Satu Bulan, Tiga Kali Kena Reschedule Pesawat

4/29/2019 0 Comments

Maret-April ini cukup spesial. Dalam rentang waktu ini aku dapat rentetan kesempatan naik pesawat. Eh, maksudnya.... naik pesawat, sih, biasa-biasa aja. Jadi spesial karena kesempatan ini adalah kesempatan pertama setelah setahun nggak naik pesawat. Setelah diingat-ingat lagi, terakhir aku naik pesawat sekitar setahun lalu ketika mau menuju Kalimantan Selatan untuk pertama kalinya.

Nah, di kesempatan kali ini jadi panjang cerita. Karena dalam sebulan mengalami tiga kali reschedule. Bikin mumet, tapi akhirnya bisa dilalui dengan gronjal-gronjal hehehe... Berikut ceritanya


Pertama

Ini sepaket dengan perjalanan ke Palembang bersama rombongan PW IPM DIY untuk ikut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Palembang. Perjalanan berangkatnya lancar, nggak ada halangan berarti. Sampai di Palembang juga feels good, menginap di Wisma Atlet yang mungkin dulu atlet keren Asia dari berbagai cabor nginap di sana. Pertama kalinya ke Palembang pula.

Tapi ceritanya panjang di luar itu semua. Setelah Rakernas aku nggak ikut rombongan balik ke DIY, tapi mampir ke Lampung dulu. Iyalah, sempat ke Palembang juga harus disempatkan mampir Lampung, takut durhaka aku. Ke Lampung naik kereta, rencana dilanjut ke Jogja dari Lampung naik pesawat tanggal 1 April sore. Sriwijaya Air direct flight. Nanggung karena tanggal 2-nya ada jadwal UAS, walaupun di tanggal 3 sebenarnya libur nasional.

Ternyata, dapat kabar di tanggal 31 Maret bahwa penerbangan direshedule ke 2 April, dong. Seumur-umur baru kali ini ngerasain penerbangan diubah jadwalnya, dengan momen yang sempit waktunya. Panik seketika, deh. FYI, penerbangan Jogja-Lampung nggak sesederhana yang dibayangkan. Kalau Jakarta-Jogja atau Lampung-Jakarta gitu masih mending, lah ini Lampung-Jogja.

Tol Trans Sumatra, dekat Bakauheni

Stunning view, executive seaport di kejauhan.


Setelah pertimbangan yang memusingkan, akhirnya diputuskan aku ambil flight tanggal 1 malam dari Jakarta. Dengan jalan menuju Jakarta yang rumit. Ambil oleh-oleh dulu, diantar bapak pake mobil ke Pelabuhan Bakauheni, terus naik kapal Bakauheni-Merak, lanjut jalan ke Damri Bandara dari Merak ke Bandara Soekarno-Hatta, baru lanjut pesawat Air Asia malam itu Jakarta-Jogja.

Kurang-lebih perjalanan menghabiskan waktu 13 jam. Cukup mulus, sih untuk golongan pertama kali merasakan reschedule. Tapi efeknya tuh, lho, badan ngedrop besoknya. Seminggu lebih kemudian baru pulih seperti sedia kala.


Kedua

Ada kesempatan kedua buat balik Lampung di bulan April ini. Pas di momen coblosan untuk Pemilu 17 April. Tapi nggak cuma itu, sih. Kebetulan pas di pekan itu liburnya banyak banget. Rabu dan Jumat libur nasional, alhasil aku cuma masuk Senin dan mengorbankan hari kuliah Selasa dan Kamis saja. Jadi lebih harus banget pulang karena ada titah dari bapak; ngajari bapak Microsoft Office Excel.

Taksaka, dulu cuma dengar namanya.

Jam 5 pagi sudah di Bandara Soetta.

Aku berangkat rencananya dengan maskapai Sriwijaya Air (lagi). Direct. Kemaren becandaan bapak jadwalku direschedule karena harganya murah di saat tiket lagi mahal-mahalnya. Nah untuk edisi kali ini harganya normal, tergolong mahal. Aku husnudzon banget dan lebih tenang, deh.

Tapi ya nyatanya direschedule lagi-_-
Akhirnya terpaksa mengundur waktu kepulangan karena nggak ada tiket yang lebih baik di hari itu juga. Berangkat naik kereta malem YK-Gambir, sampai Jakarta dini hari. Lanjut Damri bandara dan sampai di bandara pas jam 5. Bisa istirahat dulu, salat subuh dilanjut nunggu pesawat. Flight dengan Sriwijaya Air (tanpa reschedule lagi) jam 8 dan jam 9 sampai di Lampung.

Satu koridor di salah satu gate Bandara Soetta.

Sampai di Lampung untuk coblosan, liburan, dan nemenin bapak belajar Excel.

Iya, emang naik kereta eksekutif dan nggaya banget buat sekelas aku. Tapi ya gimana, daripada ngedrop mending mengorbankan 200ribu deh hehe. Walaupun hitungannya mahal, tapi masih lebih hemat daripada (seandainya) tiket pesawat nggak direschedule. Lumayan, kan.


Ketiga

Akutu sudah lelah dengan reschedule. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kedua flight yang reschedule adalah Sriwijaya Air direct flight, Jogja-Lampung atau sebaliknya. Kayanya emang lagi low-season gitu deh, ditambah harga yang nggak ramah bikin penumpang tambah sedikit. Jadi, kali ini aku coba buat nggak direct flight. Alasan aja, padahal mah emang budget terbatas hehe.

Pesan tiket transit-flight Lion Air tanggal 20 sore, Lampung-Jakarta-Jogja. Harga tinggi, maskapai bukan Sriwijaya Air. Aman deh, aman. Sudah tenang bisa dapat ending liburan yang cukup oke, bakti ke bapak dapet, bisa coblosan, dan nyambi liburan. Kurang apa lagi coba?

Kurang beruntung, deh, kayanya-_-
Tanggal 19 siang dikabari bahwa pesawat direschedule. Digeser jadi pagi banget jam 6.30. Sebel lagi, deh. Tapi yaudahlahya, nggak bisa diapa-apain juga. Setelah nelpon CS, dapat solusi untuk juga memajukan flight Jakarta-Jogja, dapat. Jadi Lion Air Lampung-Jakarta jam 6.30 dilanjut Batik Air Jakarta-Jogja jam 12.30.

Perjalanan dibuka dengan hujan
Dilanjutkan sunrise yang keren pol.
 
Karena perubahan jadwal kali ini, beberapa rencana harus batal. Persiapan juga jadi buru-buru, untungnya ada mesin cuci dan kipas angin + hanger. Cucian kering dalam hitungan jam tanpa panas matahari, deh hehehe...

Menunggu prameks di Maguwo.

Sisanya, perjalanan lebih lancar daripada dua kesempatan sebelumnya. Merasakan maskapai Batik Air untuk pertama kali juga, lumayan sepadan laah ganti dari perubahan jadwalnya.


Closing

Pada akhirnya, segala kerumitan ini bukan dalam rangka penghakiman buat maskapai. Namanya pesawat terbang ya jadwalnya emang nggak sepasti bis apalagi kereta api. Banyak variabel yang menentukan penerbangan pesawat bisa terlaksana dengan tepat sesuai rencana atau enggak.

Selain itu, pengalaman seunik ini sangat melatih kesigapan. Bahkan, dari sini aku malah dapat pengalaman menjajal beragam moda transportasi. Damri bandara, kereta eksekutif YK-Gambir, skytrain, prameks Maguwo-YK, sampai naik kapal laut sebagai penumpang pejalan kaki, bahkan juga nyobain tol baru.

Jadilah, kerumitan ini membuat April 2019 nggak sekedar rumit, tapi juga berkesan. Sangat berkesan.

0 komentar: