Mengapa Saya Tidak Merokok?

5/26/2017 1 Comments


Saya ingat, dulu ketika berusia sekitar 4 tahun pernah ditawari rokok oleh tukang yang sedang bekerja di rumah mbah, dulu sedang membuat kandang ayam yang ukurannya cukup besar. Mungkin rokoknya GG Merah atau GG Hijau, yang jelas kretek. Saya ditawari, saya coba hisap, malah batuk-batuk. Itulah satu satunya momen saya "merokok" seumur hidup

Mungkin cuma urusan traumatis, tapi setelah menelaah cukup lama, saya semakin yakin untuk tidak merokok. Berikut kira-kira penyebabnya....


Satu,
Rokok yang kita beli, harga aslinya hanya 40%, 60% sisanya itu terpakai untuk biaya iklan perusahaan rokok. Saya cuma dapat info dari bacaan/video bebas sih, tapi bisa dinalar kok, liat tuh reklame di sekitar kita, hampir setiap blok perkotaan ada iklan rokok, belum lagi yang di TV --FYI iklan di TV tarifnya 10-60 juta per 30 detik dan rokok ada terus tiap hari, entah berapa menit setiap harinya.

Dan memang kalau dibandingkan, rokok yang diiklankan secara masif dan yang tidak harganya lumayan jauh beda


Dua,
Rokok bisa saja dibilang tidak mempengaruhi kesehatan secara langsung, dengan segala argumentasinya. Tapi secara tidak langsung rokok memang mempengaruhi lho. Rokok jadi sponsor utama gaya hidup dunia gemerlap, pasti erat kaitannya dengan begadang, pulang jam 3, alkohol, narkoba juga mungkin.

Mempengaruhi kesehatan dong pastinya, belum lagi kalau membahas pengaruh ke generasi karena gaya hidup gemerlap, pusing lagi saya


Tiga,
Bagi para laki-laki perokok, coba untuk mempertimbangkan berhenti. Kamu tau? Alangkah banyak perempuan-perempuan yang begitu sayang dengan kamu tapi benci asap rokokmu. Sayang tapi di sisi lain benci.

Tapi yaudah namanya sayang mah jalan terus nggak bisa ditawar lagi. Cuma kasian aja sih, prinsip goyang, tubuh terkorbankan karena sayang. Saya loh ya yang merasa kasian, kalau kamu yang perokok nggak merasa ya nggakpapa


Empat,
Rokok bisa menenangkan katanya. Tapi saya kenal begitu banyak perokok, ya sama saja lho. Yang dari sananya memang tenang yasudah tenang. Yang memang dari sananya punya cara mencari inspirasi yasudah bisa dapat inspirasi. Yang memang emosian, susah dapat motivasi ya gitu gitu saja baik setelah maupun sebelum merokok.

Coba juga lihat, pelaku klitih atau kriminalitas penganiayaan, kekerasan, pembunuhan, dan semacamnya. Justru mayoritas perokok kan? Terus gimana dong dengan anggapan bahwa rokok menenangkan?


Lima,
Banyak yang menawarkan rokok dengan alasan persahabatan, pertemanan, keakraban. Iya, di satu sisi itu benar Presiden Soekarno ketika bertemu dengan pemimpin Rusia juga nyerutu bareng. Pak Agus Salim negosiator Indonesia dulu ketika berusaha meraih kedaulatan juga basa basi ke petinggi Inggris pakai bahasan tembakau.

Tapi di sisi lain, kalau orang biasa seperti kita merokok. Nggak ketemu pejabat, nggak untuk menyelamatkan negara, nggak mengubah dunia. Bukannya kita malah meninggalkan teman-teman yang tidak merokok demi teman perokok ya? Sama saja kan.


Enam,
Saya khawatir, perokok itu merokok karena pengaruh, bukan karena diri sendiri apalagi kebetulan. Ingat ketika dulu SD, hujan-hujan, dingin, saya bersama teman saya 4 orang. Salah satu membawa rokok, menawarkan ke 3 lainnya termasuk saya. Herannya, 2 diantara 3 itu menerima tawaran rokok padahal saya nggak pernah sama sekali melihat kedua teman saya itu merokok sebelumnya.

Belum lagi pengaruh iklan. Iklan yang selalu ada tiap hari dimana mana di TV, internet, dan dunia nyata itu cuma dua; provider ponsel dan rokok. Ya gimana hidup kita nggak terpengaruh?


Tujuh,
Selalu, saya setiap bulan masih kesulitan mengatur keuangan walaupun sudah 6 tahun mengatur keuangan sendiri per bulannya. Tanpa rokok lho. Gimana kalau saya merokok, ada tambahan pengeluaran 10-15 ribu perhari. Meleduk om🙄


No offense untuk para perokok ya
Saya dulu ketika main ke PS an sering diminta tolong beli rokok, saya juga tau dikit-dikit kalau sampoerna itu ringan, dunhil gampang bikin seret, djarum super cenderung berat, rokok kretek sangat berat dan susah habis. Tau juga kalau setelah makan afdholnya merokok, kalo kedinginan enak juga kalau disambi merokok. Sampai sekarang pun saya fine-fine aja ketika ada yang merokok di sekitar saya. Karena itu pilihan masing-masing kan...

Ya saya sih mau menyampaikan prinsip aja, karena menurut saya baik dengan 7 penyebab di atas. Nggak ada salahnya kan menyebar yang baik-baik :)

1 komentar:

  1. lah kita samaan nab, dulu waktu kecil aku nyobain ngerokok batuk batuk njuk trauma, sekali seumur hidup WKWK

    BalasHapus