7 Hari Mengunjungi Malika (1)

4/01/2019 0 Comments

Empat pekan lalu, aku tergabung ke sebuah penelitian. Penelitiannya tentang Malika, kedelai hitam yang dirawat pak tani seperti anaknya sendiri. Eh kalimat barusan ini serius, loh, ternyata. Malika adalah varietas kedelai hitam hasil pemuliaan yang dilakukan UGM, jadi programnya PT Unilever. Nah penelitian ini menyentuh peran koperasi/penyalur dan bagaimana keberadaan Malika berpengaruh terhadap petani dan pertanian kedelai hitam.

Ini, Malika
 
Sebelum dimulai, aku menyampaikan terima kasih untuk Pak Abdur Rofi dan Pak Sabastian Saragih dari Circle. Juga Danung, Ira, Elsa, Mbak Rizka, dan Mbak Ayu sebagai partner keren selama sepekan.

Di tengah padatnya jadwal yang nggak sudah-sudah, akhirnya tulisan ini selesai dan aku putuskan memecah jadi dua tulisan. Tapi aku publish hampir bersamaan, sekadar untuk menjaga biar tulisan ini nggak kepanjangan. Cukup sampai sini deh, ya, intronya. Selamat membaca :)


Bantul dan Kulon Progo

Hari pertama dimulai dari Bantul, dilanjutkan ke Kulon Progo. Ragu, sangat ragu ketika memulai wawancara pertama. Benar saja, aku nggak terlalu nyaman di wawancara pertama ini. Banyak salahnya juga, persiapan dan pertanyaan yang aku ajukan ketika briefing ternyata nggak sepenuhnya sama dengan keadaan di lapangan.

Di Kulon Progo bersama Pak Muhajir

Nah, di sinilah aku pertama kali melihat kedelai hitam "Malika". Ternyata beda dengan yang ada di bayanganku. Aku kira bundar-bundar agak besar gitu, tapi ternyata enggak. Ya sama persis dengan kedelai biasa, cuma warnanya hitam.

Hari kedua pindah ke Kulon Progo. Bertemu dengan Pak Muhajir. Status beliau adalah pengepul, semangatnya untuk pengembangan pertanian kedelai hitam begitu kuat. Berkali-kali menyampaikan ke aku untuk menyampaikan kalau bisa ada bantuan bagi petani-petani kedelai hitam. Pak Muhajir juga lah yang mengantar aku untuk wawancara dari rumah ke rumah gitu.


Ponorogo

Menginap di Hotel Amaris, benar-benar cuma semalam karena sehari sebelumnya mendadak harus langsung menuju Trenggalek setelah Selasa sore dari Kulonprogo. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Ponorogo, tinggal di sana nggak sampai sepekan sebelum banjir Ponorogo beberapa waktu lalu.

Walaupun cuma sebentar, ada kesan yang aku ingat lumayan kuat. Nggak tau kenapa di Ponorogo ini (daerah yang aku lewati pastinya) berasa jarang banget ada Alfamart/Indomaret. Oh iya, satu lagi yang teringat, Ketika di Ponorogo menuju Trenggalek itu lewat di kawasan Pondok Modern Gontor 1 gitu. Dulu ketika di Mu'allimin, kami cukup sering mendengar nama Gontor 1 --salah satunya karena sama-sama pondok, sih. Pernah juga baca novelnya Ahmad Fuadi yang menggambarkan pengalamannya saat di Gontor. Tapi baru kali ini sempat lewat. Dan baru, deh, bisa membayangkan


Trenggalek

Kabupatennya Emil Dardak, nih. Itu lho, wakil gubernur Jawa Timur, yang sejak muda pencapaian pribadinya luar biasa. Sama dengan Ponorogo, ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Trenggalek. Di sini, nih, mulai ketemu dengan logat Jawa Timuran yang khas. Jadi tantangan tambahan pokoknya.

Beberapa gazebo idenya ibu-ibu Saraswati. Mau dijadiin destinasi wisata, katanya

Di Trenggalek, aku kebagian survey di wilayah Desa Kampak. Yang menarik di sini adalah, dari beberapa rumah yang aku survey ada yang kepala keluarganya bekerja merantau, ke Kalimantan dan ke Papua. Selain itu juga dapat istilah baru yang jujur membingungkan. Misal ada istilah ukuran tanah 1 ru, 1 ler. Dan sedihnya, aku tanya konversinya ke ukuran meter pada nggak tahu pula, haduuh. Untung tertolong ibu-ibu Saraswati (semacam kelompok pemberdayaan masyarakat dari CSR Unilever). Terjawab sudah, bahwa ukuran 1 ru = sekitar 4m2 dan 1 ler = 125 ru.

di Trenggalek disuguhi makan siang, dong. Agak dipaksa untuk harus makan. Padahal nggak ada kewajiban bagi mereka buat menyedikan konsumsi. Kagum dengan jamuan mereka, deh :)

-----
Perjalanan paruh pertama ini bikin ironi sebenarnya. Beberapa (ini artinya banyak) dari petani yang aku temui sangat nggak berkecukupan dan rendah pendidikannya. Itulah sebab kesejahteraan di keluarga petani adalah barang langka. Padahal, kan, kita bisa hidup karena hasil kerja keras petani. Tapi, nggak cuma hal buruk yang ada; keramahan dan penghormatannya ke tamu tuhlo. Berkesan banget.


Bersambung... klik di --> tulisan kedua

0 komentar: