Berlepas Diri, Malah Jadi

7/02/2016 4 Comments

Dari beberapa pengalaman, gue bisa menarik kesimpulan bahwa "kita mendapatkan apa yang pantas buat kita" bukan malah "kita mendapatkan apa yang kita harapkan". Karena itu, gue berpendirian bahwa, ketika kita nggak terlalu berharap bakal membuat kegagalan jadi biasa aja, dan keberhasilan berasa berkali lipat luar biasanya. Berikut ini contoh paling nyata dan paling dekat...


Dimulai dari beberapa bulan lalu, tahun terakhir di sekolah. Musim-musim fokus ujian akhir dan menentukan nasib masa depan di perguruan tinggi. Mayoritas teman-teman di sekolah manapun begitu serius masalah UN dan perjuangan masuk PTN, nggak sedikit yang ikut bimbingan belajar, nggak sedikit yang bicara trik-trik mengerjakan soal, nggak sedikit yang bahan pembicaraannya banyak membahas tentang soal-soal.

Gue sebaliknya, malah lebih parah, gue anti bimbingan belajar. Gue bilang gini, "kalau gue memilih ikut bimbel, mending sekolah di bimbel aja. nggak usah sekolah di sekolah yang sekarang". Karena gue beranggapan, ketika belum maksimal kemampuannya, itu salah kita yang belajarnya belum baik. Bukan karena kurang mendapat materi pelajaran.

Kemudian gue bertemu kenyataan, nilai rata-rata UN 6,7 (ketika SMP 8,8) dengan nilai matematika 4,75. Gue berharap dan memperkirakan bisa masuk lewat jalur SNMPTN, ternyata gue nggak keterima. Gue juga percaya diri bisa masuk via jalur SBMPTN, lagi-lagi nggak keterima. PTS? Gue belum daftar sama sekali, berpendirian belum mau daftar sebelum urusan PTN jelas.


Di lain sisi, saudara sepupu gue (yang gue sempat merasa lebih baik dari dia di urusan akademik) diterima via SNMPTN di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Ada salah satu adik sepupu belum lama ini ikut OSN SD di Palembang. Mbak Nadiya, kakak yang lulus Muallimaat begitu susah perjuangannya, tahun lalu diterima di UNILA via SBMPTN. Mbah yang sakit stroke, sempat kepikiran cucunya satu ini kuliahnya gimana. Juga ada saudara dan orang-orang terdekat lain yang jelas siap nge-bully habis-habisan kalau gue gagal lolos PTN.

Apa yang terjadi terjadilah, ketika nggak lolos SBMPTN gue sempat kecewa berat. Banyak kekhawatiran. Tapi cukup 15 menit. Setelah itu gue semakin bisa terima, dan coba tambah doa lagi. Sekaligus mengubah pendirian, dari penuh prediksi jadi berlepas diri. Siap dengan apapun yang bakal terjadi. Eh tapi ternyata malah mengejutkan, gue lolos Ujian Mandiri. Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM - pilihan universitas satu-satunya - pilihan jurusan satu-satunya.


Gue sangat nggak percaya diri bisa diterima, sampe-sampe 3x tuh ngecek pengumumannya. Karena memang gue merasa apa yang gue lakukan nggak se-spektakuler pendaftar-pendaftar lain. Gue nggak ikut bimbel, nggak tau urusan passing grade dan semacamnya, nggak pernah ikut try-out. Pun ketika pengerjaan, terhambat di beberapa pelajaran terutama matematika. Jelang  pengumuman ibu gue bilang, "ibu kok 90% nggak yakin kamu diterima ya." Gue bilang, "aku 95% nggak yakin bu!"

Jelas hujan ucapan selamat, karena di lingkungan sekolah gue yang keterima PTN nggak jauh-jaauh dari 10%. Tapi di sisi lain banyak juga kekhawatiran.

Gue sadar, dengan gue mempublikasi seperti ini bisa aja membuat yang belum mendapatkan kejelasan tentang kelanjutan pendidikannya merasa nggak nyaman. Tapi gue bilang, sini kalau mau tuker posisi, gue insyaAllah siap. Karena emang gue nggak ada lagi berharap-berharap. Apa yang ada disyukuri, dijalani. Justru kadang jadi bingung bagaimana memposisikan diri dalam keadaan semacam ini, jangan dikira sekedar enak-enak aja.


Semoga jadi hikmah untuk kita semua. Yang tahun depan semoga bisa paham keadaan. Yang belum lolos bakal banyak jalan. Yang sudah lolos hati-hati kalian senang tapi harus dipikir juga yang dalam posisi kecewa. Yang punya orang-orang dekat nggak lolos bisa lah menyikapi dengan baik. Mohon bantu yang lolos biar lebih bersyukur lagi. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Bukan see you on top. See you di setiap perjuangan kita :)

4 komentar: