Seandainya seperti Asramaku

4/23/2015 0 Comments

Gue punya sedikit kegelisahan, kegelisahan yang universal. Tentang kemalingan / kehilangan barang, dan yang seperti ini biasanya anak asrama paham. Hal-hal kayagini berkaitan dengan hubungan sosial di masyarakat kita sebenernya, menurut gue. Semoga banyak yang bisa diambil dari tulisan dibawah ini. Selamat membaca :)


Kita sebagai manusia pasti sayang sama barang-barang tertentu, entah sekedar barang spesial atau barang berharga. "Barang spesial" itu  barang yang dianggep berharga oleh satu atau sedikit orang, dan "barang berharga" itu barang yang dianggep berharga secara umum oleh banyak orang.

Kemalingan dan lain lain selalu jadi permasalahan di masyarakat sampai detik ini, sejak jaman dulu banget. Tiap hari pasti aja ada peristiwa kemalingan, karena memang di dunia ada 7 miliar lebih manusia dan itu berarti nggak mungkin nggak ada peristiwa kemalingan setiap harinya kecuali Tuhan lagi "pengen" ikut campur secara langsung. Ya, nggak pernah hilang dan berkurang pun paling sedikit doang, tapi gue punya sedikit contoh. Gue ambil dari kehidupan anak asrama.

Di asrama, di awal-awal kehidupan asrama ada masalah klasik yang hampir selalu terjadi, maling-kemalingan. Ada aja anak baru yang ngeluh kehilangan dan nanti ujung ujungnya ketika diselidiki yang maling adalah temen mereka sendiri. Yaa kira-kira 2 tahun lah para penghuni asrama waswas barang berharganya tiba-tiba menghilang (kecuali pelaku pastinya), setiap tahun pasti ada dan lumayan banyak tuh, gue ngerasain itu karena pernah jadi anak baru maupun jadi kakak kelas yang ngurusi masalah kemalingan itu.

Tapi, seiring waktu berjalan masalah kemalingan itu mulai berkurang walaupun pelan-pelan. Dan mulai habis di tahun ketiga lah kira-kira, setelah itu kita bisa hidup dengan tenang. Nah, sekarang bagian hikmahnya. Kenapa bisa jadi berkurang begitu?

Jadi kalau diperhatiin anak-anak baru itu pada masih individualis, sayang banget sama barangnya. Banyak banget anak-anak yang protektif dengan barangnya pas masih baru baru, dan kadang juga bisa sampe crash antar kamar cuma gegara barang sepele, separah itu. Belum lagi anak anak baru belum pada kenal temen temen seasramanya, atau udah kenal sih tapi belum kenal baik. Walhasil semakin kentel pula aroma individualis mereka.

Dan biasanya, di tahun ketiga setiap anak asrama bisa saling kenal dengan baik atau bahkan akrab dengan temen satu angkatan keseluruhan. Individualis bisa dikikis habis pula, setiap orang jadi oke oke aja barangnya dipinjem tanpa terlalu protektif-posesif, ya walaupun masih ada yg individualis tapi itu tinggal sedikit banget dan secara umum nggak berpengaruh. Menurut gue mungkin disitu kuncinya, di titik dimana ada kesadaran untuk "sama temen masa iya pelit" dan "sama temen masa iya tega nyuri barang barangnya". Percaya atau enggak? Silahkan tanya ke anak yang bertahun tahun tinggal di asrama deh (y)


Gue tiba tiba kepikiran yang beginian, seandainya masyarakat kita bisa meniru fenomena yang ada di lingkungan asrama ini. Seandainya masyarakat satu negara bisa kenal-bersatu dengan baik, seandainya masyarakat satu negara bisa menghilangkan keposesifan mereka yang berlebihan terhadap barang berharganya, mungkin masalah kriminalitas maling-kemalingan ini bakal bisa terselesaikan. Tanpa harus mahal mahal nganggarin dana buat gaji banyak polisi atau tanpa harus ronda malem-malem dari warga yang cukup membuat sebagian bapak-bapak ronda ngantuk esok paginya, dan sebagainya.

Cuma pertanyaannya gini, kapan negara kita mau memakai pendekatan yang lebih memperbaiki tatanan masyarakat dan ngebuat masyarakat kenal baik satu sama lain? bukannya sekarang negara kita justru makin cuek-apatis dengan keadaan sekitar ya. Belum lagi tentang waktu, untuk asrama yang lingkungan berisikan 50-200 orang aja butuh waktu dua tahun lebih untuk merevolusi mental anak-anaknya itu berarti kalau komunitas besar dengan 200 juta lebih anggota bakal butuh waktu lebih lama, mungkin puluhan tahun. Apa negara kita sanggup istiqomah selama itu? istiqomah menilang pelanggar jalur busway aja cuma bertahan nggak sampe sebulan. Nah.


Ya, emang sekedar pemikiran aneh gue tentang keadaan masyarakat kita. Tapi coba dibayangin kalo bisa dilakuin sekarang mungkin nanti beberapa puluh tahun lagi berguna bagi generasi penerus, atau bahkan mungkin "Generasi Emas 2045" bakal lebih perfect dengan keilmuan yang baik dan ditambah kepribadian yang berkarakter secara umum di masyarakatnya. Mungkin kita bakal jadi kiblat etika-norma sosial di bumi, semacam Prancis sekarang lah.

Sekali lagi, itu sekedar bayangan gue. Betapa mulianya kalo masyarakat di negara kita bisa sebaik itu dalam hal hubungan antar manusia. Banyak sebenernya komunitas kecil bagi negara kita yang memberi contoh baik dan patut dicontoh. Cuma negara kita jarang banget berhasil mengadaptasi itu karena memang jarang banget mencoba untuk mengadaptasi hal-hal sepele (karena biasanya yang terkait hubungan sosisal di masyarakt gitu dianggep sepele dibanding masalah lain kaya ekonomi, politik, pertahanan, pendidikan, dll). 

Kapan keluhuran dalam komunitas kecil semacam asrama itu gue dicoba untuk dijadikan terobosan di negara kita? Nunggu gue jadi presiden kali ya :v

0 komentar: