7 Hari Mengunjungi Malika (2-habis)

4/01/2019 0 Comments


Hutan di pedalaman Banyuwangi
 
Paruh kedua perjalanan berlajut. Agak mumet sebenarnya di perjalanan ini, karena dengan objectives yang banyak, kami masih harus mengurus akomodasi sendiri dan dengan anggaran yang nggak banyak-banyak banget. Pemesanan demi pemesanan, perubahan penginapan, sampai perubahan rencana akrab banget dengan kami selama perjalanan ini. Tapi, overall lancar sampai akhir.

Mari menyimak bagian kedua...

Kediri

Menginap di Kediri semalam, setelah dari Trenggalek. Sempat makan di sate Pak Siboen, ditraktir full sama Pak Bas dan Pak Rofi. Kalau nggak ditraktir lumayan tuh, satu orang bisa habis 50-60 ribu. Sesuatu yang sangat nggak efisien mengingat kami satu tim berusaha berhemat.

Nah, memang cuma sebentar seperti di Ponorogo. Tapi juga berkesan dalam perjalanannya yang lewat Pare, Kabupaten Kediri. Yap betul, Kampung Inggris itu, lho. Teringat Pare 8 tahun lalu, ketika aku ke sana. Dulu sempat ada program 20 hari untuk anak-anak sekelas ketika aku MTs di Mu'allimin.

Memori kerjaan sehari-hari yang ngegame online melulu,
sepedaan sampai Stadion Canda Bhirawa (apalagi pas banget kemarin lewat jalan samping stadion),
sampai ketika sepedaku sempat ditabrak motor,
dan ada teman yang jatuh dari atap asrama. Yes, walaupun singkat-sekejap lewat Pare, semua memori teringat kembali gitu..


Nganjuk

Dalam perjalanan ini sebenarnya feelingku tentang petani setempat lebih banyak negatif, seperti yang sudah aku sebut di paruh pertama. Aku pesimis dengan keadaan dan kesejahteraan petani. Nah, di Nganjuk ini aku justru surprised, bertemu dengan keadaan yang berbeda. Gimana enggak, di titik surveyku, petani-petaninya punya lahan minimal 2 hektar, ada yang 4 hektar, bahkan ada juga yang 6 hektar. Yes, sampai dengan 60.000 meter persegi bos.

Keadaannya juga sejahtera (ya iyalah, 20.000-60.000 meter persegi), bertolak belakang dengan keadaan di Trenggalek yang cukup susah atau bahkan sangat susah. Di titik tempatku survey ini nggak ada ceritanya petani rugi, walaupun harga padi naik turun dan harga kedelai hitam cenderung turun, karena mereka punya lahan yang luas ya tetap saja untung besar.


Malang

Di Malang sebenarnya pengen main ke mana-mana, tapi akhirnya waktu di Malang banyak dihabiskan buat transit saja. Sebelum perjalanan panjang ke Banyuwangi.

Ketika di Malang sempat merencakan ketemu beberapa teman, tapi sayangnya harus dibatalkan karena waktu yang mepet banget. Mohon maaf pembatalan ini ya teman-teman, terutama Unun yang aku php sakpole, duh.

Tapi di Malang sempat main sedikit, sih. Ketemu mbak Ayunda di rumahnya, aku baru tahu ternyata mbak Ayunda yang tinggal bareng kakeknya ini menjalankan peran sebagai ibu kos. Kos putra pula. Menang banyak kan dia, hahaha...

Juga dilanjut dengan mampir ke UMM. Ketemu mbak Maharina yang dulu sangat lincah banget geraknya. Sekarang harus pelan-pelan karena sedang mengandung calon keponakan kedua anak-anak Lembaga Media PP IPM :))

Menit-menit sebelum kebodohan yang hqq terjadi

Kebodohanq yang hqq juga terjadi di Malang, nih.
Jadi ceritanya, setelah sampai di Malang malam hari kemudian mikir bahwa pakaianku terbatas. Cara yang baik adalah ngelaundry, tapi kemudian malah pusing nyari tempat laundry. Diputuskanlah mau nyuci di rumahnya mbak Ayunda. Cus berangkat nge-Gojek mepet tengah malam. Sampe di rumahnya mbak Ayunda, baru sadar bahwa baju kotornya ketinggalan dooooooong.

Ember siap, detergen siap, mesin cuci siap, lah yang mau dicuci malah nggak ada -_-

Oh iya, es teler dempo-nya Malang mantap betul! Terkenang sampe sekarang hehe..

Sempat berhenti di titik semacam aliran lahar. Dari Malang pas masuk Lumajang. Menuju Banyuwangi

Banyuwangi

Terima kasih untuk Cak Sobri yang sempat menyempatkan buat menemui ketika rombongan mampir di Jember. Walaupun kami mampir cuma bentar banget di Jember.

Terima kasih untuk perjalanan ini, aku berhasil sampai ke titik terjauhku di Jawa. Dan di tempat yang belum pernah terbayangkan. Pertama, aku sampai ke Genteng, tempatnya keren banget dan lumayan dingin. Ketika bangun pagi terus melihat ke utara, woaah, kerenn banget pemandangannya. Gunung Raung dan gunung-gunung lain di barisannya benar-benar menghipnotis pandangan.

Woaaaaaaaaaah......


Selanjutnya, ke Kecamatan Glenmore buat transit dan short briefing sebelum berangkat ke lokasi survey. Yes, namanya Glenmore, nggak ada Jawa-jawanya. Nama Glenmore konon berasal dari keluarga Skotlandia yang pernah tinggal di sana. Glenmore dan Genteng jadi kecamatan terjauhku di Pulau Jawa sampai titik ini, karena sebelumnya aku pernah ke Kalibaru, sedikit di sebelah baratnya Glenmore dan Genteng.

Kemudian masuk ke bagian yang nggak terbayangkan sebelumnya. Titik penelitianku ternyata 40 km dari Glenmore. Merasuk ke bagian tenggara Banyuwangi. Lebih tepatnya : kecamatan paling timur di Pulau Jawa!
Sampai di samping dan halaman rumah pun ada pohon buah naga

Letaknya persis di sebelah Taman Nasional Alas Purwo --kamu bisa lihat "ekor"nya Jawa di bagian timur, itulah Alas Purwo. Berada di tempat ini, kerasa banget panasnya, selain itu bahasa Osing-nya juga beda dengan bahasa Jawa pada umumnya. Yang nggak kalah menarik, daerah ini ternyata jadi penghasil buah naga, produksinya banyak banget. Kalau ada yang tahu kasus buah naga dibuang-buang ke sungai dan viral di medsos, ya di sekitar lokasi penelitianku inilah tempat kejadiannya. Harga yang anjlok banget jadi penyebabnya. Cuma 1.500 per kg, bayangkan.

Kemudian setelahnya perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pulomerah, refreshing sebentar, ditemani senja yang membantu melepas segala ketegangan. Selanjutnya, kembali ke Glenmore sebelum melakoni perjalanan panjang, balik ke Jogja lagi.

Senja di Pantai Pulomerah


-----
Ada obrolan dengan Pak Wiwid (yang nggak sempat terdokumentasi), alumnus UGM yang jadi pemilik perusahaan sekaligus lakon pemberdayaan petani kedelai hitam di area Banyuwangi. Menarik, membuat fragmen-fragmen yang terpisah selama penelitian bisa menyatu dan jadi pengetahuan baru. Bahwa petani perlu lebih dihargai. Bahwa pemberdayaan petani sudah dan perlu terus dilakukan. Bahwa perjuangan masih jauh dari kata usai.

Kedelai hitam adalah komoditas yang cendeung diterima petani, prosesnya mudah dan hasilnya baik. Juga bebas dari praktik pertengkulakan yang sangat merugikan petani. Semoga skema seperti dalam budidaya kedelai hitam bisa ditiru komoditas pertanian lain.

0 komentar: