Orang Jawa Suka Kode-kode

7/03/2017 0 Comments

Orang Jawa

Tiba-tiba keingat materi dari Prof. Yunahar Ilyas dan Pak Damami Zein di tahun lalu, tapi terus ada missing link yang akhirnya dibantu mas Ibnu Aziz Andarusito, manusia generasi Z pengamat budaya masyarakat Jawa yang banyak dari budaya tersebut tinggal cerita. Nah, setelah diamati, bisa kita sebut bahwa ternyata Orang Jawa suka kode-kode. Mari disimak :)

Permintaan Maaf
Dari ingatan itu yang paling diingat adalah bagian tentang orang Jawa yang senang simbol dan makna dari sesuatu daripada berterus-terang. Salah satunya tentang permintaan maaf

Orang Jawa (dulu, nggak tau sekarang masih lestari atau enggak) meminta maaf salah satunya dengan cara memberikan makanan. Makanan yang lazim digunakan sebagai ungkapan permintaan maaf adalah ketan, kolak, dan apem sebagai sebuah rangkaian. Ketan bermakna إِذا خَطَءًا / "idza khoto'an" (jika bersalah", kolak bermakna قَال / "qoola" (dia berkata), apem bermakna عَفوًا / " 'afwan " (maaf). Yap, diambil dari Bahasa Arab. Kalau kamu pernah menjumpai rangkaian makanan ini bisa jadi ada hubungannya dengan permintaan maaf tuh

Selain lewat ketan-kolak-apem, permintaan maaf juga bisa disampaikan menggunakan gapura, iya gapura yang sekarang umum digunakan jadi batas wilayah itu. Karena secara bahasa gapura berasal dari kata غَفُرَ / "Ghafura" (ampunan). Jadi konon dulu gapura dibangun untuk meminta maaf, permintaan maaf dianggap diterima jika orang yang dimintai maaf mau melewati gapura tersebut.



Sementara itu, Pak Damami nyampaikan bahwa orang Jawa itu terbiasa dengan penyebaran kabar secara verbal (dari mulut - ke mulut) dan kadang bisa salah arti. Contohnya mitos adanya hal-hal mistis terkait "mandi dengan air yang berasal dari 7 sumur".

Mitos Mandi dengan Air dari 7 Sumur
Ternyata kisahnya begini. Dulu, ketika Kerajaan Mataram dipimpin Mangkubumi punya wilayah di sekitar DI Yogyakarta masa kini. Nah wilayah itu punya 7 sungai besar dari timur ke barat, raja memerintahkan rakyatnya mandi di 7 sungai dengan tujuan memahami wilayah, biar kalau-kalau diserang musuh bisa paham wilayahnya. Hal ini semata-mata dilakukan oleh raja yang ahli dalam strategi dan pertahanan, bukan untuk tujuan mistis

Njanur Gunung
Selain itu, yang agak dalam, orang Jawa cenderung nggak terbiasa berterus terang dalam menyampaikan sesuatu, sampai sampai ada istilah "njanur gunung". Istilah ini salah satu contoh penerapannya adalah apabila ada tetangga yang biasanya jarang menyapu halaman di pagi hari kemudian tau-tau menyapu halaman di pagi hari. Nah saat mengomentari kejadian itu bisa berkata, "njanur gunung nyapu halaman begini pak/bu"

Nah, apa itu "njanur gunung"?
Janur gunung adalah pohon aren, jadi jika dihubungkan "njanur gunung" diartikan sebagai kadingaren/ndengaren. Betul, ndengaren artinya tumben/nggak biasanya.
Ya, sekedar menyampaikan "tumben" aja melalui pemaknaan yang cukup mendalam, biasanya sih karena Orang Jawa saking nggak mau menyinggung perasaan orang lain.

Restu Keluarga
Nggak habis disitu, makna makna tersirat juga bisa terkait restu keluarga terhadap calon pasangan.

Ketika kita punya hubungan dengan lawan jenis, kemudian main ke rumah pasangan, ada yang perlu diperhatikan. Nah jika di ruang tamu pasangan kita ini ada vas bunga perlu diperhatikan warna bunga yang dipasang. Kalau warna bunganya kuning, itu tanda direstui keluarga. Tapi kalau warna bunganya merah muda, jangan berharap bakal direstui oleh keluarga pasangan kita deh.


Ternyata kode-kodean sudah ada sejak zaman dahulu, jadi jangan dianggap cuma anak zaman sekarang yang suka kode-kode. Dan ini sebenarnya baru tentang permintaan maaf, masih ada kode lain yang lebih keren kalau mau didalami.

Yang punya kerabat/keluarga orang Jawa asli coba deh ditelusuri, dari kode tentang jodoh sampai mitos-mitos pun ada. Pun buat yang hidup dalam budaya suku selain Jawa juga bisa ditelusuri, siapa tau ada kebudayaan yang menarik semacam kode-kode ini

Ps. Perlu diperhatikan bahwa budaya ini kalaupun masih ada hanya lestari di masyarakat dengan budaya Jawa yang sangat kental. Tulisan ini dibuat oleh seorang "keturunan Jawa" dan bukan Jawa asli, jadi kalau ada kesalahan bisa banget dikoreksi oleh pembaca sekalian 😁😁

0 komentar: