Apa Kamu Nggak Malu?

1/30/2016 0 Comments

Coba lihat ke diri kita masing-masing.

Berapa usia kita? Banyak yang masih di kisaran belasan. Tapi juga ada yang diatas kepala dua. Berapapun itu insyaAllah bakal cocok sama post gue kali ini.

Diluar sana ada banyak remaja, usianya sangat muda. Tapi prestasinya luar biasa, malah mendunia. Belum masuk kepala dua, tapi apa yang mereka lakukan nggak pernah terbayangkan oleh kita semua. Kita biasanya menganggap orang-orang dibawah usia 20 tahun ya masih waktunya main-main, menikmati hidup, dan blablabla...

Terlalu banyak dari manusia zaman sekarang yang di usia remajanya masih terlalu banyak buang waktu. Terlalu senang bermain-main. Terlalu malas berpikir tentang kontribusi. Terlalu apatis dengan keadaan sekitar, Terlalu tunduk dengan kesenangan duniawi yang tersedia di depan mata. Parahnya, itu semua terjadi dengan satu kenyataan pahit : menghabiskan uang orangtua. Ini tentang biasanya, secara umum, kalo ada yang nggak seperti itu, ya bagus dah.

Ketika sebagian besar dari kita berpikir bahwa remaja itu waktunya mencari jatidiri, ternyata ada banyak remaja yang usianya nggak jauh-jauh dari kita tapi apa yang dilakukan jauh lebih luar biasa dari kita.

Jonatan Christie, 18 tahun (15 September 1997)
Jonatan Christie. Juara dunia junior, di umur belia sudah pernah Juara Indonesia International Challange. Turnamen kelas dunia dan segala usia. Dia baru 18 tahun, sudah rutin jadi partisipan turnamen-turnamen internasional. Kita bisa apa? Sekedar mengidolakan, sekedar memuji-muji dia, menyaksikan dia lewat layar kaca.


Malala Yousafzai, 18 tahun (12 Juli 1997)
Malala Yousafzai. Disaat kita baru bisa banyak bersenang senang dalam hidup kita, Malala ini sudah berjumpa dengan kerasnya hidup. Sebelum cakap hukum sudah berurusan dengan Taliban, organisasi bersenjata kelas kakap di dunia. Bahkan peluru sudah pernah bersarang di tubuhnya! 2014 lalu dia meraih Nobel Perdamaian, penghargaan tertinggi di dunia dalam bidang perdamaian. Padahal usianya masih belasan, nggak jauh-jauh dari kita.


Medina Aulia Warda, 18 tahun (25 Juli 1997)
Medina Aulia Warda. Pecatur Indonesia. Usia 16 tahun 2 bulan meraih gelar Grand Master Wanita (penghargaan level tertinggi di dunia untuk pecatur wanita). Itu berarti di usia 16 tahunan Medina ini sudah keluar negeri entah berapa puluh kali, karena gelar grandmaster itu nggak mudah sangat susah mendapatkannya. Medina sudah melakukan keluarbiasaannya itu, disaat kita membayangkannya pun nggak mau, membayangkan meninggalkan zona nyaman kita pun nggak mau.


Gianluigi Donnarumma, 16 tahun (25 Februari 1999)
Gianluigi Donnarumma. Penjaga gawang AC Milan, salah satu klub sepakbola terbesar di Italia, juara European Champions League 7 kali. Usia baru 16 tahun sudah jadi pilihan utama. Dia jadi pilihan utama itu, menggeser posisi Diego Lopez, penjaga gawang veteran, usia diatas 30 tahun, bapak-bapak gitulah istilahnya. Dia, kalo diumpamakan kaya kita ini ya berarti masih anak ingusan, masih awal-awal SMA. Kalau di Uni Eropa, usia Donnarumma itu bahkan belum masuk usia pesepakbola professional. Tapi sudah bisa sampe segitunya.


Tuh usianya masih sangat muda. Harusnya mereka masih semalas kita kan? Tapi ternyata enggak, mereka bisa berprestasi luar biasa. Ini yang gue kasih contoh cuma 4, itu pun bocah seusia kita yang jaman sekarang ini, kalo dibawa-bawa sampe dulu-dulu ada jauh lebih banyak lagi. Juga, yang gue sorot cuma contoh yang mudah ditemukan di media. Coba kalau juara penelitian internasional, olimpiade internasional, dan teman-teman pertukaran pelajar ke luar negeri misalnya, pasti jauh lebih banyak lagi.

Oke kalau dengan alasan, kita nggak didukung kondisi sebaik mereka, momentum sebaik mereka --karena gue juga merasa seperti itu. Tapi kita kan masih bisa berbuat yang lebih baik dibanding sekedar membuang waktu remaja dengan hal-hal yang sangat mainstream dan mubadzir.

Lakukanlah yang lebih berguna, bisa memanfaatkan waktu dengan baik aja bagus kok, apalagi kalau mulai berkontribusi ke sekitar, teman-teman pelajar misalnya. Itu sudah sangat luar biasa buat remaja seusia kita.

Lah kalau masih stagnan, gitu-gitu aja, padahal sudah paham kenyataan dan potensinya, Apa Kamu Nggak Malu?

0 komentar: