Lebaran yang Aneh

6/10/2019 0 Comments


Masih dengan baju baru, sih. Tapi banyak yang berubah dan jadinya berasa aneh. Kaya nggak lebaran gitu. THR juga makin anjlok, tapi ya ini udah beberapa tahun gitu kok. Jadilah tulisan ini bukan sekadar tentang THR.


Aku ingat betul beberapa tahun belakangan ketika lebaran selalu jadi momen makan sepuasnya. Mulai dari sarapan di rumah dengan porsi yang banyak, dilanjut ditawari makan di rumah tetangga. Apalagi kalau ada yang nawari pempek, wah sikat deh sikaat. Kemudian ditambah dengan silaturahim ke rumah teman-teman ibu dan bapak. Udah nggak tau lagi deh gimana kenyangnya.

Belum lagi siangnya ke kampungnya bapak. H+1 ke kampungnya ibu. Keduanya penuh dengan makanan-makanan enak yang nggak pernah aku tinggalkan. Tapi lebaran kali ini beda.

Makanan-makanan enak tetap ada. Tapi nggak ada lagi aku yang makan sepuasnya. Yes, kalem betul pokoknya di lebaran kali ini, sarapannya sedikit, apalagi ketika silaturahim. Secukupnya banget. Paling-paling makan kacang mete di salah satu rumah tujuan silaturahim yang tetap banyak, hehehe

Ya gimana ya, badan makin gemuk dan terus mendekati gendut. Bukan masalah penampilan sih, tapi persoalan sehat yang harus diseriusin. Tambah sadar diri lagi begitu kabar sakit diabetes, darah tinggi, jantung, asam urat, sampai stroke makin akrab di telinga. Jadilah makan sedikit-sedikit, nggak ada lagi ceritanya lebaran sampai melampaui kenyang

Selain makanan, lebaran kali ini juga aku nggak tau kenapa gitu jadi kurang menikmati. Sampe tulisan ini dibuat, which is H+5 Idulfitri, aku masih sangat sedikit mengirimkan ucapan-ucapan selamat lebaran. Mungkin banyaknya di grup dan membalas ucapan dari orang lain, tapi ucapan yang pure aku bikin mungkin ke orang-orang tertentu saja. Bisa dihitung dengan jari.

Itupun kebanyakan tanpa pantun dan kalimat indah. Tanpa "air tak selalu jernih" juga tanpa "ketika mulut tak mampu berucap, ketika tangan tak mampu berjabat erat". Mungkin gabungan dari jenuh, malas buka hp dan WA, juga makin mikir buat apa kiriman-kiriman begituan kalo sebatas formalitas yakan. Jadi, memang buat yang benar-benar berinteraksi saja.

Oiya, makin sedikit anak-anak yang main mercon di sekitar rumahku. Bagus juga karena kebiasaan bakar duit menghilang. Tapi yaa, tetap aja jadi kurang rame gitu. Kurang lengkap tanpa omelan ibu yang komplain ketika suara mercon sangat memekakkan telinga hehehehe...


Satu lagi yang berubah, yang ini karena usia. Mulai dari anak-anak bapak-ibu yang sekarang sudah makin besar. Nahwan, anak paling kecil pun sekarang sudah mau kelas 8 SMP. Dia yang biasanya paling manja dan main doang kerjaannya, sekarang mau-nggak mau ikut bantuin kerjaan rumah. Dan ikut diomelin ibu juga kalo pas lagi males-malesan hahahaha (ini bagian yang paling aku senang :v).

Aku? Lebaran ini jadi supir full-time. Selama mudik jauh lebih banyak porsiku yang menyetir mobil ketimbang bapak. Mulai berbagi peran juga, biasanya bergantung bapak-ibu sekarang bisa punya keputusan sendiri, baru kemarin anak-anak berlima main bareng tanpa bapak dan ibu.

Selain itu, bapak dan ibu juga mulai dituakan di lingkungan rumah. Dulu biasanya bertandang ke tetangga yang lebih dituakan, sekarang mulai banyak dikunjungi. Tahun depan sepertinya bakal total berganti, ibu dan bapak di rumah dan anak-anak saja yang keliling bersilaturahim dengan tetangga.

Secara pribadi, aku juga menilai lebaran ini ngga sebahagia biasanya, deh. Ada perasaan campur-aduk di sini. Lebaran-nya, sih, tetap jadi momen bahagia banget. Tapi kemudian beberapa hari sebelum lebaran ada tetangga meninggal. Ada salah satu pakdhe yang sakit jantung dan jadi nggak sebugar biasanya. Juga kebayang, aku memang bisa berkumpul dengan keluarga, tapi bagaimana dengan orang lain yang nggak bisa berkumpul bersama keluarga di momen sebahagia ini?


-----
Lebaran ini terasa beda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya. Aneh jadinya. Atau mungkin, sekadar jadi standar baru buat lebaran-lebaran tahun selanjutnya. Masa transisi dari suasana lebaran yang bakal berubah lebih jauh lagi.

0 komentar: