai sepekan sebelum banjir Ponorogo beberapa waktu lalu.

Walaupun cuma sebentar, ada kesan yang aku ingat lumayan kuat. Nggak tau kenapa di Ponorogo ini (daerah yang aku lewati pastinya) berasa jarang banget ada Alfamart/Indomaret. Oh iya, satu lagi yang teringat, Ketika di Ponorogo menuju Trenggalek itu lewat di kawasan Pondok Modern Gontor 1 gitu. Dulu ketika di Mu'allimin, kami cukup sering mendengar nama Gontor 1 --salah satunya karena sama-sama pondok, sih. Pernah juga baca novelnya Ahmad Fuadi yang menggambarkan pengalamannya saat di Gontor. Tapi baru kali ini sempat lewat. Dan baru, deh, bisa membayangkan


Trenggalek

Kabupatennya Emil Dardak, nih. Itu lho, wakil gubernur Jawa Timur, yang sejak muda pencapaian pribadinya luar biasa. Sama dengan Ponorogo, ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Trenggalek. Di sini, nih, mulai ketemu dengan logat Jawa Timuran yang khas. Jadi tantangan tambahan pokoknya.

Beberapa gazebo idenya ibu-ibu Saraswati. Mau dijadiin destinasi wisata, katanya

Di Trenggalek, aku kebagian survey di wilayah Desa Kampak. Yang menarik di sini adalah, dari beberapa rumah yang aku survey ada yang kepala keluarganya bekerja merantau, ke Kalimantan dan ke Papua. Selain itu juga dapat istilah baru yang jujur membingungkan. Misal ada istilah ukuran tanah 1 ru, 1 ler. Dan sedihnya, aku tanya konversinya ke ukuran meter pada nggak tahu pula, haduuh. Untung tertolong ibu-ibu Saraswati (semacam kelompok pemberdayaan masyarakat dari CSR Unilever). Terjawab sudah, bahwa ukuran 1 ru = sekitar 4m2 dan 1 ler = 125 ru.

di Trenggalek disuguhi makan siang, dong. Agak dipaksa untuk harus makan. Padahal nggak ada kewajiban bagi mereka buat menyedikan konsumsi. Kagum dengan jamuan mereka, deh :)

-----
Perjalanan paruh pertama ini bikin ironi sebenarnya. Beberapa (ini artinya banyak) dari petani yang aku temui sangat nggak berkecukupan dan rendah pendidikannya. Itulah sebab kesejahteraan di keluarga petani adalah barang langka. Padahal, kan, kita bisa hidup karena hasil kerja keras petani. Tapi, nggak cuma hal buruk yang ada; keramahan dan penghormatannya ke tamu tuhlo. Berkesan banget.


Bersambung... klik di --> tulisan kedua

Kita Bisa Apa untuk Keadilan Gender?



Beberapa bulan terakhir ada kabar tentang Agni (nama samaran), mahasiswa UGM yang menjadi penyintas kekerasan seksual. Nah dari situ aku punya pandangan tersendiri buat pelecehan seksual dan keadilan gender. Walaupun aku sendiri bukan pegiat keadilan gender yang bisa memahami secara mendalam, tapi paling enggak aku selalu mengikuti dan aku pikir ini saat yang tepat untuk menyampaikan pendapatku.


Memang Dua Sisi, Tapi...

Menurutku, kasus pelecehan seksual nggak bisa dipungkiri ditentukan oleh keadaan dan/atau perbuatan dari kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Bahwa ketika sudah tercipta kesepahaman untuk saling menjaga dari laki-laki dan perempuan, pasti pelecehan seksual bisa terminimalisasi. Tapi itu hanya penilaianku secara umum. Untuk sekarang perlu sikap yang berbeda.

Harus diakui bahwa Indonesia saat ini adalah negara dengan nilai-nilai patriarki yang sangat kental. Laki-laki dianggap dominan dan semestinya mendominasi, dalam hal positif, netral, maupun negatif. Terserak pendapat di sekitar kita bahwa laki-laki dianggap lebih pas sebagai pemimpin. Laki-laki gajinya lebih tinggi. Yang kerja harusnya laki-laki saja. Yang lebih berani itu laki-laki, kalau nggak berani jangan ngaku sebagai laki-laki. Laki-laki harus lebih punya inisiatif. Sampai kalau kita sebut kata "penjahat", lebih terbayang cenderung ke laki-laki atau perempuan? Aku yakin sebagian besar dari kita menjawab laki-laki.


Karena dominasi laki-laki, seringkali sudut pandang yang dipakai, ya sudut pandang laki-laki. Sehingga ketika ada kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan, selalu perempuan yang disudutkan, karena anggapan yang umum terjadi adalah : wajarlah kalau laki-laki 'nakal'. Dari situ aku beranggapan bahwa selama budaya patriarki masih sangat kental, victim blaming juga masih lestari, kita perlu terus memperjuangkan bahwa ya si laki-laki yang bersalah.

Apalagi kalau sampai keadaan mental penyintas jadi terganggu. Itu kan sudah jadi bukti sahih bahwa penyintas perlu dibela, dilindungi, dipahami keadaannya.


Kesadaran untuk Urusan Gender

Bagaimanapun proses dan hasilnya, setelah kasus Agni kemarin sukses membuat aku berpikir lebih dalam dan lebih jauh untuk keadaan gender di negara kita tercinta. Bahwa urusan gender nggak terbatas di urusan pelecehan seksual. Kita perlu lebih peduli karena keadilan gender masih mahal dan jarang banget tersedia di Indonesia. Sesederhana hubungan dekat laki-laki dan perempuan, hubungan suami-istri, sampai dalam organisasi kita, masih perlu banyak sentuhan keadilan gender. Karena sekarang secara umum yang terjadi ya, laki-laki lebih diutamakan.

Padahal, menurutku perbedaan laki-laki dan perempuan itu ya di urusan fisik saja. Mungkin tersambung ke urusan hormonal dan genetik juga, tapi output yang bisa diberikan dalam kehidupan sehari-hari nggak jauh beda kok. Bahkan dalam banyak hal aku akui perempuan secara umum bisa lebih baik dari laki-laki. Perempuan bisa memimpin, bisa melakukan hal-hal yang identik dengan laki-laki, dengan kualitas yang sama. Pun nggak hanya laki-laki yang bisa jadi jawaban dalam segala urusan di kehidupan, perempuan juga sama krusialnya.

Pendapatku ini aku berikan tanpa mengabaikan aturan-aturan agama, lho, ya.


Untuk Kita, Laki-laki dan Perempuan

Sekarang, tinggal bagaimana laki-laki sebagai "pemegang otoritas" dalam lingkungan kita lebih memberi ruang buat perempuan. Memahami perempuan lebih dalam lagi. Bukan sekadar memahami bagaimana caranya bikin perempuan baper dan tertarik sama kita, tapi ayolah beri ruang untuk perempuan bisa berekspresi dan mencapai potensi tertinggi mereka.

Pahami saat-saat dimana perempuan perlu pendekatan dan proses belajar yang berbeda. Beri ruang untuk memimpin, ajak ngobrol dan pahami dari perspektif laki-laki dan perempuan, beri kesempatan untuk berpendapat dan merealisasikan pendapatnya. Hindari juga kebiasaan-kebiasaan yang melazimkan pelecehan terhadap perempuan. Jangan pernah gunakan kekerasan, baik itu kata-kata, tekanan mental, apalagi sampai fisik.

Sebaliknya, buat perempuan juga begitu. Jangan lagi menganggap bahwa perempuan inferior. Apalagi dengan dalih "perempuan kodratnya memang begitu". No, kodrat perempuan cuma dalam urusan reproduksi dan bentuk fisik, untuk peran dan dan keadaan selain itu, konstruksi sosial dalam lingkungan kita yang menentukan, bukan kodrat. Yang lebih penting, saat dunia mulai mendukung perempuan untuk lebih berdaya, kalian para perempuanlah eksekutornya. Perubahan nggak bisa terjadi kalau perempuan nggak mau memperbaiki keadaannya sendiri.

Kalau sudah sampai di situ, lanjutkan, coba untuk selain menuntut hak yang setara, juga siap saling bantu dengan menanggung kewajiban yang setara. Semua perlu kita lakukan, dalam usaha memanusiakan manusia. Dan laki-laki maupun perempuan adalah sama-sama manusia.



---
Tulisan ini mulai dibuat setelah pengumuman akhir dari kasus Agni dan diselesaikan dua hari setelah Hari Perempuan Internasional 2019.

Langkah 3 : Naban yang Nggak Bisa Sendirian

Harus diakui, Naban (terutama di awal periode PD IPM Jogja 17-19) adalah pribadi yang egois. Sok-sokan.

Hanya karena punya kelebihan sedikit (banget) kemampuan, konsistensi, dan pengalaman kemudian nggak jarang jadi merasa hebat dan menuntut banyak.



Ya, seperti yang aku tulis beberapa waktu lalu. Aku belajar banyak. Makin ke sini, makin sadar bahwa aku ada di posisi ketum karena beruntung aja keadaan mengizinkan. Perkara kebaikan dan pencapaian yang dilakukan PD IPM Jogja, ya itu karya bersama teman-teman. Malah aku dengan peranku sesungguhnya nyaris nggak punya peran langsung. Kalaupun ada peran langsung itu hanya sedikit, dan pengganti aja.

Nyawa PD IPM Jogja ya dari bidang-bidang, tanpa terkecuali. Ada seratus tiga puluh lebih program di periode ini dengan segala rintangannya, belum lagi gerakan dan aktivitas non-program. Mayoritas ya dilakukan oleh teman-teman bidang, bukan ketum, bukan Naban.

No, dengan tulisan ini bukan berarti aku beranggapan bahwa Naban yang sekarang lebih mendingan keegoisannya, cuma sekarang aku jadi lebih sadar aja.

Beberapa poin yang aku sebut di atas tadi benar terjadi. Salah satunya di Rapat Pleno 1 (Agustus 2017), PD IPM periode ini menjalankan evaluasi resmi pertamanya. Banyak masukan, kritikan, sampai protes disampaikan, terutama ke aku dengan segala tindak-tandukku. Mulai dari yang harus lebih terbuka dan transparan, ekspresi yang perlu lebih dikondisikan, sampai sikap yang jangan sampai terlalu menyeret-nyeret teman-teman PD IPM.

Evaluasi yang cukup menyita tenaga sebenarnya, selain perlu mendengarkan dengan seksama juga perlu menerapkannya segera sebagai pelajaran. Apalagi dengan aku yang dari dulu jarang serius menindaklanjuti sikap orang-orang di sekitarku. Tapi yang aku senang, teman-teman dengan semangatnya meminta evaluasi malam itu dilanjutkan sampai lewat tengah malam. Malah baru selesai setelah pukul 2.00 dinihari. Energi positif yang selalu dilakukan di dua rapat pleno selanjutnya.



Dari Rapat Pleno 1 dan banyak peristiwa lain, aku terus belajar. Merangkak sedikit demi sedikit untuk lebih paham lagi dan lagi. Kekuatan dari teman-teman lah yang kemudian terus mewarnai dan bikin PD IPM Jogja makin membaik, makin kuat dari waktu ke waktu.


Bersambung ke langkah-langkah selanjutnya

Langkah 2 : Apa yang Kamu Dapat Selama Jadi Ketum?

Mohon maafkan foto utama yang sangat pencitraan ini hehe. Foto lain mulai dari pertemuan sampai beberapa agenda dan foto yang nggak banget ada di bawah ya :)

 Apa yang kamu dapat selama jadi ketum?

Pertanyaan di atas disampaikan baru-baru ini oleh Syahnindita Erhan (Anin panggilannya, Anggota Bidang ASBO). Menarik sekaligus menantang untuk dijawab.

Karena banyak banget yang sudah aku dapatkan selama menjadi ketum. Saking banyaknya, sampai nggak sanggup kalau harus mengingat satu per satu. Tapi, paling enggak aku sebutkan beberapa yang paling membekas. Siapa tahu bisa sama-sama jadi pelajaran


Kenal Banyak Teman dari Berbagai Daerah
PD IPM sangat membantu dalam mengenal lebih banyak orang dari mana-mana. Mulai dari seluruh Kota Jogja, ragam kabupaten di DIY, sampai ragam provinsi dan kota di Indonesia.

Selama menjadi ketum inilah mendapat ragam cerita setelah bertemu banyak orang. Mulai dari perbedaan logat, kebiasaan, sampai perbedaan tantangan di setiap daerah. Ada lho, yang sudah jadi ketum di tingkat wilayah (provinsi) tapi masih kelas 12 SMA, ada juga yang ketika mau menyebar surat harus seharian penuh. Cerita-cerita semacam itu bikin aku mulai tahu, dan pelan-pelan melalui PD IPM ataupun jalan lain, aku mulai mengunjungi teman-teman seikatan itu satu persatu.

Foto bersama teman-teman dari Kalimantan Barat

Foto bersama teman-teman dari Medan







Foto bersama teman-teman dari Lampung dan Batam, Kepulauan Riau

Dapat Pengalaman yang Nggak Terbayang Sebelumnya
Membawa uang tunai 150juta dalam tas misalnya. Atau bekerjasama dengan organisasi/ komunitas tingkat nasional dan internasional. Atau ngobrol banyak hal dengan tokoh-tokoh yang biasanya cuma kita lihat di TV/ internet.

Nggak pernah ada dalam bayangan aku membawa uang sebanyak itu, ternyata berat bos, bikin tas penuh hehe.

Berkat pengalaman-pengalaman di PD IPM inilah aku tau rasanya. Juga seorang Naban yang hanya tinggal di Lampung dengan keadaan seadanya, jauh dari gaya hidup perkotaan apalagi lintas kota nggak pernah kebayang untuk bisa semacam ini. Dulu aku ingat seumur-umur hanya sekali bisa melihat iring-iringan presiden, itupun nggak sengaja. Juga hanya sekali dan senang banget ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah hadir ke kompleks sekolahku.


Menghargai Uang dan Waktu
Uang adalah satu hal yang kadang kita anggap sepele. Apalagi kalau hidup kita sudah tercukupi. Tapi ketika harus menjaga agenda organisasi tetap hidup dengan sumber keuangan yang antah-berantah, pasti jadi pikiran tuh.

Yang lebih penting lagi adalah waktu. Aku sangat banyak diajari tentang waktu. Mulai dari melakukan sesuai waktunya, mencoba menerapkan prinsip tepat waktu, sampai memilih momen yang tepat. Juga ternyata untuk menjaga tepat waktu itu susahnya minta ampun. Khusus untuk lingkup Indonesia, sepertinya tradisi tepat waktu belum bisa untuk terlalu dipaksakan.

Belajar menghargai uang maupun waktu membuat 


Peduli dengan Pelajar
Lelah dengan pertanyaan, "kenapa sudah mahasiswa tapi kok masih di IPM?"

Sukanya lho menanyakan pertanyaan semacam itu. Sampai pada lupa bahwa tanggungjawab adik-adik kita di SMP/SMA itu nggak bisa dibatasi hanya pada guru dan pemerintah. Kita yang mahasiswa, generasi yang satu klik di atas para pelajar juga punya tanggungjawab, bukan hanya nyinyir tentang generasi micin dan pelajar zaman now saja tuhlo. Kalo nggak kita, siapa lagi?

Jambore Perkaderan 2017
Di sela Student Camp 2018



Belajar Memahami Orang
Ini yang paling penting!

Aku nggak bisa membayangkan banyaknya perubahan dan pelajaran yang aku dapatkan tentang seseorang. Bahwa ternyata perlu pendekatan personal. Bahwa ternyata banyak hal yang kita sepelekan itu bisa jadi sangat berarti buat orang lain. Dan hal ini terjadi banget di aku.

Aku merangkak dari yang sangat ndak peduli urusan personal dan memahami orang, sampai sekarang mulai bisa mengerti walaupun sedikit-sedikit. Bahkan, kalau ditanya tentang bagaimana mengatasi persoalan, atau badai-badai kecil dalam organisasi, ya pendekatan personal ini jawabannya. Seolah jadi bagian dari obat segala penyakit gitu deh.

Dan jujur, ini yang begitu berguna dari segala pengalaman dalam organisasi.


Jadi Pembicara yang Baik
Penutupan Student Camp 2018

PD IPM benar-benar memberi wadah untuk ini. Dari awal dulu aku ingat pertama kali mengisi materi ketika masih kelas 11 MA. Garing materinya. Susah dipahami. Ditambah lagi memang bawaanku yang kaku. Dan parahnya, saat itu aku mengisi materi dengan audiens kelas 10 dan 11 dari salah satu SMA Muhammadiyah di Yogyakarta. Salah satu akibatnya adalah dibilang nyeremin sama Mumtaza, salah satu peserta dahulu yang sekarang jadi bagian dari PD IPM Jogja (Anggota Bidang ASBO) --bahkan dia masih ingat sampai sekarang ketika aku sudah nggak ingat-ingat banget.

Tapi betapapun buruknya, disitulah aku mulai belajar bisa ngomong di depan umum. Merangkak pelan-pelan untuk belajar makin baik dan makin baik lagi. Kalau sekarang sudah mendingan ketika berbicara di depan, ya itu karena IPM. Kalau sekarang sudah bisa melontarkan humor walaupun sedikit, ya itu dari IPM. Kalau kemarin sudah berhasil terjun-berdialektika selama sidang komisi di Muktamar XXI IPM ya itu dimulai sejak kelas jadi pemateri IPM.



Pendek kata, langkah 2 ini mengantarkan ke perenungan yang dalam. Bahwa banyak yang patut disyukuri selama ber-IPM, juga banyak yang harus terus diperjuangkan dan dipelajari lagi.

Bersambung ke langkah selanjutnya


Bersama Mas Khoirul Huda dan Mas Azaki (Ketum-Sekjend PP IPM 2014-2016) di Student Camp

Pose gelapku pasca Upgrading 3



Muka ngantuk + sarung. Cocok! hehe


Menerima kenang-kenangan dari PD IPM Medan

Menerima kenang-kenangan dari PW IPM Kalimantan Barat. Abang ini namanya Dayat, sampai sekarang berteman baik. Ya karena IPM.

Foto bersama di kantor kecil kami, dengan teman-teman dari Kalbar

Langkah 1 : Ketika Semua Dimulai

Foto pasca-pelantikan, 2 April 2017 di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta


Awal dari semuanya adalah 5 Maret 2017, Musyda IPM Kota Yogyakarta menghasilkan susunan tim formatur. Dengan Nabhan sebagai Ketua Umum dan Laila sebagai Sekretaris Umum.

Kemudian 2 April 2017 adalah saat ketika semua dimulai. SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Struktur PD IPM Kota Yogyakarta 2017-2019 dilantik.


Nggak pernah terbayang dalam benak seorang Nabhan untuk bisa memimpin. Tapi, apa yang terjadi-terjadilah.


__________________
Usai pelantikan kami tak langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing. Rapat kerja pimpinan (Rakerpim) sudah menanti. Siang hingga malam. Sebenarnya, aku nggak enakan pada saat itu, karena rentetan agenda pagi-malam bakal sangat melelahkan. Bahkan, aku yang jarang drop saat itu juga sempat pusing-pusing, alhamdulillahnya satu tablet paracetamol cukup bisa mengobati. Walaupun nggak enakan pada awalnya, tapi justru ada banyak hal lain bisa dipetik.

Di titik ini aku bersyukur banget bisa berkarya bersama mereka, seluruh PD IPM Kota Yogyakarta 2017-2019 tanpa terkecuali. Bagaimana tidak, Rakerpim kali ini berbeda dengan beberapa Rakerpim sebelumnya yang ndak cukup hanya sehari. Yang ini, semua bidang sudah punya draft program kerja, pembahasan cukup setengah hari. Walaupun sangat padat tapi secara umum semua mengikuti dengan baik.

Nggak cukup sampai di situ, Upgrading jadi kelanjutan awal-awal periode ini.
15 April 2017 saat itu. Wisma Mentari, Kaliurang jadi saksi kolega sekaligus keluarga baru saling mengenal, tumbuh bersama, dan mulai menyusun amunisi. Baru tahu juga, kalau teman-teman PD ternyata punya kepribadian yang keren sekaligus unik. Meme-nya tuh, lho, bagus-bagus, berkesan, menghibur banget. Ternyata, banyak dari teman-teman karibku ini punya selera humor yang baik. Selebihnya, semua punya hal spesial dan kualitasnya masing-masing.

Ada motivasi khusus dari Kak Azhar juga di Upgrading, untuk menegaskan alasan dan pengalaman-pengalaman baik selama di IPM. Pertanyaan "apa pengalaman terbaikmu di IPM?" bisa menjadi motivasi tersendiri untuk melanjutkan perjuangam. Selain itu, ada juga motivasi dari beliau untuk saling menjaga. "Kalau 75% personil PD bisa bertahan sampai akhir, itu sudah jadi prestasi tersendiri," kata Kak Azhar di salah satu ujarannya.

__________________
Satu yang perlu diperhatikan, dalam rentang 5 Maret - 2 April itu cukup lama dan bukan berarti tanpa agenda, ya. Pendampingan dan agenda kolaborasi datang silih berganti. Dan, nyambi-nyambi yang semacam ini menjadi rutinitas kami, dari awal hingga detik ini. Kelak aku coba ceritakan dalam satu tulisan tersendiri.


Bersambung dalam langkah-langkah selanjutnya....



Foto-foto Upgrading
Foto upgrading pertama (1) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (2) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19
Foto upgrading pertama (3) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (4) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (5) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Foto upgrading pertama (6) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19


Sebagian Kecil dari Koleksi Meme PD IPM Jogja
Meme Irsyad | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Hidan | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi dan Irsyad | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Arhan & Hammam | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi & Aufar (1) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Robi dan Aufar (2) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme TA & Fadhli| Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme-ku sendiri (lupa siapa yang bikin, hehe..) | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme pasukan menuju pendakian Gn. Prau | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Anggitya | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Tio | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19

Meme Jayastu | Sumber : Grup Line PD IPM Kota Yogyakarta 17/19