Logika Merdeka

8/17/2016 0 Comments


Kita hidup di era quotes. Kata-kata keren bisa jadi quotes yang bahkan bisa dijadikan pendirian. Tapi sayangnya, dengan mengikuti quotes yaudah kita ikut apa adanya aja. Coba dong cicipin sudut pandang lain dari sebuah quotes. Punya logika yang nggak terikat pengaruh orang lain

"Menunggu itu menyakitkan"

Ugh, ungkapan ini hampir tiap hari muncul dimana-mana. Dan memang bisa dipastikan hampir semua orang di sekitar kita pernah merasakan sakitnya menunggu. Dan memang bener banget kalau dibilang menunggu itu menyakitkan. Apalagi kalau sudah dibikin janji, kita tepat waktu, nunggu 2 jam nggak ada kabar, sekali ada kabar bilangnya "maaf nggak bisa". Sakit banget itu, sakitnya sampe opname malah....

Tapi coba jelajahi sudut pandang lain. Justru proses menunggu itu harus dinikmati-diresapi. Karena bisa saja di atas berubah jadi "Sakitnya menunggu membuat kita bakal sadar ketika suatu saat nanti kita ditunggu."


"Sabar Manusia Ada Batasnya"

Kita biasa bilang sabar manusia ada batasnya ketika kita marah karena satu dan lain hal. Atau ketika kita memutuskan untuk nggak bertahan lagi.

Tapi ternyata ada banyak orang yang bisa lebih lama bertahan, ada banyak orang yang bisa menahan amarahnya. Pokoknya jauh lebih sabar dari kita. Gue bisa bilang itulah tanda bahwa bakal lebih tepat kalau quotesnya menjadi "Sabar manusia ada batasnya, tapi kita sendiri yang menentukan batasnya". Karena jelas bahwa emosi-amarah itu pasti ada di dalam diri manusia, tapi lebih jelas lagi bahwa manusia dianugerahkan kemampuan untuk mengontrol dan memposisikan diri.


"Jangan Nilai Buku dari Sampulnya"

Quotes ini nggak bisa dibilang salah juga sih, memang benar. Apalagi kalau kita mau merangkul teman-teman dari segmen yang biasanya kita pandang negatif sebelum kenal orangnya, semisal LGBT atau anak punk gitu. Jelas quotes ini harus digunakan untuk menciptakan prasangka baik untuk setiap orang.

Tapi nggak bisa digeneralisir juga. Bayangkan kita ada di toko buku, sebutlah setiap judul buku ada satu yang bisa dilihat-lihat. Kemudian untuk menilai mana yang pantas dibeli dan dibaca harus baca sekilas satu per satu judul buku. Nah, bisa ada ratusan atau ribuan judul buku disitu, kalo harus menilai dalamnya satu persatu kan modar. Begitu juga menilai orang, akan tiba masanya kita sampai di titik harus menilai orang secara sekilas karena saking banyaknya orang yang harus kita pilih dalam suatu urusan. Dan akhirnya, kita juga harus "Pintar-pintar Menilai Buku dari Sampulnya" dan sebagai pribadi jadi "Buku yang Baik Sampulnya maupun Isinya"


"Lebih Baik Nakal daripada Baik tapi Munafik"

Wah ini ada yang salah nih, quotes ini muncul dari anak-anak muda yang merasa bahwa banyak orang-orang yang baik tapi baiknya di depan doang. Kenyataan di belakang dia nggak baik. Itulah kenapa mulai muncul seleb-seleb di media sosial semacam awkarin, yang berani menyebarluaskan perilaku yang "apa adanya". Oke, munafik kita anggap sebagai "berbuat buruk di belakang tapi terlihat baik di depan".

Disini kita harus punya beberapa sudut pandang, kita sebagai manusia mau berperilaku baik atau buruk jelas dipersilahkan. Oke silahkan berlaku buruk kalau mau, tapi jelas jangan membuat orang lain jadi buruk juga, karena manusia ada untuk berbuat baik bukan berbuat buruk. Jelas munafik lebih baik, karena memposisikan keburukan jadi pilihan, bukan jadi promosi. Tapi juga patut diingat, "Kalau kita sadar mana baik mana buruk, kenapa kita nggak pilih yang baik?"


"Bermimpilah Setinggi-tingginya"

Ya, mimpi punya peran yang besar. Tapi ada hal nggak kalah besar yang harus kita perhatikan; waktu. Mimpi yang besar butuh waktu yang panjang, itu yang harus kita pegang. Setelah mempertimbangkan waktu, barulah kita bisa menentukan mimpi yang logis dan mampu dicapai.

Semua orang pasti bisa mengejar mimpi besar. Semua orang mampu untuk itu, tapi ada waktu yang membatasi. Waktu yang harus dipertimbangkan, mimpilah setinggi-tingginya tapi coba tetap ingat waktu yang kita punya. Karena seperti halnya mimpi dalam tidur, impian bakal segera terlupakan dan jadi rasa pesimis kalau nggak segera disusun waktunya. Jadilah, "Bermimpilah setinggi-tingginya, kejarlah mimpi begitu mimpi itu ada"


Quotes kalo ditelan mentah-mentah, itu yang membuat pandangan kita kurang luas. Atau kadang malah lebih gawat, sampe memandang orang kurang baik gitu. Dengan punya pendirian yang nggak sekedar ikut keren-kerenan, nggak sekedar pake quotes apa adanya, disitulah kita merdeka. Merdeka adalah merdeka dari logika yang nggak semua orang sesuai dengan logika itu.

*) Tulisan ini didedikasikan untuk kaum muda Indonesia yang setiap hari mendapatkan pengaruh dari dunia. Semoga pemikiran dan pendirianmu juga bisa merdeka seperti negaramu. Dirgahayu 71 tahun Indonesia!

0 komentar: