Bagaimana Rasanya Jadi Orang yang "Dari Sana-nya" Nggak Peka?

9/28/2018 0 Comments



Kepada kalian yang sering merasakan akibat dari keenggakpekaan,

aku mohon,
ajari orang-orang yang belum bisa bersikap peka itu, biar mereka bisa lebih peka.

Aku tau seringkali kalian sakit hati karena beragam bentuk keenggakpekaan. Tapi percayalah, membantu orang di sekeliling kalian untuk menjadi lebih peka adalah sangat mulia.


--------------
Aku, seorang Naban yang besar dan mendewasa tanpa tahu banyak tentang peka mau mencoba bercerita.

Kepekaan ini sesuatu yang dulu aku anggap nggak penting. Aku cuek-cuek aja, nggak terlalu memperhatikan kekuatan kata-kata.

Tapi setelah semakin mendewasa, berjumpa dengan banyak orang, tinggal di sekitar orang Jogja dengan segala kelembutan perasaan dan tutur kata, juga mengisi beberapa posisi penting, aku pun mulai sadar. Bahwa kepekaan itu penting. Untuk menegaskan pentingnya kepekaan, seringkali terjadi baik-buruknya orang, terkhusus baik-buruknya pengisi jabatan dinilai dari kepekaannya baik perkataan maupun perbuatan.

Dan,
Aku - sangat - merasakan - itu.

"Aku mah apa, butiran debu tak berguna," kata salah seorang teman sekitar setahun lalu. Setelah menerima kata-kata yang menyakitkan diucap olehku.

"Dan aku baru tau kalo naban itu sosok orang yang otoriter," kata salah seorang teman lagi. Yang ini belum lama. Terjadi setelah dia mendapatkan cerita tentang sebagian dari perbuatan-ucapan-dan ekspresiku belum lama ini.

Dua contoh ungkapan di atas itu akibat dari kata atau laku-ku yang dianggap orang kurang baik. Dan makin ke sini, aku pun mengamini anggapan tersebut, kerap kali aku menyakiti lewat kata dan perbuatan. Tapi percayalah, semuanya nggak diniatkan. Seperti contoh di atas hadir berkat kegagalanku mengkonversi bayangan rencana dan isi kepala menjadi kata-kata yang ciamik dan pas di hati orang-orang.

Aku mau bikin orang senang, bahagia
Yang dengan ucapanku justru malah tenang, baik
Tapi apa daya, untuk sekarang yang semacam itu masih jauh panggang dari api.


Karenanya,
kepada kalian yang merasa sering menjadi korban keenggakpekaan, aku mau ngasih tau sebuah rahasia.

Bahwa, orang yang nggak peka itu kira-kira terbagi menjadi dua jenis. Satu, memang nggak paham kalau dirinya nggak peka, karenanya nggak mau atau nggak berhasil menyesuaikan dengan lingkungannya. Dua, orangnya memang nggak berdaya lepas dari ketidakpekaannya, kemudian jadi takut karena kata dan laku yang dipilihnya sering salah, takut "salah lagi, salah lagi".

Nggak jarang mereka --atau kami-- tertekan.

Kalau aku, mungkin nggak sampai tertekan, tapi setidaknya aku jadi sangat berusaha mengantisipasi begitu tahu bahwa aku dan keenggakpekaan sangatlah akrab. Tulisan ini pun aku rangkai sembari berharap-harap cemas. Jangan-jangan, bakal ada kata yang nggak pas dan menyakiti perasaan orang di tulisan ini. Semoga saja enggak, ya.

Dan semoga, kalian yang merasa menjadi korban dari keenggakpekaan paling tidak bisa paham bahwa keenggakpekaan nggak ujug-ujug hadir begitu aja. Tapi ada sebabnya, dan ada perbedaan standar dan kebiasaan sehingga bisa muncul anggapan peka dan nggak peka. Yang penting paham dulu, perkara bisa kompromi atau enggak, bisa maklum atau enggak, itu urusan selanjutnya dan perlu jadi pembelajaran bersama.



Untuk mengakhiri, dengan ditulisnya post ini aku juga mau mohon maaf kepada segenap yang membaca.

Mohon maafnya sekaligus dua. Pertama, mohon maaf karena seringkali sikap dan perkataanku nggak peka. Kedua, mohon maaf karena nggak menutup kemungkinan bakal mengulangi lagi keenggakpekaanku. Karena sampai sekarang, urusan peka ini masih nggak bisa sepenuhnya aku sadari dan aku masih terus belajar --walaupun, ya, sering kena remidi.


Diselesaikan di kereta,
dalam perjalanan menuju Jakarta
28 September 2018

0 komentar: