Namamu, Hidupmu

10/05/2016 1 Comments

Salah satu yang paling menonjol dalam hidup adalah nama. Manusia lahir diberikan nama. Nama bukan sekedar "kode" yang membuat penyebutan manusia gampang, nggak harus menyebut serumit "kamu yang baju biru rambut ikal" atau "kamu yang tingginya 167 cm, rumahnya di Banjarmasin, anaknya juragan beras terbesar di Banjarmasin". Nama nggak sekedar alat untuk mempermudah penyebutan.


Entah darimana asal-usul pemberian namanya, yang jelas nama merupakan sebuah harapan. Nama yang diberikan merupakan harapan dari pemberi nama. Nama yang diberikan bagaimanapun memiliki arti yang mendalam, sesederhana apapun nama yang ada. Yang jelas, nama menjadi identitas yang dimiliki setiap orang, melekat dari lahir hingga mati. Menjadi deskripsi tersingkat dan terpadat untuk menjelaskan seseorang.

Kalau ada yang bilang "hakikat manusia adalah pemikiran dan perjuangan" dan lain-lain yang serupa, sebenarnya semua mengabaikan bahwa manusia harus memiliki nama. Misal nih, Thomas Alfa Edison sang penemu bola lampu nggak punya nama, dia bakal disebut sebagai Anonim atau Mr. X. Dengan kata lain dia sama dengan jenazah yang ditemukan mengapung di lautan tanpa identitas. Tapi ternyata dia punya nama, dia bisa dikenal dan terus disebut-sebut hingga saat ini.


Nama itu harapan. Coba dibayangkan, berapa kali nama kita disebut sejak lahir. Mulai dari orangtua kita menyebut nama kita. Pertama kalinya kita nggak malu-malu menyebut nama. Pertama kalinya kita sekolah, bertemu teman-teman yang mengharuskan kita memperkenalkan diri. Memperkenalkan diri di depan juri ketika lomba. Memperkenalkan diri bertanya kepada professor. Nggak mungkin ratusan, entah ribuan-jutaan-miliaran atau bahkan triliunan kali nama seseorang disebut selama hidupnya. Sebanyak itulah harapan dan doa yang berada dalam namanya disebutkan oleh orang-orang. Itulah kenapa, nama kerap kali sesuai dengan karakter orangnya.

Nama menjadi identitas. Nama menjadi harapan. Nama menjadi doa. Coba nama yang sejauh ini jadi identitasmu dicermati lebih dalam lagi. Tanya ke pemberi nama, apa arti nama kamu dan apa harapan yang diberikan ke kamu bersamaan dengan nama kamu. Mau nggak mau, itulah jalan hidupmu, karena itulah harapan dan doa yang selalu disebutkan ratusan, ribuan, jutaan, atau miliaran orang yang mengenal kamu. Oke kalau doa satu orang kita nggak bisa jamin itu dikabulkan Allah. Tapi kalau doanya berlipat-ganda? Pasti peluang dikabulkannya juga berlipat ganda. Begitu kuatnya peran nama.


Nama gue Nabhan Mudrik Alyaum. Diambil dari bahasa arab yang berarti "Mulia karena Mampu Memahami Zamannya". Itu berarti, gue diharapkan bisa jadi mulia, diakui, dihormati keberadaannya. Tapi nggak sembarangan, alasan gue bisa mulia adalah dengan memahami zaman; jalan yang harus dilalui adalah dengan memahami era, lingkungan, manusia, dan dunia sekitar dimanapun gue hidup. Mulai memahami dimanapun, kapanpun, situasi seperti apapun.

Dan memang, seakan cocok dengan nama gue, gue sering merasakan cenderung mudah paham dan beradaptasi dimanapun dan di posisi apapun gue berada. Di situlah gue mulai merangkai jalan menjadi manusia yang mulia.

aku Nabhan, kamu?

1 komentar: