Terjebak dalam Pandemi

4/19/2020 0 Comments

Mengawal Nahwan pulang ke Lampung

Sebelum balik ke Jogja, Bapak bilang, "Aban, kalau kamu ada libur seminggu gitu nggak apa-apa lho pulang ke Lampung."

Lalu aku mengiyakan Bapak. Saat itu baik aku maupun Bapak belum membayangkan bakal jadi apa keadaan 3 pekan kemudian.


Maret pekan kedua, hari Jumat aku masuk kelas terakhir kalinya. Inilah kelas teori tatap muka terakhirku. Singkatnya kuliah terakhir deh. Begitu selesai, beredar rumor kampus-kampus mulai meliburkan mahasiswanya, kuliah online untuk pencegahan corona gitu.

Dinamika berkembang terus sampai sore/malam harinya gitu (aku lupa) UGM juga ikut memindahkan pertemuan jadi kelas online. Aku langsung mbatin, "Well, pas kuliahku habis malah saat itu kuliah online digalakkan. Padahal 3,5 tahun kuliah jarang banget merasakan kuliah online niiih.."

Tapi ya sudahlah, perasaan itu datang sekilas saja. Begitu kuliah selesai aku harus segera pindahan dari Wirobrajan di Kota Jogja menuju Cebongan, agak ke pinggir kota, sekitar 4 kilometer dari Terminal Jombor di Mlati, Sleman. Sebenarnya satu kecamatan dengan UGM, tapi ini Mlati bagian pedesaan dan agak jauh dari Mlati bagian dekat UGM gitu deh.

Hari Ahad-nya barulah pindahanku selesai. Lalu besoknya kabar yang ditunggu-tunggu sekaligus dikhawatirkan datang. Bahwa adikku yang sekolah di Muallimin dan tinggal di asrama diliburkan. Sekolah dari rumah sampai tiga bulan ke depan. Lengkap dengan protokol penjemputan yang ketat. Bapak dan Ibu di rumah langsung menghubungi aku dan Nuha sebagai wali jadi-jadiannya si Nahwan.

Tadinya Nuha yang diutamakan buat mengantar (terutama karena aku belum selesai pindahan dan masih ada tanggungan proposal skripsi). Tapi ternyata Nuha nggak bisa karena ada beberapa tanggungan yang nggak kalah penting. Aku sempat membuka opsi Nahwan pulang sendiri, karena Nahwan bilangnya juga siap-siap aja.

Tapi Bapak nggak sampai hati. Yasudah deh aku yang mengajukan diri daripada Bapak yang harus menjemput. Keputusan segera diambil, tiket segera kubeli di sela-sela pindahan. Rabu sore aku dan Nahwan menuju Lampung menumpang bus Puspa Jaya.

Kira-kira aku sepekan stay di Lampung. Sambil memantau keadaan corona, sekaligsus membuka opsi stay lebih lama di rumah untuk menyelesaikan proposal skripsi di Lampung saja. Tapi kemudian keadaan nggak memungkinkan banget untuk tetap di rumah sambil ngapa-ngapain. Akhirnya setelah minta restu Ibu dan Bapak aku putuskan tanggal 22 Maret aku kembali ke Jogja.


Naik pesawat sore-sore, bandaranya sepi banget. Begitu juga dengan pesawat menuju Jogja yang sepi, sepertinya nggak sampai 20 orang sepesawat denganku saat itu. Berkebalikan dengan trayek sebaliknya, Jogja-Lampung, yang justru ramai. Malah penuh banget, sampai habis tiketnya.

Bahkan, saking sepinya perjalananku, tiketnya juga murah banget. Aku dapat tiket pesawat dengan harga di bawah 600 ribuan, padahal biasanya di atas 800 ribu. Dikurangi diskon-diskon gitu aku dapat harga nggak sampai 500 ribu. Lumayan banget kan kalau dibanding perjalanan darat yang memakan biaya sekitar 400 ribu.

Sampai di Jogja aku naik taksi ke Cebongan, sambil cerita-cerita dengan bapaknya. Saat itulah aku dapat gambaran betapa pandemi belum lama datang tapi sudah sangat mengganggu pekerjaan di bapak dan rekan seprofesi. Pandemi ini ternyata nggak main-main. Begitupula dengan apa yang aku hadapi setelahnya.

Ketika sampai, aku langsung desinfeksi. Di luar rumah sudah disiapkan seember air oleh mas Galih yang saat itu di rumah. Aku langsung cuci tangan sampai bersih, lalu langsung mandi bersih tanpa menyentuh barang-barang di rumah sedikitpun--saat itu pintu juga sudah dibukakan oleh mas Galih. Nggak ketinggalan baju dicuci saat itu juga, tas dan koper dijaga agar nggak terlalu dekat.

Saat-saat sampai di depan kompleks dari bandara itu adalah kali terakhir aku berada di luar kompleks selama dua pekan setelahnya. Yup, betul, aku harus swakarantina 14 hari. Parahnya, sehari setelah sampai di rumah mas Galih memutuskan buat pulang kampung.

Aku sendirian. Dengan posisi nggak ada kompor, nggak ada bahan makanan yang cukup. Beruntung beberapa hari kemudian ada teman kampus yang membantu, sepekan setelahnya juga ada teman (spesial) yang membawakan kompor.

Meskipun swakarantina jadi mimpi buruk, tapi dua minggu penuh kesulitan dan kesendirian itu bisa dibilang lumayan berhasil. Aku makan teratur dua kali sehari, ada jatah snack juga, pun beberapa pekerjaan rutin bisa digarap. Plus yang terakhir, yang cukup spesial, aku mengerjakan beberapa kali revisi proposal skripsi.

Nah, di hari pertama setelah menamatkan masa karantina aku seminar proposal (sempro) online. Pagi hari aku awali dengan lari pagi, sehari sebelum memutuskan keluar agak jauh dari kompleks. Puncaknya malam hari setelah sempro aku beli makan lauknya dua. Sebagai pertanda mengakhiri masa-masa penuh penderitaan hehehe...

Sudah kaya merasakan bebas dari penjara pokoknya!


Lalu sekarang, aku ada di 11 hari setelah sempro. Masa stay at home harus diperpanjang karena keadaan belum membaik. Justru menurut beberapa sumber sedang otw menuju puncak pandemi.

Sejak sempro itu pun aku baru keluar kompleks 3-4 kali, paling banyak buat memenuhi kebutuhan. Potong rambut biar nggak terlalu berantakan, juga restock kebutuhan kalau bahan makanan sudah mulai menipis, sampai beli tabung gas untuk persiapan perpanjangan masa-masa di rumah aja.

Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini terasa lebih cepat dari sebelumnya. Karena sekarang kegiatannya cukup padat. Bahkan intensitasnya mirip dengan waktu-waktu sebelum corona menyerang. Karena kebetulan aku gabung di beberapa inisiatif yang coba membantu saat pandemi ini.

Dan, sekarang aku nggak mengkhawatirkan suasana kesepian. Sudah makin biasa saja rasanya. Khawatir pasti ada, tapi sejauh ini bisa tenang. Malah sekarang lebih khawatir dengan kesehatan mataku. Karena harus menatap layar 9 jam sehari, break dari garapan di laptop ya buka hape, pagi-malam buka laptop. Jadinya, layar lagi, layar lagi. Semoga setelah ini bisa disiplin ambil jeda biar mata tetap sehat deh, ya.

Perihal mudik, sampai sekarang sepertinya aku condong ke imbauan yang ada. Bersiap untuk nggak mudik, terjebak dalam pandemi, menjalankan ramadan dan lebaran sendirian, entah bagaimana rasa dan risikonya. Yang jelas, kalau aku benar-benak nggak mudik, kesempatan ini bakal terjadi untuk pertama kali seumur hidup. Antara mau sedih, atau justru excited, kan? Hehehe...

0 komentar: