Kita Bisa Apa untuk Keadilan Gender?

3/10/2019 0 Comments



Beberapa bulan terakhir ada kabar tentang Agni (nama samaran), mahasiswa UGM yang menjadi penyintas kekerasan seksual. Nah dari situ aku punya pandangan tersendiri buat pelecehan seksual dan keadilan gender. Walaupun aku sendiri bukan pegiat keadilan gender yang bisa memahami secara mendalam, tapi paling enggak aku selalu mengikuti dan aku pikir ini saat yang tepat untuk menyampaikan pendapatku.


Memang Dua Sisi, Tapi...

Menurutku, kasus pelecehan seksual nggak bisa dipungkiri ditentukan oleh keadaan dan/atau perbuatan dari kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Bahwa ketika sudah tercipta kesepahaman untuk saling menjaga dari laki-laki dan perempuan, pasti pelecehan seksual bisa terminimalisasi. Tapi itu hanya penilaianku secara umum. Untuk sekarang perlu sikap yang berbeda.

Harus diakui bahwa Indonesia saat ini adalah negara dengan nilai-nilai patriarki yang sangat kental. Laki-laki dianggap dominan dan semestinya mendominasi, dalam hal positif, netral, maupun negatif. Terserak pendapat di sekitar kita bahwa laki-laki dianggap lebih pas sebagai pemimpin. Laki-laki gajinya lebih tinggi. Yang kerja harusnya laki-laki saja. Yang lebih berani itu laki-laki, kalau nggak berani jangan ngaku sebagai laki-laki. Laki-laki harus lebih punya inisiatif. Sampai kalau kita sebut kata "penjahat", lebih terbayang cenderung ke laki-laki atau perempuan? Aku yakin sebagian besar dari kita menjawab laki-laki.


Karena dominasi laki-laki, seringkali sudut pandang yang dipakai, ya sudut pandang laki-laki. Sehingga ketika ada kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan, selalu perempuan yang disudutkan, karena anggapan yang umum terjadi adalah : wajarlah kalau laki-laki 'nakal'. Dari situ aku beranggapan bahwa selama budaya patriarki masih sangat kental, victim blaming juga masih lestari, kita perlu terus memperjuangkan bahwa ya si laki-laki yang bersalah.

Apalagi kalau sampai keadaan mental penyintas jadi terganggu. Itu kan sudah jadi bukti sahih bahwa penyintas perlu dibela, dilindungi, dipahami keadaannya.


Kesadaran untuk Urusan Gender

Bagaimanapun proses dan hasilnya, setelah kasus Agni kemarin sukses membuat aku berpikir lebih dalam dan lebih jauh untuk keadaan gender di negara kita tercinta. Bahwa urusan gender nggak terbatas di urusan pelecehan seksual. Kita perlu lebih peduli karena keadilan gender masih mahal dan jarang banget tersedia di Indonesia. Sesederhana hubungan dekat laki-laki dan perempuan, hubungan suami-istri, sampai dalam organisasi kita, masih perlu banyak sentuhan keadilan gender. Karena sekarang secara umum yang terjadi ya, laki-laki lebih diutamakan.

Padahal, menurutku perbedaan laki-laki dan perempuan itu ya di urusan fisik saja. Mungkin tersambung ke urusan hormonal dan genetik juga, tapi output yang bisa diberikan dalam kehidupan sehari-hari nggak jauh beda kok. Bahkan dalam banyak hal aku akui perempuan secara umum bisa lebih baik dari laki-laki. Perempuan bisa memimpin, bisa melakukan hal-hal yang identik dengan laki-laki, dengan kualitas yang sama. Pun nggak hanya laki-laki yang bisa jadi jawaban dalam segala urusan di kehidupan, perempuan juga sama krusialnya.

Pendapatku ini aku berikan tanpa mengabaikan aturan-aturan agama, lho, ya.


Untuk Kita, Laki-laki dan Perempuan

Sekarang, tinggal bagaimana laki-laki sebagai "pemegang otoritas" dalam lingkungan kita lebih memberi ruang buat perempuan. Memahami perempuan lebih dalam lagi. Bukan sekadar memahami bagaimana caranya bikin perempuan baper dan tertarik sama kita, tapi ayolah beri ruang untuk perempuan bisa berekspresi dan mencapai potensi tertinggi mereka.

Pahami saat-saat dimana perempuan perlu pendekatan dan proses belajar yang berbeda. Beri ruang untuk memimpin, ajak ngobrol dan pahami dari perspektif laki-laki dan perempuan, beri kesempatan untuk berpendapat dan merealisasikan pendapatnya. Hindari juga kebiasaan-kebiasaan yang melazimkan pelecehan terhadap perempuan. Jangan pernah gunakan kekerasan, baik itu kata-kata, tekanan mental, apalagi sampai fisik.

Sebaliknya, buat perempuan juga begitu. Jangan lagi menganggap bahwa perempuan inferior. Apalagi dengan dalih "perempuan kodratnya memang begitu". No, kodrat perempuan cuma dalam urusan reproduksi dan bentuk fisik, untuk peran dan dan keadaan selain itu, konstruksi sosial dalam lingkungan kita yang menentukan, bukan kodrat. Yang lebih penting, saat dunia mulai mendukung perempuan untuk lebih berdaya, kalian para perempuanlah eksekutornya. Perubahan nggak bisa terjadi kalau perempuan nggak mau memperbaiki keadaannya sendiri.

Kalau sudah sampai di situ, lanjutkan, coba untuk selain menuntut hak yang setara, juga siap saling bantu dengan menanggung kewajiban yang setara. Semua perlu kita lakukan, dalam usaha memanusiakan manusia. Dan laki-laki maupun perempuan adalah sama-sama manusia.



---
Tulisan ini mulai dibuat setelah pengumuman akhir dari kasus Agni dan diselesaikan dua hari setelah Hari Perempuan Internasional 2019.

0 komentar: