Menikmati Hujan

11/27/2015 , 0 Comments

Pernah nggak membayangkan bahwa titik-titik hujan itu ukurannya sangat kecil. Tapi, karenaa jatuhnya berkilo-kilometer dari permukaan bumi, butiran-butiran kecil itu jadi begitu merepotkan. Padahal itu butiran kecil, coba dibayangkan seandainya air hujan turun sekaligus, tanpa terlebih dulu jadi butiran-butiran kecil. Semacam tsunami tapi dari langit mungkin, mbayanginnya aja udah serem sendiri. Itu beberapa hal yang bikin gue kagum sama yang makhluk yang bernama hujan.


Gue punya prinsip, "seandainya hujan itu nggak basah, gua bakal seneang sepenuhnya sama hujan". Memang ambigu sih, tapi gini maksudnya, di dalam hujan dan turunannya itu buanyak banget hal-hal yang patut disenangi. Cuma karena basah jadi ya, kalo terlalu senang sama hujan ntar abis dong baju-baju gue-

Jadi, ketika hujan manusia bakal merasakan nikmat yang luar biasa. Bisa dibuktikan kemarin ketika di Sumatera kabut asap sedang sangat nge-trend. Semua usaha dilakukan, pemadaman di darat, pencegahan, water bombing, tapi tetap aja usaha-usaha itu nggak cukup. Cuma hujan yang bisa menyelesaikan masalah kabut asap dengan baik. Nah, seandainya hujan setahun penuh nggak turun, bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi, entah berapa banyak nyawa bisa jadi korban.


Kalau diperhatikan, rumput di lapangan juga begitu, rumput yang berbulan bulang menguning bisa secara instan menghijau setelah kena sekali aja hujan lebat. Itu baru sebagian, belum yang lainnya yang lebih kompleks. Dan semua menggambarkan bahwa manusia tidak bisa hidup kalau nggak ada hujan, itulah kenapa hujan gue sebut sebagai nikmat yang luar biasa.


Ketika hujan datang, coba untuk bersikap biasa dan nggak buru-buru. Coba deh diresapi setiap butiran hujan yang jatuh. Disitu banyak suasana yang jarang banget bisa dirasakan ketika cuaca cerah. Jangan takut basah, karena kalaupun kita lari basahnya juga bakal sama aja. Jadi mending dinikmatin deh. Ketika menikmati hujan, jalan kaki seperti biasa, berkendara seperti biasa, kita bakal merasakan nikmatnya jadi orang yang tenang diantara orang-orang "mainstream" yang terburu buru menghindari hujan. Kecuali ketika hujan sangat deras dan lagi ndak pengen berbasah kuyup, yaudah itu berarti kita memang harus berteduh.

Hujan itu terdiri dari butiran butiran kecil, ya ukurannya cuma sebesar tetesan air gitu. Tapi, hujan nggak pernah dateng sendirian, hujan selalu datang keroyokan. Walhasil, setiap makhluk hidup dibikin kerepotan sama derasnya guyuran hujan. Begitu juga kita, manusia, ketika kita jadi bagian yang inferior jangan sampe kita takut dan patah semangat. Ketika kita jadi pihak inferior, bergabung dan bekerjasama dengan pihak yang senasib dan seperjuangan dengan kita justru bakal membuat kita, lebih teguh, jauh lebih kuat. Lebih kuat dari pihak yang paling kuat, tapi sendirian.

Hujan jadi salah satu media yang mengingatkan kita dengan masa kecil. Mungkin bagi generasi 90-an yang dulu akrab dengan permaninan tradisional, sekarang nggak bisa nemuin lagi. Tapi beda dengan hujan, hujan bakal selalu ada dari tahun ke tahun, bahkan sampai esok akhir zaman, itu berarti salah satu hal paling kekal yang bisa kita jadikan pengingat kenangan masa kecil adalah hujan.



Jadi ya, kalo jaman sekarang bisa hujan-hujanan ya asik aja gitu. Nggak sekedar ikut-ikutan "orang dewasa" yang menghindari hujan. Tapi juga bisa mengikuti cara "anak-anak" yang lebih baik menikmati hujan dan akrab bersama hujan ketimbang bersusah payah menghindari hujan.


Hujan kenangan? Gue justru suka. Karena kenangan memang harusnya dihargai. Berapa banyak kisah-kisah zaman dulu yang menjadi sejarah dan menjadi bahan pembelajaran orang banyak, dan itu juga bisa disebut sebagai "kenangan".



Berarti, kenangan kita harusnya juga dihargai dengan baik, jadi akrab dengan kenangan, jaga sebaik mungkin yang baik, dan hargai kemudian evaluasi yang kurang baik. Hujan jadi media yang baik untuk kita bisa mengakrabkan diri dengan kenangan, karena hujan memberikan kesunyian, karena kesunyian membawa pada perenungan. 


Karena perenungan membuat manusia dengan baik bisa memposisikan kenangan. Kenapa harus menjaga kenangan? Karena diri kita sendiri merupakan susunan dari potongan-potongan kenangan. Kalau kita ngebet pengen membuang kenangan. itu berarti kita nggak menghargai diri kita sendiri, kan?

Jadi, selain karena basah kuyupnya, apa ada lagi alasan untuk membenci hujan?

0 komentar: