Nabhan Kapan Nikah?

12/28/2019 10 Comments



Paling cepat Maret 2021. Sangat mungkin mundur, tapi kemungkinan untuk lebih cepat dari itu aku tutup serapat-rapatnya. Clear kan? Hehe...

Kebanyakan orang lain memilih ngeles, ketika ditanya kapan menikah. Aku memilih untuk menjawab sejelas-jelasnya biar konkret. Tapi, ya, bahasan tentang menikah sebenarnya nggak sesederhana itu.

Kecemasan 

Nggak lama lagi aku menginjak usia ke-22, bahasan tentang nikah sepertinya terus mendekat, melaju dengan cepat, berlawanan dengan laju usia. Semakin jauh usiaku melaju, semakin banyak pertanyaan dan bahasan tentang nikah. Tapi aku sendiri menanggapi dengan kalem, waktuku untuk menikah masih jauh, jauh banget. Masih banyak cerita sampai aku bakal benar-benar siap menikah. Sekarang belum ingin dan aku sama sekali nggak mau buru-buru.

Perihal kecemasan selama proses pra-pernikahan, pastinya aku cemas juga dengan keharusan laki-laki untuk melamar--beserta segala hal yang menyertai. Nggak kebayang betapa besarnya tekanan waktu melamar di dunia yang sangat patrilineal ini. Belum lagi kalau sampai ditolak, ini nih yang bikin makin cemas. Mau ditaruh di mana muka para pelamar--yang nggak menutup kemungkinan nasibku juga seperti itu.

Tapi itu masih biasa, aku masih bisa berencana buat menghadapi urusan lamaran. Paling enggak masih bisa percaya diri lah, walaupun hasilnya juga entah. Nah, yang lebih kepikiran lagi adalah rumitnya kehidupan saat dan setelah pernikahan dengan segala bumbunya. Pertama, biaya dan prosesi.


Biaya dan Prosesi

Biaya cukup jadi pikiran. Pernikahan yang layak dan cukup memenuhi gengsi nggak pernah murah. Tempo hari ada tuh thread di home twitter-ku muncul, bilang kalau pernikahannya murah. Tahu berapa biayanya? 25 juta. Beuh. Ketika angka segitu dibilang murah, jiwa misqeenku langsung meronta-ronta...

Ya gimana, seorang Naban sampai di usia 21 tahun ini nggak pernah kebayang punya 25 juta di tangan. Tabungan yang hampir setahun dikumpulkan aja nggak sampai setengahnya. Atau, pernah sih, kebayang pengen punya mobil, properti, tanah. Tapi megang uangnya nggak pernah kebayang, sekadar pengen-pengen aja nah.

Okelah, pengalaman organisasi bikin aku pernah pegang duit puluhan atau bahkan sampai ratusan juta. Tapi itu kan bukan duitku :)

Nah ada yang bilang biaya pernikahan itu murah. Iya bener sih, memang bisa akad nikah dengan gratis. Tapi resepsinya gimana coba? Kalau mau syukuran biasa dengan biaya minim bisa, sih. Tapi itu pun tetap perlu biaya beberapa juta. Plus siap-siap jadi omongan dari Sabang sampai Merauke dah, nggak cuma tetangga hahaha.

Kalaupun si pelaku (istriku dan aku di masa depan) siap dengan prosesi yang sederhana, bisa jadi orang tua yang nggak siap. Keluarga yang ingin lebih.

Lebih detail lagi, masuk ke prosesinya. Ambil yang sederhana saja deh; urusan pakaian misalnya. Aku sama sekali nggak kebayang memakai beberapa set pakaian pernikahan yang super sumuk, ditambah make-up tebal, ditambah harus salaman dengan ratusan tamu undangan. Haduuh, Naban yang sekarang belum siap sama sekali berhadapan dengan yang begituan.

Ditambah juga dengan kecemasan kedua, perjalanan rumah tangga.


Perjalanan Rumah Tangga

Dalam perjalanannya, pasti bakal banyak lika-liku. Gimana bisa hidup dengan satu orang untuk selamanya? Gimana caranya menghindari kebosanan? Terus, mau nggak mau istriku di masa depan jadi circle terdekatku, sahabatku yang paling karib, sekaligus keluarga paling akrab. Baik istriku ataupun aku bakal menggantikan mereka semua.

Lanjut lagi, yang nggak kalah aku khawatirkan adalah tentang diriku sendiri. Semisal terkait emosi, khawatir banget kalau suatu saat emosiku sampai meledak dan marah besar. Sama sekali nggak mau itu terjadi, tapi kan kita nggak tahu keadaan apa yang bakal dijumpai di masa depan.

Seakan terlalu jauh mikirnya, tapi memang begitu senyatanya. Sudah bukan rahasia lagi kalau orang setelah menikah itu serasa berbeda dengan sebelum menikah. Baik laki-laki perempuan bisa punya sikap yang keras (yang nggak pernah diketahui sebelumnya), belum lagi soal selera, ditambah lagi cara komunikasi, dilengkapi dengan kemalasan-kemalasan masing-masing yang sebelumnya nggak kelihatan. Itu semua bisa jadi masalah.


Terlebih lagi baru-baru ini ada data yang tambah bikin was-was. Data perceraian beserta penyebabnya. Jelas tertera tiga penyebab perceraian terbanyak adalah "perselisihan dan pertengakaran terus-menerus", "ekonomi", serta "meninggalkan salah satu pihak". Jadilah mikir lagi, kira-kira kalau besok aku sudah menikah, bisa saling memaafkan sama istriku setiap bikin kesalahan nggak ya? Apakah bisa memenuhi tuntutan ekonomi keluarga? Terus, baik aku ataupun istriku di masa depan bisa tetap setia nggak ya?

Memang, apa yang sudah aku sebut itu sekadar data. Tapi jadi nyata ketika aku akhir-akhir ini cukup banyak dapat cerita tentang lika-liku rumah tangga.

Ada teman yang menderita karena perceraian. Ada juga yang utuh-utuh saja keluarganya, tapi sama sekali nggak nyaman. Dingin suasananya, kaya bukan keluarga. Belum lagi ada yang orangtua-nya bertengkar melulu. Kemudian semua itu diperparah ketika baru-baru ini aku dicurhatin langsung oleh orang yang belum lama ini menikah--intinya dia cerita bahwa menikah tuh nggak enak. Malah lebih dekat waktu "pendekatan" sebelum menikah ketimbang sesudah menikah.

Kemudian cerita-cerita runyam itu disempurnakan dengan aku yang belum lama ini menghayati keruwetan hidup berumahtangga yang dalam film Love For Sale 2. Rumitnya paripurna kan ya.

Calonnya Gimana?

Perihal istri di masa depan, bayangannya pasti ada lah. Ya, siapa lagi? Orangnya pasti perempuan-yang-sedang-dekat dengan aku saat ini. Tapi kita masih sama-sama belajar, jadi ya sekarang bareng-bareng menyusun kebaikan keren dulu aja. Belum membahas sampai urusan menikah. Kalaupun sudah ya nggak aku bocorin di sini laaah, enak aja rahasia perusahaan diumbar-umbar~

Memang, secara prinsip aku tetap sepakat pacaran bukan jalan terbaik, tapi nikah muda tanpa kesiapan tambah parah efeknya dan jadi seburuk-buruknya pilihan. Jadi, sekarang yang penting gimana caranya tetap patuh hukum nggak mendekati zina.

Eh, emang bisa pacaran tanpa mendekati zina?
Ya nggak tahu, liat saja besok. Selalu aku semogakan sekaligus aku usahakan. Yang jelas aku lagi membayangkan model hubungan yang melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh suka cita--seperti official soundtrack-nya film Habibie-Ainun. Asik nggak tuh :)

10 komentar:

  1. Semoga Allah SWT meluaskan rejeki mas naban dan memudahkan segala urusan.

    BalasHapus
  2. Aku bacanya sambil ketawa kak! Semuanya sama dg opiniku, nikah gak semudah itu ka Nabhan! Wkwk

    BalasHapus
  3. """""Perihal istri di masa depan, bayangannya pasti ada lah. Ya, siapa lagi? Orangnya pasti perempuan-yang-sedang-dekat dengan aku saat ini.""""""

    BalasHapus
  4. Butuh WO all set hub jayadecor

    BalasHapus
  5. Ini bacanya sy sambil ngebayangin dengerin kamu ngomong ini dengan intonasi cepat ban wkwkwk

    BalasHapus
  6. Hahahaha. Ketawa saya mantap nih mas. All thats truee~~

    Maunya nikah di KUA,pakek kemeja biasa. resepsi dirumah, kalo Ndak di rumah makan.
    Kelaaaaaaar~
    Kelaaaaaaaaaaaaaaarrrrr~

    #nah.ghibah.time.tetangga.dimulai



    BalasHapus
  7. Pas akhirnya aku Malah nyanyi. Wkwkw serius kamu udah ditanya kapan nikah ? Dulu aku lagi se kamu gitu belum ada yang tanya wkwwk

    BalasHapus
  8. Butuh design undangan, kebutuhan design lain? hub.08229757xxxx @inisial_kilo

    BalasHapus