KKL 1 (Mozaik 1) : Bahkan Debu Bisa Mengubah Hidup Manusia

9/04/2017 0 Comments

Akhirnya kembali menulis. Inipun setelah janjian, jadi lebih terpacu buat memulai dan menyelesaikan tulisan. Oke, biar terkesan lebih alim dan spesial, kata ganti orang pertama dan kedua bakal diganti dari "gue-elu" menjadi "aku-kamu" ya. Karena kata orang-orang bermadzhab gue-elu, salah satu keberhasilan pdkt adalah kata ganti yang berubah menjadi aku-kamu, ugh...

Tulisan ini membicarakan tentang Kuliah Kerja Lapangan 1 (KKL 1) Fakultas Geografi UGM, Tapi ternyata selain berasa kuliah-kerja juga sangat kental terasa unsur jalan-jalannya, walaupun dari seluruh stopsite hanya beberapa yang memang merupakan destinasi wisata. Itu karena tugas-tugas dan kerja yang dilakukan nggak seberat yang dibayangkan.

Yang jelas, banyak ilmu yang didapat dari KKL 1 yang dilaksanakan 19-20 Juli lalu, walaupun yang bakal aku sorot adalah hikmah, faedah yang begitu banyak didapat. Untuk mozaik 1 ini bahasan berfokus di :

Tanah Merah
Bentanglahan Karst

Kawasan karst sepanjang Gunungkidul dan ke timur memiliki batuan berupa batu gamping, nah kalau sudah jadi tanah biasanya menjadi tanah berlempung yang tergolong tidak subur. Tapi kemudian debu vulkanik ikut campur, mengubah tanah menjadi lebih subur dan bisa ditanami tanaman pangan seperti singkong, sampai padi gogo. Bahkan di wilayah Mediterania, tanah ini bisa menjadi lahan kebun anggur yang berkualitas baik.

Tanah merah

Tanah yang lebih subur tadi namanya tanah terra rossa (nama sesuai klasifikasi lama namun secara umum tetap digunakan). Tanah dengan drainase yang baik ini setidaknya membantu pertanian, dan membuat keberlanjutan hidup manusia tetap memungkinkan. Bahkan, kalau kamu pernah tau tiwul, makanan yang begitu identik dengan kawasan Karst, secara nggak langsung ada berkat tanah terra rossa --tanah berlempung yang tercampur debu vulkanik dan berubah susunan kimianya.


Sedimentasi Waduk
Waduk Gajah Mungkur yang mulai terganggu sedimentasi. Di sebelah kiri bahkan lahan pertanian mulai dibuka.


Waduk Gajah Mungkur bukan sembarang waduk. Waduk ini dibangun dengan menenggelamkan 51 desa di 7 kecamatan, ribuan penduduk harus bertransmigrasi demi terwujudnya waduk ini. Tapi kemudian sedimentasi yang terlalu cepat membuat waduk tidak lagi optimal, perkiraan efektif 100 tahun tapi saat ini di usia sekitar 40 tahun dan keadaan waduk sudah cukup buruk.


Sedimentasi tersebut pastinya berasal dari material-material berukuran kecil. Mulai dari tanah di hulu dan kawasan lindung yang tererosi, hingga debu-debu yang juga terbawa aliran sungai menuju waduk ini. Lama kelamaan, karena laju tidak terkontrol bisa sampai mempengaruhi kelayakan waduk. Jika lebih parah lagi bahkan masalah ini bisa menimbulkan pertentangan karena kita nggak tau siapa pemilik dari sedimen yang kemudian menyembul muncul di permukaan. Tentunya juga mempengaruhi tujuan awal adanya waduk seperti rekreasi ataupun industri perikanan.

Rawa Pening yang semakin sempit area perairannya. Tepiannya diubah jadi lahan pertanian, dan eceng gondok yang terus bertambah

Secara sederhana, bukti dari pengaruh sedimentasi ini bisa kita jumpai di Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang. Tapi yang ini bukan didominasi erosi secara masif, melainkan akibat eceng gondok yang tumbuh nggak terkendali


Runtuhnya Kerajaan Demak
Dulunya tempat ini bagian dari Selat Muria. Sekarang jadi rawa, tambak, juga pabrik yang kelihatan mekso, karena disamping pabrik langsung bertemu genangan air semacam rawa gitu

Bosan sebenarnya bercerita tentang keruntuhan Kerajaan Demak. Tapi nggak papa deh toh juga masih banyak yang belum tahu bahwa Kerajaan Demak nggak serta-merta runtuh karena perang saudara. Tapi juga runtuh karena material vulkanik, debu salah satu bagiannya.

Lho kok bisa?

Jadi ceritanya, Kerajaan Demak merupakan kerajaan yang ditunjang kekuatan maritim, terletak di sebelah selatan Gunung Muria. Nah, dulu wilayah tersebut merupakan Selat Muria, tapi kemudian karena ada aktivitas organik muncullah pulau-pulau karang yang mengurangi luas laut di wilayah Selat Muria. Kemudian sekitar abad ke-16 Gunung Muria meletus, materialnya makin mengurangi luas selat dan juga kedalaman selat, hingga kemudian Selat Muria nggak bisa dilalui kapal-kapal besar lagi. Perlahan tapi pasti, Kerajaan Demak kehilangan kekuatan terbesarnya.

Kemudian kenyataan itu "disempurnakan" dengan adanya pemberontakan yang sukses menutup buku perjalanan Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

------------------
Jadilah, kesemua pembahasan di atas merupakan gambaran betapa debu ternyata bisa memberikan dampak yang luar biasa, bahkan bisa juga sampai mengganggu kehidupan manusia. Bahkan kita belum bicara tentang debu vulkanik Samalas, Tambora, dan Krakatau.

Oke cukup. Setelah ini nggak perlu lagi khawatir dengan ungkapan gombal "aku tanpamu, butiran debu"

Karena bisa jadi, butiran debu jauh lebih luar biasa daripada anggapan orang :)

0 komentar: