Mungkin Memang Harus Menyesuaikan

6/03/2016 0 Comments

Ada beberapa hal sepele yang terjadi berulang-ulang dan itu nggak jarang membuat gue penasaran. Salah satunya berikut bakal gue bahas.


Gue seringkali heran, ketika ada interaksi dengan orang baik itu langsung maupun nggak langsung (lewat media), kok banyak yang bilang gue bersikap begini dan begini. Padahal gue merasanya enggak. Tapi walaupun gue merasanya nggak seperti itu, sikap itu tadi sering disebut, dan di lain kesempatan ada orang lain yang nyebut juga.

Oke ini agak "tawaf" pembahasannya, jadi langsung ke contoh aja. Contohnya pake screenshot chat aja ya, biar gampang menunjukkannya hehe :D

Marah
Sering terjadi dimana gue disebut marah padahal gue merasa biasa-biasa aja, jauh dari kata marah. Karena reaksi gue datar-datar aja, dan sepemahaman gue, namanya marah itu dengan ekspresi yang menyeramkan ditambah kata-kata yang kasar (atau minimal keras). Tapi nggak tau kenapa walaupun gue datar-datar aja tetap beberapa orang merasa gue marah ke beliau-beliau itu.


Menyebalkan
Gue seneng melakukan hal-hal yang agak jahil, atau misal bercanda gitu. Kan seharusnya bikin ketawa-tawa gitu. Tapi kemudian malah dibilang menyebalkan. Kan gue heran, karena kalo menyebalkan itu ya cenderung bikin nggak nyaman di perasaan.

Jadinya gue malah senang kalau dibilang menyebalkan. Karena gue menganggap kejahilan atau candaan yang gue lakuin itu "ngena".


Ngambek
Ada yang mengirim pesan, terus gue jawab sekenanya. Atau kemudian gue sekedar read. Gue sih merasa menjawab sekenanya itu ya karena pesan yang datang emang seakan-akan "minta untuk direspon sekenanya". Atau ketika gue read, ya memang gue merasa lebih baik R daripada D, lebih baik centang biru 2 daripada centang abu-abu 2, lebih baik ada tulisan read daripada kosongan. Gue merasa read lebih baik karena dengan kita read itu berarti nggak menunda-nunda urusan. Nggak menumpuk daftar pesan masuk. Urusan balas atau enggak itu emang hak kan, bukan perkara ngambek dan semacamnya :3



Tapi pastinya nggak sekedar ketidaksetujuan yang gue rasain, karena nyatanya yang begituan itu nggak cuma muncul 1-2 kali tapi lumayan sering. Nggak sekedar via chat tapi di dunia nyata juga gue cukup sering mengalami kejadian serupa.

Jadilah bisa ditarik kesimpulan bahwa mungkin ukuran antara kita dan orang-orang yang menilai kita beda, makanya terjadi hal yang orang lain menilai ada apa-apa tapi kita merasa biasa aja. Mungkin kita merasa nggak marah, tapi di sisi lain orang pahamnya dengan sikap kita ya itu namanya marah. Mungkin kita nggak merasa menyebalkan, tapi di sisi lain orang pahamnya dengan sikap kita itu ya namanya menyebalkan. Mungkin kita merasa nggak ngambek, tapi di sisi lain orang pahamnya dengan sikap kita itu ya namanya ngambek.

Itu cuma 3 contoh, sikap-sikap lain yang terjadi dalam kasus sejenis kira-kira sama deh.

Agaknya memang apa yang jadi anggapan orang itu lebih benar, atau minimal lebih menang jumlah. Dan mau nggak mau gue (dan kita) yang harus menyesuaikan.

0 komentar: