Setelah 18 Tahun dan 315 Hari

11/12/2016 3 Comments


Ini salah satu momen terlangka dalam hidup, sampai detik ini. Itulah kenapa, walaupun sepele pake banget, gue tetap merasa perlu untuk mengabadikan momen ini dalam tulisan.

Teringat peristiwa 11 tahun lalu :
TK gue mengadakan kunjungan sederhana ke Bandara Raden Intan II di Lampung. Gue termasuk dalam kelompok anak cupu yang terheran-heran begitu melihat ada pesawat Merpati Airlines landing, ditambah lagi dengan suara "ngiiiiiiiiiiiing" yang sangat kuat.


Di Bandara yang dulu masih kecil itu, lalu lintas pesawat nggak terlalu ramai, hanya ada satu pesawat carteran yang terparkir dekat dengan rombongan TK. Itu pun gue sebagai anak kecil dengan nyali yang kecil banget nggak berani untuk masuk pesawat itu, walaupun pintunya terbuka, walaupun ada beberapa teman yang memberanikan masuk ke dalam kabin dengan jahilnya. Walhasil apa yang gue lihat sebatas area pintu masuk, melihat kursi penumpang pun belum.

Dan nggak ada lagi momen sedekat itu dengan pesawat dalam 11 tahun setelahnya....

Tapi akhirnya, sekarang gue merasakan masuk pesawat sekaligus jadi bagian dari penerbangan, pertama kali seumur hidup. Lumayan "wah" tapi ternyata lebih kurang rasa yang seperti naik pesawat ini sudah pernah gue rasakan. Goyangan setelah take-off setara dengan kapal di Selat Sunda yang goyang terkena ombak, getaran kecil di udara setara dengan getaran kapal ferry ro-ro yang terkena ombak cukup besar, rasa di telinga ketika tekanan udara berubah setara dengan naik motor di jalan mendaki menuju Candi Ijo, Pemandangan awan-awan tipis juga mirip dengan pendakian Gunung Dempo, mungkin gumpalan awan saja yang baru --ternyata, dari atas, awan cumulus kecil kelihatan seperti pop corn!

Ternyata mirip gumpalan pop corn, tapi besar-besar. Kadang juga bentuknya seperti bubur ayam polosan.

Tau yang paling bikin gue excited? Dialah knalpot pesawat, gue baru tau kalau pesawat knalpotnya ada di buntut. Terus, yang di bagian belakang mesin jet itu apa? Lah

Lingkaran di buntut pesawat itu ternyata knalpot gan!

Nggak terlalu wah sih ternyata. Tapi tetap jadi momen yang begitu berharga. Karena di penerbangan pertama seumur hidup ini, gue nggak menggunakan uang orangtua sepeser pun, fully gratis dibayari pulang-pergi (best thanks untuk PP IPM pokoknya). Belum lagi, ini pengalaman pertama, yang mana di zaman modern naik pesawat kan lazim banget. Pesawat merupakan simbol transportasi cepat, yang jadi ciri zaman modern dan era globalisasi. Dan dengan ini berarti gue resmi menjadi bagian dari warga dunia korban globalisasi hahaha..

Kelokan sungai dan atap rumah yang agak beragam warnanya, "Kalimantan banget"

Lebih berharganya lagi, ketika disini gue menembus batas lain. Ini jadi rekor perjalanan terjauh seumur hidup, sebelumnya paling jauh cuma ke Kota Pagaralam dan Kediri. Penerbangan ini juga menghantarkan gue menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Kalimantan, menjadi pulau ketiga yang pernah gue kunjungi seumur hidup. Jadi anak bapak-ibu urutan kedua yang pernah naik pesawat dan pertama yang pernah sampai Kalimantan. Ah alangkah banyak rekor-rekor lebay gara-gara penerbangan ini._.

ulu, seberang, mahakam, tongkang, jembatan, tepian, bumi etam. Samarinda!

Pengalaman pertama pastinya jadi pembuka pengalaman selanjutnya. Peristiwa hari ini bisa saja sesederhana perjalanan 1,5 jam Jogja-Balikpapan. Tapi ini jalan pembuka buat gue untuk memperluas pergaulan nyata, dari yang dulunya sekedar lingkup DI Yogyakarta, lingkup Kota Bandar Lampung, tapi sekarang mulai merambah lingkup nasional. Nggak mustahil ini jadi pintu masuk perjalanan perlahan menuju pergaulan dunia. Yang sepele bisa banget jadi begitu berarti ;)

*) Ditulis dari atas Laut Jawa sampai masuk ke wilayah udara Pulau Kalimantan, 11-11-2016

3 komentar: