Pemilih Pemula, Swing Voters, Penentu Hasil

6/12/2014 0 Comments

Pemilih Pemula, Swing voters, Penentu Hasil


Dalam dinamika politik terutama Pemilihan Presiden (Pilpres) di negara manapun ‒khususnya Indonesia‒ selalu ada pemilih yang tergolong swing voters (pemilih mengambang), yaitu pemilih yang bukan merupakan simpatisan ataupun aktivis kandidat tertentu. Jamak terjadi swing voters bertindak sebagai penentu kandidat pemenang dari suatu Pilpres karena hak suara dari swing voters memiliki proporsi yang cukup banyak dari total pemilih. Siapakah bagian terbesar dari swing voters? Ya, benar. Pemilih Pemula.



Pemilih Pemula dalam sistem Pemilihan Umum di Indonesia merupakan Warga Negara Indonesia yang berusia 17-21 tahun karena di segmen usia inilah Warga Negara Indonesia pertama kali sepanjang hayatnya merasakan berpartisipasi untuk menyalurkan hak suaranya di Pemilihan Umum (Pemilu), pemilih pemula kerap disebut merupakan bagian dari swing voters karena mayoritas dari pemilih pemula adalah pemilih yang belum menentukan pilihan atau bahkan bingung dalam menentukan pilihannya.

Pemilih pemula merupakan penentu hasil Pilpres 2014 ‒jumlahnya yang berkisar 24 juta pemilih merupakan 30,8% dari persentase total swing voters di Pilpres 2014‒ dimana persentase swing voters melebihi 40% dari persentase total pemilih Pilpres 2014 (LSI, 2014). Sementara itu, selisih dari pemilih yang sudah menentukan pilihan hanya berkisar 5-10% antara pemilih suatu kandidat dan kandidat lainnya. Hal ini menunjukkan signifikannya pertambahan suara suatu kandidat jika dapat mengeruk banyak suara dari segmen swing voters terutama “potongan besar” dari swing voters, yaitu segmen pemilih pemula.

Pemilih pemula adalah pemilih dengan rasa antusias paling besar dalam menyambut pemilu terutama Pilpres, terbukti 92,8 persen dari Warga Negara Indonesia berusia pemilih pemula berniat menyalurkan hak suaranya dalam pemilu, hal itu merupakan merupakan persentase paling besar dibanding segmen usia lain (Kompas, 2014), selain itu jumlah pemilih dalam segmen pemilih pemula mencapai 24 juta pemilih dari kisaran 186 juta total pemilih (Antara, 2014) merupakan jumlah yang sangat banyak dan sangat mungkin menjadi penentu pemenang Pilpres. Namun, pada umumnya pemilih pemula dalam menentukan pilihan adalah sekedar memilih karena keterpaksaan, memilih hanya karena tertarik akan kampanye-kampanye yang dilancarkan, ataupun memilih karena mengikuti pilihan orangtua, keluarga, dan lingkungan pertemanan, padahal inilah yang membuat pemilih pemula dianggap “asal pilih” oleh banyak kalangan.

Bagi pihak kandidat dalam Pilpres, posisi pemilih pemula yang cenderung masih bingung dalam menentukan pilihan adalah suatu “harta karun” karena dengan posisi pemilih pemula yang belum menentukan pilihan, ditambah lagi dengan kemudahan dalam memikat pemilih dengan model tersebut, kampanye yang mereka lakukan pun menjadi lebih ringan dan lebih tepat guna.

Jumlah yang banyak, rasa antusias yang besar; pemilih pemula merupakan segmen pemilih penentu hasil Pilpres tetapi cenderung tidak memahami bagaimana menyikapi pengalaman pertama yang akan mereka lakoni dan juga cenderung diremehkan keberadaannya oleh banyak pihak.

Untuk itu, dalam Pilpres 2014 pemilih pemula harus jauh lebih cerdas, kritis, mandiri, dan independen dibanding pihak lain karena minimnya pengalaman mereka dan juga karena hanya ada 2 kandidat di dalam Pilpres 2014 yang menuntut para pemilih untuk lebih mendalami setiap jengkal dari semua kandidat, terlebih lagi pemilih pemula. Selain itu, kesemua itu harus dilakukan oleh para pemilih pemula agar memutar balikkan keremeh-temehan oleh banyak pihak, mematahkan anggapan bahwa pemilih pemula adalah pemilih pragmatis dengan “asal pilih”nya, juga menghilangkan anggapan bahwa mendapatkan suara dari segmen pemilih pemula adalah mudah, “semudah menawarkan permen kepada anak balita”.


Pemilih pemula harus bertindak cerdas dalam menentukan pilihan, mereka harus bisa memahami luar-dalam kedua kandidat agar benar-benar yakin atas pilihannya. Untuk menentukan pilihan dengan benar serta yakin atas pilihannya, pemilih pemula harus sadar akan kewajibannya sebagai warga negara, yaitu salah satunya dengan menyalurkan hak pilih dengan benar dan sungguh-sungguh. Sebagai perwujudan dari hal tersebut adalah dengan mencari tahu tentang kedua kandidat dari banyak sumber riil, jika mereka hanya berkutat di layar televisi ataupun menu Blackberry Messanger, pemilih pemula hanya akan mengerti sudut pandang penuh muatan politis dari tim sukses maupun “Pasukan Nasi Bungkus” masing-masing kandidat tanpa benar-benar mengerti visi-misi yang dibawa kandidat dan fakta tentang latar belakang kandidat.

Oleh sebab itu, untuk menilai kesemua kandidat para pemilih pemula harus bisa mengabaikan kampanye-kampanye yang sekedar dilancarkan melalui layar televisi juga broadcast message –dan semacamnya. Pemilih pemula, walaupun hanya bisa menggunakan media sebagai sumber pengetahuan tentang kandidat Pilpres 2014, tapi mereka bisa mencari informasi maupun data melalui media yang netral seperti di beberapa akun media sosial, dan kemudian membandingkan dengan apa yang diblow-up secara resmi oleh tim sukses para kandidat di situs mereka. Dari situlah para pemilih pemula bisa secara cerdas menentukan pilihan.

Kemudian, para pemilih pemula harus menjadi pemilih yang kritis dalam menilai segala aspek dari semua kandidat. Para pemilih pemula haruslah memahami kekurangan maupun kelebihan masing-masing kandidat dengan baik. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memperhatikan baik visi-misi maupun latar belakang setiap kandidat, background politik yang mem-backing masing-masing dari mereka, pengalaman para kandidat dalam memimpin, prestasi para kandidat dalam kepemimpinannya, dan bahkan kasus-kasus dimana para kandidat tersebut dicurigai terlibat pun sama pentingnya untuk diperhatikan. Untuk memahami hal-hal tersebut, para pemilih pemula harus membandingkan dengan baik antara kampanye positif maupun kampanye hitam dan kampanye negatif yang tersebar luas ‒mana yang harus dijadikan acuan dan mana yang harus diabaikan.

Dalam penilaian tentang kampanye positif, para pemilih pemula haruslah mencermati visi-misi yang dibawa oleh setiap kandidat, bukan justru konten dalam kampanye yang jamak sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan visi-misi kandidat. Khusus dalam Pilpres menjadi hal yang sangat urgent untuk diperhatikan oleh para pemilih pemula, karena presiden terpilih pastinya akan memiliki gaya kepemimpinan dan langkah politik tersendiri dan besar peluangnya langkah politik dan gaya kepemimpinan presiden terpilih akan berbeda dengan partainya. Kemudian, perihal kampanye hitam (konten bernada negatif tentang suatu pihak, berisi fitnah dan kebohongan), para pemilih pemula harus bisa menilainya dengan baik dan tidak menjadikannya sebagai acuan. Namun, lain halnya dengan kampanye negatif (konten bernada negatif tentang suatu pihak, namun jelas dan sesuai fakta), para pemilih pemula justru bisa memanfaatkannya dengan baik sebagai suatu acuan untuk menilai kekurangan para kandidat. Jika pemilih pemula bisa kritis dalam menilai seetiap kandidat melalui bermacam jenis kampanye tentang para kandidat dengan baik, pilihan yang tepat pun akan datang dengan sendirinya.

Para pemilih pemula dituntut untuk bisa cerdas dan kritis dalam menghadapi usaha-usaha dari pihak para kandidat maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan, namun di sisi lain posisi pemilih pemula yang rata-rata masih hidup bersama orangtua maupun keluarganya membuat para pemilih pemula cukup kesulitan untuk memenuhi kriteria cerdas dan kritis. Oleh karena itu, para pemilih pemula haruslah mandiri dalam menentukan pilihan dan bagaimana cara-cara yang akan dilalui.

Keluarga dari pemilih pemula yang notabene sudah merasakan beberapa pemilihan umum baik legislatif maupun eksekutif dapat dipastikan sudah memiliki pendirian politik (dalam hal ini pilihan dalam Pileg maupun Pilpres) yang tetap, selain itu anggota keluarga yang sudah menetapkan pilihan pastilah berusaha mengajak anggota keluarga lain terutama yang termasuk pemilih pemula untuk menyamakan pilihan, hal tersebutlah yang membuat pilihan dari para pemilih pemula kerap pragmatis. Oleh sebab itu, untuk mencadi cerdas dan kritis para pemilih pemula mencari idealismenya sendiri dengan tidak begitu saja mengikuti pilihan dari teman, sahabat, lingkungan rumah, atau bahkan keluarga dekat. Hal itu semata-mata agar para pemilih pemula bisa menentukan pilihan dan cara-caranya tanpa terpengaruh oleh pilihan orang lain di sekitarnya.

Ada hal penting lain yang menentukan kecerdasan, kekritisan, dan kemandirian pemilih pemula dalam menentukan pilihan yaitu independen, netralitas. Pemilih pemula yang pada umumnya memiliki banyak relasi di lingkungan pertemanannya pasti mudah terpengaruh oleh orang lain yang telah menetapkan pilihan dan juga menjadi simpatisan dari suatu kandidat, dan cukup banyak pemilih pemula yang mengikuti langkah orang-orang di sekeliling mereka menjadi simpatisan dan memihak satu dari sekian kandidat yang ada.

Menilik posisi pemilih pemuda yang minim pengalaman, memihak suatu kandidat secara langsung dalam pengalaman pertama bukanlah pilihan yang baik. Selain kekurangan pengalaman, kondisi psikis pemilih pemula membuat mereka cenderung berpikir pendek untuk menentukan sesuatu. Padahal, dengan posisi mereka sebagai pencari pengalaman, lebih baik jika mereka mengeruk pengalaman dari posisi netral, mendikte situasi, dan mencari sendiri cara yang baik dan cocok untuk menentukan pilihan ketimbang sekedar mendukung suatu pihak karena pengaruh orang lain.

Dalam Pilpres 2014 kali ini, hanya ada 2 pasangan kandidat Capres-Cawapres yang bersaing, yaitu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (No. Urut 1) dan Joko Widodo – Jusuf Kalla (No. Urut 2). Melihat peta politik teraktual, persaingan antara kedua pasangan kandidat ini cukup ketat dimana elektabilitas Prabowo Subianto yang sebelum Pileg lalu tertinggal lebih dari 20% dari Joko Widodo saat ini semakin menipis jaraknya menjadi kurang dari 10%. Dengan persentase pemilih pemula, persentase swing voters, dan persentase pemilih pemula di dalam bagian swing voters yang telah disebutkan di awal narasi selisih elektabilitas dibawah 10% merupakan hal yang amat mungkin ditembus oleh kandidat yang dianggap underdog jika dapat mengeruk mayoritas suara dari segmen pemilih pemula. Pun begitu dengan kandidat yang berada di atas angin akan semakin mengukuhkan posisinya jika dapat menggaet mayoritas suara dari segmen pemilih pemula. Posisi pemilih pemula pun semakin krusial.

Dalam Pilpres 2014 kali ini, hanya ada 2 pasangan kandidat Capres-Cawapres yang bersaing, yaitu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (No. Urut 1) dan Joko Widodo – Jusuf Kalla (No. Urut 2). Secara umum kita dapat menilai perbedaan kedua kandidat; pasangan pertama berlatar belakang militer – ekonom, sementara pasangan kedua berlatar belakang sipil – pengusaha. Pasangan pertama salah satu kandidatnya pernah merasakan duduk di kursi pemerintahan, sementara pasangan kedua seluruh kandidatnya pernah merasakan duduk di kursi pemerintahan. Pasangan pertama disokong pihak yang kalah di Pileg tetapi memiliki persentase total suara koalisi yang tinggi, sementara pasangan kedua didukung pihak pemenang di Pileg tetapi memiliki persentase total suara koalisi yang rendah. Pasangan pertama didukung partai-partai berplatform nasionalis-agamis, sementara partai kedua didukung partai-partai berplatform nasionalis-reformis. Pasangan pertama berkesan tegas, sementara pasangan kedua berkesan sederhana. Secara umum demikianlah perbedaan-perbedaan antar pasangan, dan jika terpilih nanti ‒berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut‒ pastilah kedua pasangan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dan akan menghasilkan masa depan negara yang berbeda pula. Dan kembali lagi, semua itu ditentukan oleh hasil akhir Pilpres 2014 yang sangat bergantung kepada sikap pemilih pemula dalam  Pilpres 9 Juli mendatang.

Akhirnya, jika ada pertanyaan tentang pemenang Pilpres 2014 dan masa depan kepemimpinan Negara Indonesia, jawabannya dipastikan bergantung pada kecerdasan, kekritisan, kemandirian, dan keindependenan para pemilih pemula meyikapi “pengalaman pertama mereka”.


*) essay ini diikutkan di Lomba Essay KOMAHI UMY Tahun 2014 Dalam Rangka Menyambut Pemilihan Presiden 2014 dan mendapatkan Juara 1 setelah melalui Tahap Seleksi Berkas dan Tahap Presentasi

0 komentar: