Jadi, Siapa Musuhmu?

1/02/2017 1 Comments


Dinamika di kehidupan, lingkungan, dan hubungan antar manusia pasti hasilnya macam-macam. Termasuk juga bisa menghasilkan musuh. Apalagi kalau di dunia orang dewasa yang banyak like-dislike nya, musuh itu (seakan-akan) keniscayaan dan wajar-wajar aja. Setiap orang pasti punya musuh gitu deh.

Tapi gue sendiri nggak mau takluk di keyakinan bahwa punya musuh itu pasti. Gue beranggapan bahwa, kita dilahirkan dalam keadaan nggak kenal siapa-siapa dan nggak punya kawan maupun musuh. Jadi namanya teman-musuh itu ya akibat perbuatan, namanya perbuatan pasti bisa diarahkan ke yang baik-baik dong.

Itu berarti, peluang nggak punya musuh masih terbuka, tapi seringnya kita aja yang menganggap punya musuh itu wajar.

Lho, dalam hidup kan ada persaingan?

Betul. Kita pasti bersaing dengan banyak orang di kehidupan ini. Tapi kalau gue sih cenderung beda, gue menganggapnya dengan mereka berseberangan  itu, mereka rival gue --bukan musuh.



Rival beda lho dengan musuh. Sama-sama berlawanan, sama-sama berseberangan, bersaing juga. Tapi tanpa rasa benci. Murni bersaing tapi ya tanpa dibumbui rasa benci dan dendam. Jadi setelah persaingan selesai ya bukan rival lagi, nggak menjadi musuh, hubungan kembali seperti biasa atau malah lebih baik.

Misal yang sederhana (walaupun ini contohnya kurang baik), ketika bersaing dalam urusan nilai dan peringkat di kelas. Gue bisa saja bersaing dengan beberapa orang, kemudian hasilnya keluar. Main futsal sama temen-temen juga sama, bisa aja senggolan fisik sampai bantai-bantaian skor. Tapi setelah berakhir, entah gue menang ataupun kalah, ya setelah itu ndak ada permusuhan. Gitu deh kira-kira yang namanya rival.

Kita juga bisa beranggapan nggak punya musuh ketika kita selalu berusaha untuk nggak membenci orang. Contoh ketika ada permasalahan di media sosial nih, atau katakanlah ada perselisihan hebat di dunia nyata, terus kita mengusahakan untuk nggak memblokir dia yang bermasalah dengan kita. Memang nggak sepenuhnya masalah selesai, tapi minimal mencegah terjadinya kemungkinan yang enggak-enggak kan? (Terimakasih untuk Oase yang bikin inspirasi di paragraf ini muncul)


Upaya-upaya lain pastinya harus dicoba untuk membuat nggak ada lagi yang memendam rasa benci ke kita. Misal, mencoba ngobrol setelah selesai persaingan, atau selalu mencari klarifikasi ketika ada kabar-kabar nggak enak yang sekilas beredar. Apapun itu coba saja dimaksimalkan. Dan yang jelas, kita juga harus menghilangkan yang namanya perasaan benci untuk mengecilkan kemungkinan punya musuh. Benci ke keburukan yang jelas saja harus hati-hati kan? Apalagi benci ke hal-hal yang bisa jadi menurut kita penting tapi menurut banyak orang lain biasa saja.

Ya yang penting kan mengusahakan. Gimana caranya kita nggak memendam kebencian, dan kita mencegah kebencian yang mungkin terjadi dari orang lain terhadap kita. Setelah sejauh itu, kembali ke awal, sebenarnya musuh ada karena perbuatan kita. Jadi, kalau mau menganggap di hidup kita pasti ada musuh, ya musuh kita adalah diri kita sendiri.

Diri kita yang nggak bisa menghindar dari kebencian, takluk dengan amarah, nggak terbuka untuk memaafkan. Atau bahkan diri sendiri jadi musuh ketika menciptakan yang namanya mager, nggak mood, maksiat, dan hal-hal biasa lain yang sebenernya sangat menghambat kebermanfaatan kita buat orang banyak.

Sudah kan, ketemu siapa dedengkot dari musuh-musuh kita😈😈

1 komentar: