Mungkin Bisa Menjadi Solusi

11/27/2015 , , 0 Comments

Gue pusing banget sama pelajaran IPA! 
Ya, IPA, yang sejak SD - SMP paling gue senangin dan jadi salah satu "lumbung nilai". Dan di dalam kasus ini gue gak sendirian, lumayan banyak teman lain yang juga sama-sama menemui kesulitan. Dan semoga kita bisa menemui solusinya, atau kalau nggak gitu bakal muncul orang-orang dengan otak level terkubur semacam gue di masa depan.


Semua terjadi karena pelajaran yang jelas lebih sulit dibanding dulu, cara belajarnya juga harus beda. Pas SD gue inget banget ketika gue pernah meraih rangking 2 di kelas, walaupun satu semester nggak pernah ngerjain PR! Tapi sekarang, kalau sekali aja nggak memperhatikan pelajaran dikelas, boro-boro bisa rangking 2, paham pelajaran aja sudah sangat Alhamdulillah.

Tambahan lagi, pelajaran ketika SMA juga bertambah banyak. Udah pelajaran tambah sulit, fokusnya juga semakin terpecah. Belum lagi di masa SMA ini kegiatan bocah seumuran remaja lagi padat-padatnya. Main lah, menggeluti hobi lah, organisasi lah. Semua tumplek blek jadi satu dan bikin pelajaran (terutama pelajaran IPA) jadi semakin sulit masuk ke otak. Oke mari biasakan mengutamakan menyalakan api daripada mengutuk kegelapan.


Mungkin cara mengajar dengan praktek/demonstrasi bisa menjadi solusi. Karena emang harus diakui, ini menarik, bahkan teman-teman yang biasanya kurang antusias di pelajaran IPA pun ikut tertarik. Oke di kasus ini gue kasih contohnya adalah pelajaran kimia.


Dijamin, setiap siswa bakal tertarik dengan percobaan yang bisa bikin warna zat di tabung reaksi berubah secara spontan. Atau lebih asik lagi kalau percobaan dari zat-zat yang dianggep biasa malah bisa sampe meledak-meledak gitu. Kan seru.





Kalau rasa ketertarikan sudah ada, pemahaman bisa lebih gampang masuk kan? Gurunya juga kalau nanti mau menjelaskan udah punya contoh di depan mata. Contoh yang bisa ngebuat siswa mudah paham karena bisa membayangkan percobaan yang pernah dilakoni. Ketika pelajaran dilakukan dengan praktek, otomatis siswa bakal mencoba memahami 2x, lewat tulisan dan lewat percobaan. Berarti secara nggak langsung ada pengulangan, yang membuat ilmu yang sudah masuk nggak menguap gitu aja.





Memang, nanti dari pihak berwenang bakal bilang "Lah, kita kan waktunya terbatas, jadi nggak mungkin kalau menggunakan sistem demonstrasi". Tapi gini, tujuan dari pembelajaran itu mengejar target waktu atau mencapai pemahaman? Kalau memang mencapai pemahaman ya berarti bagaimana caranya untuk paham. Bukan malah kita harus mengalah sama target waktu, ntar pembelajarannya malah jadi non-sense. Pembaca pasi udah paham sendiri deh.

Yaa, ini sih cuma pemikiran siswa, yang cuma jadi objek. Cuma bisa manut guru, manut sekolah, manut yayasan, manut dinas kota, manut dinas provinsi, manut kementerian. Bukan apa-apa bukan siapa-siapa deh pokoknya... *if u know what i mean*

0 komentar: